Rabu, 23 September
Hukum yang terutama
Matius 22:34-40
————————————————————————————————————————–
Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan lagu yang syairnya seperti ini: “Dengan apa kan ku balas segala kebaikan- Mu, dan seterusnya.” Pertanyaan yang terbesit dalam pikiran penulis adalah, bisakah kita membalas kebaikan Tuhan? Lalu penulis bertanya kepada seorang pendeta. Dia jawab begini; dua hukum kasih yang tertulis di dalam kitab suci adalah: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.”
Pada dasarnya kita sebagai manusia perlu menyadari betapa lemahnya kita, betapa kecilnya kita. Sehingga tidaklah mungkin kita membalas kebaikan Tuhan. Oleh sebab itu hukum kasih justru mengajarkan kepada kita bukan untuk membalas kebaikan Tuhan tetapi kita diajarkan untuk mengasihi Dia. Bayangkan jika kita diajarkan untuk membalas kebaikan Tuhan, pengampunan Tuhan, berkat Tuhan, anugerah Tuhan yang luar biasa ini kita balas dengan cara apa? Itu tidak mungkin. Tetapi perhatikan dalam hukum kasih, kita diajarkan untuk mengasihi. Mengasihi dengan segala yang kita bisa melakukan yaitu segenap hati, jiwa, dan akal Budi kita.
Karena pada dasarnya yang kita miliki hanya sebatas itu. Berserah kepada Tuhan, apa yang Tuhan kehendaki kita serahkan. Ketika kita sebagai anak Tuhan, kita dipanggil untuk melayani baik di gereja, sebagai pemimpin, seorang majelis, kaum muda, singer di gereja atau mungkin dalam hal sosial. Semua itu kita jalankan sebagai cara kita mengasihi Tuhan. Persembahan kita kepada Tuhan adalah sebagai cara kita mengasihi Tuhan. Sehingga kita seharusnya jangan sampai berpikir bahwa aku melayani Tuhan atau memberi persembahan dengan harapan bahwa tuhan akan mengembalikan berkali lipat, tidak. Tetapi itu semua adalah cara kita mengasihi Tuhan. Selain itu pada bagian kedua kita melihat selain pelayanan kita dalam kerohanian, kita pun diajarkan untuk, mengasihi sesama kita manusia seperti diri kita. Kita sudah diberkati Tuhan, kita juga harus mengasihi diri kita, sebagai cara kita merawat apa yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita, dan kita pun harus mengasihi sesama kita, seperti kita mengasihi diri kita
Dua hukum kasih; ya dua hukum yang senantiasa kita dengar dikala kita kebaktian. Merupakan jawaban atas pertanyaan dari seorang ahli Taurat kepada Yesus Kristus, yang pada awalnya bertujuan untuk mencobai Tuhan. Tetapi jika kita perhatikan justru, ini bukan sekadar jawaban melainkan sebuah tamparan keras dari Tuhan. Dia adalah ahli Taurat tetapi seolah lupa dengan dua hukum yang disampaikan oleh Tuhan.
Dua hukum Taurat ini merupakan, kesimpulan dari seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Bagi kita di masa kini. Hukum kasih merupakan sebuah perintah yang harus diingat bahwa, kita dipanggil untuk mengasihi Tuhan dan manusia.
Maka dari itu kita melalui dua hukum kasih yang senantiasa kita dengar dikala kita kebaktian kita menjadi tetap ingat bahwa panggilan kita adalah mengasihi Tuhan dan manusia sesama kita. Cevin
