Senin, 16 Maret 2026
Bacaan : Yesaya 59 : 9 – 19 | Pujian : KJ. 36
–
“Ia melihat bahwa tidak seorang pun yang tampil, dan Ia tertegun karena tidak ada yang membela. Maka tangan-Nya sendirilah yang menolong Dia, dan keadilan-Nyalah yang menopang Dia.” (Ayat 16)
HIDUP YANG DIPULIHKAN
Terdapat kalimat filsuf yang berkata demikian, “Kebenaran adalah cahaya dan hati manusia adalah cermin. Bila cermin itu ternoda, maka terang tak akan nampak.” Seperti cermin besar yang berada dalam rumah. Selama cermin itu bersih, maka cahaya dari luar akan memantul dan menerangi ruangan. Tetapi apabila cermin itu berdebu, penuh dengan goresan atau retak, maka terang tak akan lagi tampak. Hal itu terjadi bukan karena terang yang hilang, tetapi karena cermin tak lagi sanggup memantulkan cahaya terang itu.
Yesaya 59 menggambarkan kondisi Bangsa Israel yang sedang berada dalam kegelapan akibat dosa mereka sendiri. Mereka merasakan bahwa kebenaran dan keadilan seakan telah jauh dari kehidupan mereka. Mereka mengakui bahwa “Kami menantikan terang, tetapi hanya ada kegelapan.” (Ay. 9). Kehidupan ini mencerminkan betapa dalamnya kerusakan yang terjadi karena dosa. Dampaknya tidak hanya terjadi dalam hubungan mereka pribadi dengan Tuhan, tetapi juga dalam tatanan sosial dan spiritualitas iman mereka. Di tengah ratapan dan keputusasaan inilah Yesaya menyatakan terang Allah, bahwa Ia sendiri yang turun tangan untuk memulihkan umat-Nya (Ay. 16). Dari hal inilah kita dapat mengetahui bahwa kasih karunia dan anugerah Allah bekerja melalui pertobatan dan membuka jalan pemulihan.
Pertobatan sejati bukan hanya terbatas pada mengakui dosa, tetapi juga menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan membuka hati untuk dipulihkan. Masa pra paskah adalah saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan kembali makna kasih dan pengurbanan Tuhan Yesus bagi hidup kita. Oleh darah-Nya yang tercurah di Golgota, relasi kita dengan Allah dipulihkan. Mari kita berseru seperti bangsa Israel: “Kami telah berdosa”, lalu kita kembali kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan rindu untuk mendapat pemulihan dari-Nya. Sebab ketika kita bertobat, maka kita tidak hanya memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan Allah saja, tetapi juga memulihkan “Rumah Tuhan” dalam wujud keluarga dan persekutuan di gereja maupun masyarakat. Tuhan Yesus memampukan kita. Amin. [Hy].
“Dosa memisahkan, tetapi kasih Tuhan memulihkan.”
