Jumat, 8 Mei
Lukas 22:31–32
22:31 Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, 22:32 tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”
Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, Lukas 22:31–32 kita mendapati sebuah momen yang sangat menyentuh. Di saat-saat terakhir sebelum penderitaanNya, Yesus berbicara kepada Simon Petrus bukan dengan janji kenikmatan duniawi melainkan dengan sebuah peringatan. Ia menyatakan bahwa Petrus akan mengalami kegoncangan iman, bahkan akan jatuh. Ini bukan hal yang mudah kita terima, apalagi bagi seorang murid yang begitu dekat dengan Yesus.
Namun di tengah peringatan itu, terselip sebuah kalimat yang penuh pengharapan. Yesus berkata, “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur.” Artinya, kegagalan memang akan terjadi, tetapi iman Petrus tidak akan hancur. Ada jaminan bahwa di balik kejatuhan itu, Tuhan tetap memegang hidupnya. Bahkan Yesus menambahkan, “Dan jika engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Ini menunjukkan bahwa kegagalan Petrus bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses yang akan dipakai Tuhan.
Saudara-saudari, dari sini kita belajar bahwa kegagalan dalam hidup bukan sekadar jatuh, tetapi bisa menjadi titik balik yang membentuk. Petrus memang gagal bahkan ia menyangkal Yesus. Namun ia tidak berhenti di sana. Ia bertobat, dipulihkan, dan kemudian dipakai Tuhan secara luar biasa untuk menguatkan banyak orang. Apa yang dulu menjadi kelemahannya, justru diubah Tuhan menjadi kekuatan dalam pelayanannya.
Sering kali kita memandang kegagalan sebagai sesuatu yang memalukan, sesuatu yang harus disembunyikan. Kita merasa bahwa ketika kita gagal, berarti kita tidak layak, tidak cukup baik, bahkan tidak berguna. Tetapi melalui kisah Petrus, firman Tuhan mengoreksi cara pandang kita. Tuhan tidak menolak orang yang gagal. Sebaliknya, Ia membentuk dan memulihkan mereka.
Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih, kegagalan yang kita alami hari ini tidak harus menjadi akhir dari perjalanan iman kita. Justru di tangan Tuhan, kegagalan dapat menjadi sarana pembentukan. Melalui kegagalan, Tuhan merendahkan hati kita, mengajar kita untuk bergantung kepada-Nya, dan mempersiapkan kita menjadi berkat bagi orang lain. Jangan berhenti hanya karena pernah jatuh. Datanglah kembali kepada Tuhan. Sebab kegagalan yang diserahkan kepada-Nya tidak akan menghancurkan iman, tetapi justru memurnikannya dan membawa kita kepada kehidupan yang lebih kuat di dalam Dia.
