Mengampuni Tanpa Batas

Mengampuni Tanpa Batas

Sabtu, 2 Mei

( Matius 18:21-35 )

Renungan hari ini mengajak kita menyelami samudera pengampunan melalui percakapan antara Petrus dan Yesus. Petrus, yang mungkin merasa sudah sangat murah hati, bertanya apakah mengampuni tujuh kali sudah cukup. Namun, jawaban Yesus meruntuhkan batasan angka tersebut dengan menyebut “tujuh puluh kali tujuh kali,” yang secara simbolis berarti pengampunan tanpa batas. Melalui perumpamaan tentang hamba yang berutang sepuluh ribu talenta, Yesus memperlihatkan kontras yang tajam antara kasih karunia Allah yang tak terukur dengan kekerdilan hati manusia.

Bayangkan seorang hamba yang utangnya setara dengan ribuan tahun upah kerja, sebuah jumlah yang mustahil untuk dilunasi seumur hidup. Ketika raja dalam perumpamaan itu menghapuskan seluruh utang tersebut hanya karena belas kasihan, hamba itu menerima kemerdekaan yang luar biasa. Namun, ironisnya, hamba yang sama justru mencekik sesamanya hanya karena utang yang sangat kecil. Ia lupa bahwa dirinya baru saja diselamatkan dari kehancuran total oleh kemurahan hati tuannya. Ketidakmampuannya untuk menyalurkan pengampunan yang telah ia terima menjadi bukti bahwa ia belum benar-benar menghargai besarnya anugerah yang diberikan kepadanya.

Kisah ini menjadi cermin bagi kehidupan kita sehari-hari. Sering kali kita merasa sulit melepaskan pengampunan karena kita terlalu fokus pada luka yang ditimbulkan orang lain kepada kita, namun lupa pada “utang dosa” kita sendiri yang telah ditebus sepenuhnya oleh Kristus di kayu salib. Pengampunan sejati bukan sekadar tindakan moral, melainkan respons alami dari hati yang menyadari betapa besarnya ampunan yang telah Tuhan berikan bagi kita. Jika kita menutup pintu maaf bagi sesama, kita sebenarnya sedang membangun tembok bagi diri kita sendiri dan menolak prinsip kasih yang menjadi fondasi hubungan kita dengan Bapa.

Oleh karena itu kita diingatkan bahwa mengampuni dengan segenap hati adalah perintah yang tidak bisa ditawar. Tuhan tidak meminta kita menghitung berapa kali seseorang menyakiti kita, melainkan meminta kita mengingat berapa kali Ia telah memulihkan kita. Ketika kita melepaskan pengampunan, kita tidak sedang membenarkan kesalahan orang lain, melainkan sedang membebaskan hati kita agar tetap selaras dengan kasih Allah yang tak terbatas. Marilah kita belajar untuk tidak menjadi hamba yang tidak tahu berterima kasih, melainkan menjadi saluran berkat yang membagikan kasih karunia yang telah kita terima secara cuma-cuma. Amin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact

Email : sekberbmgj@gmail.com

Kantor Sekretariat Bersama @sinode GKJ
(0298) 326684

© 2022 Created by SekberBMGJ

This website uses cookies to provide you with the best browsing experience.

Accept
Decline