Menuju Sidang Raya BMGJ Tahun 2025

Menuju Sidang Raya BMGJ Tahun 2025

Sidang Badan Musyawarah Gereja-Gereja di Jawa (BMGJ)

Salatiga, 24–25 November 2025
Sinode GKJ sebagai Sinode Penghimpun

Latar Belakang

Badan Musyawarah Gereja-Gereja di Jawa (BMGJ) adalah persekutuan gereja-gereja yang didirikan di Salatiga pada 7 November 1976 oleh beberapa Sinode di Jawa. BMGJ hadir sebagai wujud nyata dari keesaan gereja, dengan tujuan meningkatkan hubungan dan kerjasama antar-gereja dalam konteks Jawa, serta memantapkan persekutuan, pelayanan, dan kesaksian bersama yang ekumenis.

Ekumene pada hakikatnya adalah wujud nyata gereja sebagai satu tubuh Kristus. Walau demikian, perjalanan sejarah menunjukkan bahwa berbagai tantangan dan situasi telah melahirkan keberagaman gereja, dengan corak teologi, tata ibadah, dan praktik yang beraneka ragam. Gereja-gereja itu bertumbuh, berakar, dan bergerak dalam konteksnya masing-masing. Namun, di balik perbedaan itu ada titik-titik persinggungan yang membuat kita tetap terhubung, sebagaimana diungkapkan Paulus: satu tubuh memiliki banyak anggota.

BMGJ sebagai persekutuan gereja-gereja dengan akar budaya Jawa, kini semakin menyadari bahwa di ruang kehidupan yang sama juga hadir saudara-saudara kita dari berbagai gereja di bumi Jawa. Walaupun setiap gereja dan sinode memiliki ciri khas masing-masing, ada kesamaan konteks yang mempertemukan kita, yakni tempat di mana kita berkarya. Karena itu, semangat ekumene dan kesatuan tubuh Kristus perlu terus digelorakan. Hal ini bukan saja untuk menjawab pergumulan internal gereja (ecclesia domestica), tetapi juga untuk bersama-sama menampilkan kehadiran tubuh Kristus yang mampu merespons persoalan di Pulau Jawa, bangsa Indonesia, maupun isu-isu global.

Seiring perjalanan waktu, BMGJ menjadi wadah dialog, kerjasama pelayanan, serta penguatan identitas gereja-gereja di Jawa dalam konteks masyarakat yang majemuk. Pada Sidang Raya BMGJ tahun 2025 ini, kita memasuki babak baru dengan semangat identitas gereja di Jawa dan ‘ecumenical in action’ sebagai panggilan bersama untuk menghadirkan kesaksian Kristus di tengah dunia.

Tema

“Tunggal bumi, ati lan kardi!”
Tema “Tunggal bumi, ati lan kardi!” jika diterjemahkan secara bebas berarti: satu bumi, satu hati, dan satu tekad. Tema ini dipilih sebagai dasar refleksi teologis dan arah gerak Sidang Raya BMGJ 2025 dalam konteks ekumene dan kebersamaan gereja-gereja di Jawa.

  1. Tunggal Bumi
    Ungkapan ini mengingatkan bahwa seluruh umat manusia hidup di dalam satu bumi yang sama. Pulau Jawa adalah tanah di mana gereja-gereja anggota BMGJ berakar dan bertumbuh. Walaupun berbeda tradisi dan sinode, kita dipanggil untuk menyadari kesatuan ruang hidup yang sama—Satu Bumi Tanah Jawi. Kesadaran ini menjadi landasan untuk merawat bumi, menjaga kehidupan bersama, dan mengusahakan damai sejahtera bagi masyarakat.
  2. Ati
    Hati melambangkan kasih, kepedulian, dan keikhlasan. Dalam konteks Sidang Raya, ati berarti membangun persekutuan yang dilandasi oleh cinta kasih Kristus, yang melampaui sekat perbedaan. Hati yang menyatu akan memampukan gereja-gereja untuk saling menopang, menghibur, dan menguatkan dalam menghadapi tantangan zaman.
  3. Kardi
    Kardi menunjuk pada komitmen, tekad, dan keberanian untuk berkarya. Bukan hanya menyadari kesatuan bumi dan hati, tetapi juga meneguhkan langkah bersama dalam tindakan nyata (ecumenical in action). Tekad ini diwujudkan dalam kerja sama pelayanan, kesaksian, dan aksi sosial gereja-gereja di Tanah Jawa bagi masyarakat, bangsa, bahkan dunia.

Maskot

Makna Filosofis Maskot Burung Gereja (Pipit/Pingai)

Makhluk Kawanan, Bukan Individual
Burung gereja atau pipit kecil dikenal hidup berkelompok, jarang terlihat sendirian. Filosofinya, hidup manusia—terlebih gereja—sejatinya berakar dalam kebersamaan. Identitas kita tidak ditemukan dalam kesendirian, melainkan dalam persekutuan.

Kesederhanaan yang Bermakna
Burung gereja bukan burung yang megah, eksotis, atau menonjol. Ia sederhana, kecil, bahkan kerap dianggap biasa saja. Namun, justru dari kesederhanaannya lahir makna: Allah memakai yang kecil dan sederhana untuk menghadirkan damai, kehidupan, dan sukacita.

Kekuatan dalam Komunitas
Satu ekor pipit tampak lemah, namun kawanan pipit mampu bertahan, mencari makan, bermigrasi, dan menghadapi ancaman. Dalam konteks gereja, hal ini melambangkan bahwa kekuatan pelayanan dan kesaksian lahir dari kebersamaan, bukan dari kemampuan individu semata.

Keselarasan dan Gotong Royong
Kawanan burung gereja terbang dengan keteraturan, saling mengikuti arah, tidak berbenturan, dan seolah dipandu oleh satu irama. Inilah simbol harmoni: ketika ada kerendahan hati dan saling mengalah, maka perbedaan berubah menjadi keindahan gerak bersama.

Simbol Pemeliharaan Allah
Dalam Alkitab (Mat. 10:29; Mat. 6:26), Yesus mengingatkan bahwa burung pipit yang kecil sekalipun dipelihara Allah. Tanpa menabur atau menuai, mereka tetap diberi makan. Maknanya: persekutuan yang sederhana ini tidak hidup dari kekuatan sendiri, melainkan dari pemeliharaan kasih Allah.

Ekumene sebagai Kawanan Rohani
Sebagaimana burung gereja hidup berkelompok, maskot ini menjadi gambaran ekumene: gereja-gereja dengan berbagai warna teologi dan tradisi dipanggil untuk hidup dalam kawanan tubuh Kristus. Hanya dengan kebersamaan, kesaksian Injil dapat bergema lebih kuat dan memberi pengaruh nyata.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact

Email : sekberbmgj@gmail.com

Kantor Sekretariat Bersama @sinode GKJ
(0298) 326684

© 2022 Created by SekberBMGJ

This website uses cookies to provide you with the best browsing experience.

Accept
Decline