Sukacita dalam Memberi

Sukacita dalam Memberi

Minggu, 24 Mei

2 Korintus 9:6-15

9:6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. 9:9 Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; 9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. 9:12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. 9:13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang, 9:14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu. 9:15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!

 Memberi? Bagi sebagian orang, memberi adalah hal yang mudah, tetapi bagi sebagian yang lain, memberi bisa terasa berat. Terlebih ketika kita merasa apa yang kita miliki masih kurang, atau ketika memberi terasa seperti kewajiban yang memaksa. Tidak jarang, memberi dilakukan dengan hati yang setengah-setengah sekadar memenuhi tuntutan, bukan sebagai ungkapan kasih. Bahkan, ada juga yang merasa takut kehilangan jika terlalu banyak memberi.

Firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:6-15 mengajak kita untuk melihat memberi dari sudut pandang yang berbeda. Paulus menggunakan gambaran menabur dan menuai. Siapa yang menabur sedikit, akan menuai sedikit, dan siapa yang menabur banyak, akan menuai banyak. Ini bukan sekadar berbicara tentang jumlah, tetapi tentang sikap hati. Memberi bukanlah soal seberapa besar yang kita keluarkan, tetapi bagaimana hati kita melakukannya.

Paulus menekankan bahwa setiap orang harus memberi dengan kerelaan hati, bukan karena terpaksa atau dengan sedih hati. Mengapa? Karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Di sini kita melihat bahwa yang terutama bukanlah pemberiannya, tetapi sikap hati di balik pemberian itu. Tuhan tidak membutuhkan apa yang kita miliki, tetapi Tuhan rindu melihat hati yang penuh kasih dan sukacita dalam memberi.

Kita juga diperlihatkan dua realita penting. Pertama, manusia sering merasa kekurangan dan takut memberi. Kedua, Allah adalah sumber segala kecukupan yang tidak pernah kekurangan. Paulus menegaskan bahwa Allah sanggup melimpahkan kasih karunia-Nya, sehingga kita tidak hanya cukup, tetapi bahkan berkelebihan untuk melakukan berbagai kebajikan. Artinya, memberi bukan membuat kita kekurangan, justru membuka jalan bagi Allah untuk bekerja lebih besar dalam hidup kita.

Hari ini kita belajar bahwa memberi adalah bagian dari kehidupan iman. Apa artinya memberi dengan benar? Memberi berarti mempercayakan apa yang kita miliki kepada Tuhan dan menggunakannya untuk menjadi berkat bagi orang lain. Ketika kita memberi, kita sedang mengambil bagian dalam pekerjaan Allah. Bahkan lebih dari itu, pemberian kita dapat menghasilkan ucapan syukur kepada Allah dari banyak orang.

Memberi bukan hanya tindakan sosial, tetapi tindakan rohani. Dalam memberi, kita belajar percaya bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu. Kita juga belajar bahwa hidup kita bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk menjadi saluran berkat. Hari ini, mari kita mengintropeksi diri kita: apakah kita memberi dengan sukacita atau dengan keterpaksaan? Jangan biarkan rasa takut menguasai kita, tetapi belajarlah mempercayai Tuhan. Sebab Tuhan yang memberi kita apa yang kita miliki, juga sanggup mencukupi dan melimpahkan kembali dalam hidup kita. Akhirnya, Paulus menutup dengan ucapan syukur kepada Allah atas karunia-Nya yang tak terkatakan. Ini mengingatkan kita bahwa dasar dari segala pemberian kita adalah pemberian terbesar dari Allah sendiri. Ketika kita menyadari kasih-Nya, memberi bukan lagi beban, melainkan sukacita. Mari belajar menjadi pribadi yang murah hati, bukan karena kita mampu, tetapi karena Tuhan terlebih dahulu memberi kepada kita. Sebab di dalam memberi dengan sukacita, kita sedang mencerminkan hati Allah sendiri. Amin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact

Email : sekberbmgj@gmail.com

Kantor Sekretariat Bersama @sinode GKJ
(0298) 326684

© 2022 Created by SekberBMGJ

This website uses cookies to provide you with the best browsing experience.

Accept
Decline