Iman yang Berdampak Besar

Iman yang Berdampak Besar

Kamis, 7 Mei

Bacaan: Lukas 17:11–19

17:11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. 17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 17:13 dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” 17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. 17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 17:17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” 17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, melalui Injil Lukas 17:11–19 kita melihat sebuah kisah yang sederhana namun sangat dalam maknanya. Diceritakan bahwa ada sepuluh orang kusta yang berdiri dari jauh ketika melihat Yesus. Mereka tidak berani mendekat, karena pada masa itu penyakit kusta bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga membuat seseorang dianggap najis, dijauhi, bahkan terasing dari kehidupan sosial dan keagamaan. Namun di tengah keterasingan itu, mereka masih memiliki satu hal yang tidak hilang, yaitu harapan. Dengan penuh kerendahan hati mereka berseru, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”

Saudara-saudari, menarik untuk kita perhatikan bahwa Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka saat itu juga. Ia justru memberi perintah, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Perintah ini bukan hal yang mudah, sebab saat itu kondisi mereka masih sakit. Artinya, mereka diminta untuk melangkah dalam iman, bukan berdasarkan apa yang mereka lihat atau rasakan. Dan di sinilah letak kuncinya: mereka taat. Mereka berjalan, dan justru dalam perjalanan itulah mereka menjadi tahir—dipulihkan sepenuhnya, baik secara fisik, diterima kembali secara sosial, bahkan iman mereka disentuh oleh kuasa Tuhan. Kesembuhan terjadi bukan saat mereka diam, tetapi saat mereka melangkah dalam ketaatan.

Namun dari sepuluh orang itu, hanya satu yang kembali. Ia datang dengan hati yang penuh syukur, memuliakan Allah, dan tersungkur di hadapan Yesus. Yang mengejutkan, orang ini adalah seorang Samaria, seseorang yang biasanya dipandang rendah oleh orang Yahudi. Tetapi justru dialah yang menunjukkan respons iman yang sejati. Kepadanya Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara sekadar menerima kesembuhan dan mengalami keselamatan yang sebenarnya.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih, melalui peristiwa ini kita belajar bahwa iman, sekalipun sederhana, memiliki kuasa yang besar. Sepuluh orang mengalami kesembuhan, tetapi hanya satu yang mengalami relasi yang dipulihkan dengan Tuhan. Iman yang sejati bukan hanya tentang percaya untuk menerima pertolongan, tetapi juga tentang ketaatan untuk melangkah dan kerendahan hati untuk kembali bersyukur.

Sering kali dalam kehidupan kita pun demikian. Kita datang kepada Tuhan ketika membutuhkan sesuatu. Kita berdoa, kita berharap, dan Tuhan menjawab. Tetapi setelah menerima jawaban itu, kita sering kali melanjutkan hidup tanpa kembali kepada-Nya. Kita menikmati berkat, tetapi melupakan Sang Pemberi berkat. Kita fokus pada apa yang kita terima, tetapi kehilangan keintiman dengan Tuhan. Melalui firman Tuhan hari ini, kita diingatkan bahwa iman bukan hanya tentang menerima, tetapi juga tentang kembali. Kembali untuk mengucap syukur, kembali untuk memuliakan Tuhan, dan kembali untuk hidup dalam relasi yang dekat dengan-Nya. Sebab pada akhirnya, yang Tuhan kehendaki bukan hanya kita mengalami pertolongan-Nya, tetapi kita hidup bersama-Nya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact

Email : sekberbmgj@gmail.com

Kantor Sekretariat Bersama @sinode GKJ
(0298) 326684

© 2022 Created by SekberBMGJ

This website uses cookies to provide you with the best browsing experience.

Accept
Decline