Ketika Tuhan Terasa Diam

Ketika Tuhan Terasa Diam

Sabtu, 9 Mei

Lukas 23:44–46

23:44 Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, 23:45 sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. 23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. 23:47 Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!” 23:48 Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. 23:49 Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, melalui Lukas 23:44–46 kita diajak masuk ke dalam sebuah peristiwa yang sangat kelam sekaligus penuh makna. Pada saat itu kira-kira pukul dua belas siang, waktu di mana seharusnya terang menyinari bumi. Namun yang terjadi justru sebaliknya: kegelapan menyelimuti seluruh daerah itu hingga pukul tiga. Di tengah suasana yang mencekam itu, Yesus Kristus tergantung di kayu salib, menanggung penderitaan yang begitu dalam, baik secara fisik maupun batin.

Saudara-saudari, yang membuat momen ini semakin berat adalah seolah-olah tidak ada respon dari surga. Tidak ada suara, tidak ada pertolongan, tidak ada intervensi. Tuhan tampak diam. Bagi manusia, ini membingungkan. Bukankah Yesus adalah Anak Allah? Mengapa Bapa tidak bertindak? Mengapa Ia seakan membiarkan semua ini terjadi? Justru di tengah apa yang tampak sebagai “keheningan” itu, karya terbesar sedang berlangsung. Tabir Bait Suci terbelah dua, menandakan bahwa penghalang antara manusia dengan Allah kini telah disingkirkan. Jalan keselamatan dibukakan. Apa yang terlihat seperti kekalahan, ternyata adalah kemenangan. Apa yang tampak sebagai diamnya Tuhan, justru adalah bagian dari rencana-Nya yang sempurna.

Di saat-saat terakhir-Nya, Yesus berseru, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Ini bukan seruan keputusasaan, melainkan sebuah penyerahan total. Dalam situasi yang gelap dan sunyi, Yesus tetap percaya kepada Bapa. Ia tidak kehilangan iman, sekalipun keadaan di sekeliling-Nya tampak tanpa harapan.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih, sering kali dalam kehidupan kita pun mengalami hal yang serupa. Kita berdoa, tetapi seolah tidak ada jawaban. Kita menanti, tetapi tidak ada perubahan. Kita berharap, tetapi Tuhan terasa jauh, bahkan diam. Namun melalui firman Tuhan ini, kita diingatkan bahwa diamnya Tuhan bukan berarti Ia tidak hadir. Keheningan-Nya bukan berarti Ia berhenti bekerja.

Justru di saat-saat seperti itu, Tuhan sering sedang mengerjakan sesuatu yang lebih besar dari apa yang kita pahami. Ia sedang membentuk iman kita, memperdalam kepercayaan kita, dan menggenapi rencana-Nya dengan cara yang sering kali melampaui pengertian kita. Tuhan tidak hanya mencari iman ketika segala sesuatu jelas, tetapi iman yang tetap bertahan ketika segala sesuatu terasa gelap. Terkadang, ketika Tuhan terasa diam, jangan cepat menyerah begitu saja. Tetaplah percaya. Sebab di balik keheningan itu, Tuhan tetap bekerja. Ia tidak pernah meninggalkan, Ia tidak pernah lalai, dan Ia tidak pernah berhenti menggenapi rencanaNya dalam hidup kita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact

Email : sekberbmgj@gmail.com

Kantor Sekretariat Bersama @sinode GKJ
(0298) 326684

© 2022 Created by SekberBMGJ

This website uses cookies to provide you with the best browsing experience.

Accept
Decline