Kamis, 21 Mei
1 Koritus 9:16
9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. 9:17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. 9:18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.
Saudara-saudari yang diberkati Tuhan,
Ketika kita dipanggil untuk melayani Tuhan, apa yang terlintas di dalam benak kita? Sukacita atau penderitaan? Hal ini jugalah yang dirasakan oleh Paulus. Baginya, panggilan untuk memberitakan Injil bukan sekadar panggilan yang biasa saja. Paulus menunjuk pada rasa sedih yang dalam, yang timbul dalam dirinya oleh kekuatan yang mendesak dari panggilan untuk memberitakan injil.
“..celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”. Paulus menyadari bahwa hidupnya bukan lagi milik dirinya sendiri, hidupnya milik Allah. Ada amanat yang harus disampaikan, ada kabar baik yang tidak boleh disimpan sendiri. Karena itu, satu-satunya alasan dalam kehidupan Paulus adalah memberitakan Injil. Dia menyambut kepedihan, kekecewaan, dan penderitaan untuk satu alasan, yaitu pengapdiannya kepada Injil Yesus Kristus.
Panggilan untuk memberitakan Injil, haruslah dilakukan dengan penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Setiap kita yang dipanggil untuk memberitakan Injil, harus menanggalkan ambisi, keegoisan, kecongkakan, dan hasrat duniawi kita. Panggilan memberitakan Injil berarti siap merendahkan diri dan mengalami penderitaan. Hal inilah yang seringkali membuat kita merasa takut menjalani “panggilan Tuhan” untuk memberitakan Injil. Kita takut ditolak, takut dianggap aneh, takut salah, bahkan takut mati.
Karena itulah, Paulus mengingatkan kita, bahwa orang yang dipanggil untuk memberitakan Injil harus memiliki komitmen untuk hidup dengan tujuan menjadi terang dan taat pada panggilan Tuhan. Sama seperti Paulus yang tetap taat menjalani panggilannya, sekalipun banyak tantangan, penolakan, bahkan penderitaan yang dialami. Namun, semua itu tidak menghentikan niatnya untuk memberitakan Injil.
Injil yang diberitakan tidak harus berdiri di mimbar dengan kata-kata yang indah, tetapi dengan tindakan nyata yang mencerminkan kasih Kristus. Orang mungkin tidak selalu mendengar apa yang kita katakan, tetapi mereka bisa melihat bagaimana cara hidup kita. Hidup yang mencerminkan kasih, hidup yang menjadi pembawa damai, hidup yang menunjukkan pengampunan.
Waspadalah terhadap penolakan untuk mendengar panggilan Allah. Setiap kita yang sudah diselamatkan dipanggil untuk bersaksi bukan hanya melalui kata, tetapi melalui perbuatan. Itulah panggilan kita sebagai orang percaya. Amin!
