Dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-49, Sekber BMGJ melaksanakan program Tukar Pelayanan HUT BMGJ. Program ini dilaksanakan dengan tujuan supaya semakin banyak gereja anggota dapat mengenal lebih dekat siapa BMGJ. Dalam pelaksanaan program tersebut, masing – masing sinode anggota BMGJ mengirim atau mengutus 15 pendeta dan 15 gereja untuk saling bertukar pelayanan. Kegiatan Tukar Pelayanan HUT BMGJ tahun 2025 dilaksanakan dua kali secara bergantian yakni pada tanggal 16 November dan 23 November 2025. Selain itu, dalam ibadah HUT yang dilaksanakan di tiap – tiap gereja, juga dihimbau adanya persembahan khusus untuk HUT BMGJ. Berikut beberapa dokumentasi kegiatan Tukar Pelayanan HUT BMGJ.
Ketamakan Membawa Maut
Bacaan : Lukas 12 : 15 “kataNya lagi kepada mereka : “Berjaga – jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah – limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Di tayangan pendek Instagram / tiktok diceritakan ada seseorang yang memiliki kertas ajaib yang berlubang. Melalui kertas itu dia bisa mengambil barang apapun tanpa membuka kunci. Saat ia ingin Es Krim di kulkas, tinggal memasukan tangannya di lubang kertas itu maka pintu kulkas bisa ditembus. Dalam kesehariannya banyak hal yang dilakukan dengan menggunakan kertas itu. Suatu ketika dia ingin mengambil uang ATM, tanpa menggunakan kartu dia bisa ambil dengan kertas ajaib itu. Tidak puas dengan itu dia ingin ambil uang di brankas yang jumlahnya banyak, lalu ditempelkanlah kertas yang berlubang itu. Dengan tangannya dia ambil uang satu persatu, dalam hatinya terlalu lama kalau satu-satu lalu ia masuk dalam brankas melalui lubang kertas itu. Tanpa diduga saat orang tersebut dalam brankas kertas itu lepas dari brankas dan orang itu akhirnya terkunci di brankas itu. Melalui Lukas 12:15 ini mengisahkan ajaran Tuhan Yesus terhadap kekayaan. Tuhan Yesus memberi nasehat, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Tuhan Yesus memberikan cara pandang yang benar terhadap harta kekayaan. Harta kekayaan seharusnya sebagai sarana untuk mengabdi kepada Tuhan dan mencintai sesama. Melalui bacaaan ini mengingatkan kita untuk bijak terhadap harta kekayaan. Jangan sampai pada akhirnya kita menjadi rakus dan akhirnya diperbudak oleh harta kekayaan hingga kita sendiri celaka Manusia harus hati-hati terhadap sikap tamak, karena ketamakan adalah hal yang membahayakan. Sebab akan menyebabkan dosa-dosa yang lain, bisa jadi akan mencelakan kita. seperti ilustrasi di atas dan para koruptor akhirnya harus berurusan dengan hukum. Bekerja keras boleh, semangat kerja harus tetapi bersyukur tidak boleh kita lupakan. Ingat saat kita mati harta tidak akan kita bawa.
B E R S U K A C I T A L A H !
bacaan : Filipi 4 : 4 – 9 “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan ! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! “(Filipi 4 : 4) Ada seorang anak yang tinggal di desa yang sangat jauh dari perkotaan, yang susah sinyal dan jarang dilalui transportasi umum. Anak itu memiliki seorang teman yang tinggal di pusat kota. Dengan kondisinya saat itu, satu-satunya hal yang membuatnya tersenyum lebar adalah pesan dari temannya itu. Kondisinya tidak kekurangan tapi tidak bisa juga dibilang berkecukupan. Bukan karena orang tuanya tidak bekerja, hanya saja pemasukan keluarga itu hanya dari satu sumber, ayahnya. Sedangkan di dalam rumah itu, ada 5 kepala yang harus dihidupi. Gawai yang dia pakai saat ini pun adalah gawai bekas milik temannya itu. Suatu ketika, sekolah mengadakan lokakarya di pusat kota, betapa senangnya dia mendengar kabar itu. Sudah terbayang olehnya kalau dia bisa bertemu dengan temannya. Setibanya di rumah, dengan hati yang berseri-seri dia berniat memberitahu ibu dan ayahnya tentang lokakarya sekolah itu. Belum sempat dia bercerita, sang ayah sudah terlebih dahulu mengajaknya berbicara, dan ternyata sang ayah ingin dia mengalah untuk sekian kalinya, karena uang bulanan sekolah yang harusnya dibayarkan sebagai syarat mengikuti semua kegiatan di sekolah, bulan ini harus dikorbankan untuk membiayai adiknya yang juga baru masuk sekolah. Ia mengurungkan niatnya untuk menyampaikan pada ayahnya terkait lokakarya itu, dia pergi keluar rumah, duduk di bawah pohon di samping rumah, sambil merenung, katanya “ah tidak apa-apa juga aku tidak ikut. Toh aku masih bisa berkirim pesan dengan temanku. Kalau lokakaryanya? Hmm tak masalah juga, aku masih bisa mendengar cerita dari teman-temanku yang lain”. Dengan hati yang tetap bersukacita, dia berniat mengirim pesan dan bercerita pada temannya. Tiba-tiba ponselnya berdering kencang, terlihat nama temannya di layar, segera dia mengangkat telepon itu, dan temannya berkata akan mengunjunginya akhir pekan ini, hari saat lokakarya sekolah diadakan. Semakin bersukacitalah dia “syukurlah aku tidak bisa ikut lokakarya itu kan!”. Bersukacita dalam segala hal, meski berat, tapi dengan hati yang penuh sukacita dan iman kita yang besar kepada Tuhan, senantiasa percaya akan janji Tuhan, apapun itu, jika kita terima dengan sukacita, pasti tidak sepenuhnya mengecewakan. —————————————————AMIN——————————————————–
NGANDEL
Waosan : Markus 10: 46-52 | Pamuji : KPJ 106 “…Pangandelmu wus mitulungi kowe!…” (ayat 52b) Ayat nats dinten punika dados ayat landhesan ing salah setunggaling RS ing GKJW, inggih punika RS Kristen Mojowarno. Ingkang menarik, wonten riwayat kang njalari ayat punika dipun agem. Kacariosaken ing jaman saderengipun Indonesia mardika, RS Kristen Mojowarno punika satunggaling antawisipun sekedhik RS ing Jawi Wetan lan misuwur saged nyarasaken maneka warni sesakit. Ing salah sawijining dinten wonten tiyang saking papan tebih priksa lan nyuwun jampi. Jaman semanten sekedhik sanget tiyang ingkang saget maos lan nulis, ugi tasih kathah ingkang pitados dateng perkawis ‘mistis’. Sasampunipun tiyang kala wau dipun priksa dening dokter, lajeng dipun paringi resep. Awit dereng nate priksa dateng dokter, biasanipun dateng dukun, sasampunipun pasien kala wau nampi resep, piyambakipun age-age wangsul. Kertas resep kala wau dipun obong lajeng diunjuk. Ingkang ndandosaken nggumun, dene pasien kala wau saras. Sanadyan salah paham, nanging srana pangandel, Gusti paring kesarasan. Srana carios ing inggil kula mboten ngajak kita nindakaken kados ingkang katindakaken dening pasien kala wau, piyambakipun nggih mboten kanthi sengaja ‘nyalah’, nanging winates ing pangertosan, sanadyan mekaten Gusti mboten negakaken. Menawi Panjenenganipun kersa akarya, mboten wonten ingkang mokal. Lan pangandel, dados lantaran pakaryaning Gusti saged mawujud nyata. Kamangka, ngandel dateng Gusti sanes perkawis ingkang gampil, langkung-langkung nalika kasunyataning gesang mboten sami kaliyan punapa ingkang kita ajeng-ajeng. Nanging mangga kita ngupadi, sampun ngantos kita kecalan pangandel kita dumateng Gusti. Awit pangandel punika kang mitulungi kita supados tansah saged nilingaken sedaya pakaryaning Gusti ing gesang kita. Kados dene seratan ing Kidung Pasamuwan Jawi : Amung kumandel iku, uwiting karosankuAmung kumandel iki, etuking kraharjanku Namung srana kumandel dateng Gusti, kita saged ngraosaken pakaryanipun. AMIN ——————————
FOKUS (renungan mingguan)
Bacaan : Matius 25 : 14 – 30 “Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta Tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan Tuan!“ Matius 25:25 (PBTB2) Suatu ketika dua orang pencari rumput memulai mencari rumput ditempat yang berdekatan. Pencari rumput pertama memulai menyabit rumput yang ada di depannya, sekitar 1/2 jam kemudian pencari rumput itu berdiri, ternyata sudah sekitar 10 meter pencari rumput ini berada di depan dari dia memulai mencari rumput. Kemudian dimasukkanlah rumput itu ke tempat yang dia bawa. Pencari rumput ini mencari temannya, yaitu pencari rumput kedua, ternyata pencari rumput ke dua ini belum mendapatkan rumput sebanyak pencari pertama. Ketika ditanya ternyata pencari rumput ke dua ini tidak fokus mencari yang di depannya tetapi matanya memandang hamparan tempat dia mencari rumput dan pindah-pindah. Hingga akhirnya waktunya habis dia gunakan untuk melihat hijaunya rumput yang terlihat lebih segar dari yang di depannya. Pada akhirnya malah tidak mendapatkan rumput secara maksimal. Matius 25:14-30 mengisahkan seorang majikan pergi ke luar negeri dan mempercayakan harta kekayaannya kepada tiga orang hambanya. Ia memberikan kepada hamba masing-masing hamba pertama lima talenta, kepada hamba ke-2 dua talenta, dan kepada hamba ke-3 satu talenta. Hamba pertama menggunakan lima talenta untuk berdagang dan menghasilkan lima talenta lagi. Hamba ke-2 menggunakan dua talenta untuk berdagang dan menghasilkan dua talenta lagi. Hamba ke-3 hanya mengubur talenta yang ia miliki. Usut punya usut ternyata alasan dari hamba ke tiga ini adalah tidak terima! karena dia hanya mendapatkan satu talenta. Lalu majikan marah, sebab majikan menganggap hamba ini tidak bertanggungjawab terhadap apa yang telah diberikan dan yang telah disepakati. Bacaan ini mengajak kita untuk kita fokus dengan apa yang ada di depan kita dan yang telah dipercayakan ke kita. Sebab apabila kita melihat orang lain, justru kita tidak ada gairah untuk menjalani hidup dan pada akhirnya tidak ada apapun yang kita hasilkan. Semoga kita bisa fokus terhadap ada yang dipercayakan ke kita. AMIN. ——————————————
K U L I N A (Renungan Mingguan)
Waosan : Pangandharing Toret 6: 4-9 | Pamuji : KPJ 379 “Padha wulangna marang anak-anakmu, karembuga manawa lagi padha lungguhan ana ing omahmu, manawa mbeneri lumaku ana ing dalan, manawa lagi turon lan manawa tangi;” (Ayat 7) Jaman samangke mboten sekedhik tiyang ingkang mastani bilih anak-anak lan nem-neman ‘ora pati Jawa’, mboten mangertos unggah-ungguh, lan bilih kagayutaken kaliyan gereja, lare-lare punika dipun pirsani kirang semangat anggenipun ngabekti ugi nglampahi kegiatan-kegiatan ing greja. Lajeng kita pados ‘kambing hitam’, kang dipun dadosaken jalaran kawontenan kados mekaten. Nanging kita supe ngilo githoke dhewe. Pancen langkung sekeca nglepataken ngasanes nanging nalika kita namung madosi alasan/ jalaranipun, mesti mboten wonten owah-owahan. Menawi Bahasa Jawa Timuran dipun wastani: pancet! Kamangka ing salebeting pergumulan sae ing brayat, greja, ugi masyarakat maliginipun kang gegayutan kaliyan anak-anak, sanes tanggeljawabipun tiyang setunggal kemawon. Kita kedah introspeksi lan ngrumaosi bilih peladosan tumrap anak-anak punika dados timbalan kita sedaya. Nggih tiyang sepuh, nggih guru, nggih katekit, ugi sedaya warganing pasamuwan. Srana waosan ing dinten punika, Gusti Allah ngatag kita sami supados saged mucal anak-anak, kawiwitan saking dhiri kita piyambak-piyambak. Punapa ingkang kita tedahaken saha kados pundi kita ngupadi supados anak-anak saged mangertos. Contonipun, nalika wonten ingkang ngendikan “bocah sak ini gak ngerti tata krama, ga isa basa krama!” Lha kados pundi anggen kita apirembag, punapa kita paring patuladhan ugi ndadosaken anak-anak kita kulina langkung-langkung tresna kaliyan Basa Jawi? Mekaten ugi menawi dinten minggu kita mirsani lare-lare malah remen ningali TV utawi dolan tinimbang ngabekti dateng greja, mangga kita mboten namung nglepataken lare-lare kala wau nanging nggatosaken kados pundi patuladhan kang kita tedahaken. Mboten namung anggen kita tindak greja, nanging kados pundi kawontenan – tandang, tanduk, lan tembung kita nalika badhe tindak, saweng ing greja, ugi nalika mantuk saking greja. Punika paseksi nyata ing sangajengipun anak-anak. Mangga kita sesarengan mbangun lingkungan ingkang ndandosaken anak-anak kulina sae – pangucap lan tumindak kang nyondhongi karsanipun Gusti. Srana tansah paring patulandhan lumantar sedaya kawontenan kita. Matemah kanthi suka bingah putra wayah kita saget ngidung “Lah Aku Bocah Rahayu”. AMIN. ———————

