Sabtu, 23 Mei
2 Korintus 2:5-11
2:5 Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya–supaya jangan aku melebih-lebihkan–,hati beberapa orang di antara kamu. 2:6 Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu, 2:7 sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat. 2:8 Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia. 2:9 Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu. 2:10 Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni, –seandainya ada yang harus kuampuni–,maka hal itu kubuat oleh karena kamu di hadapan Kristus, 2:11 supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya.
Sakit hati? Disakiti oleh orang lain adalah pengalaman yang hampir semua orang pernah mengalaminya. Ketika seseorang berbuat salah kepada kita, apalagi dalam komunitas atau persekutuan, sering kali yang muncul adalah rasa kecewa, marah, bahkan keinginan untuk menjauh atau menghukum. Tidak jarang, luka itu terus disimpan dan menjadi beban yang melukai hati. Kita mungkin berpikir bahwa dengan tidak mengampuni, kita sedang menegakkan keadilan. Padahal tanpa sadar, kita justru sedang terjebak dalam kepahitan yang semakin dalam.
Firman Tuhan dalam 2 Korintus 2:5-11 membawa kita kepada pemahaman yang berbeda. Paulus sedang berbicara tentang seseorang yang telah berbuat salah dalam jemaat. Orang itu sudah menerima hukuman atau teguran dari jemaat. Namun Paulus menegaskan bahwa hukuman saja tidak cukup harus ada langkah berikutnya, yaitu pengampunan dan penghiburan. Mengapa? Karena jika tidak, orang tersebut bisa “tenggelam dalam dukacita yang terlalu berat.” Di sini kita melihat bahwa tujuan dari disiplin bukanlah menghancurkan, melainkan memulihkan.
Paulus memberikan kita dua realita penting. Pertama, kesalahan itu nyata dan perlu ditanggapi dengan serius. Kedua, kasih harus menjadi tujuan akhir. Jemaat diminta untuk tidak berhenti pada penghukuman, tetapi melangkah menuju pengampunan. Ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan orang Kristen, keadilan dan kasih harus berjalan bersama. Tanpa kasih, keadilan menjadi kejam. Tanpa keadilan, kasih menjadi dangkal.
Hari ini kita belajar bahwa pengampunan adalah jalan menuju pemulihan. Apa artinya mengampuni? Mengampuni bukan berarti melupakan atau menganggap kesalahan itu tidak penting, melainkan memilih untuk tidak lagi menahan kesalahan itu sebagai beban yang mengikat. Pengampunan adalah tindakan aktif untuk melepaskan, sama seperti Kristus telah mengampuni kita. Paulus bahkan berkata bahwa ia juga mengampuni “di hadapan Kristus,” artinya pengampunan itu berakar pada relasi dengan Tuhan, bukan sekadar perasaan manusia.
Menariknya, Paulus juga mengingatkan bahwa jika kita tidak mengampuni, kita memberi kesempatan kepada Iblis untuk bekerja. Artinya, ketidakmauan mengampuni bukan hanya masalah relasi antar manusia, tetapi juga membuka celah bagi kehancuran rohani. Kepahitan, dendam, dan luka yang tidak diselesaikan bisa menjadi alat yang merusak persekutuan dan iman kita. Amin.
