Rabu, 9 september
Hikmat yang Berasal dari Allah
Bacaan: Yakobus 3:13-18
Ayat Emas : “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”
————————————————————————————————————————–
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menganggap orang yang pintar, berpendidikan tinggi, atau pandai berbicara sebagai orang yang berhikmat. Namun melalui Yakobus 3:13-18, kita belajar bahwa hikmat yang sejati bukan hanya soal seberapa banyak pengetahuan yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana pengetahuan itu terlihat dalam kehidupan kita. Yakobus berkata, “Siapa di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” Artinya, orang yang memiliki hikmat dari Tuhan akan menunjukkan hal itu melalui sikap dan perbuatannya. Yakobus juga memberikan peringatan tentang hikmat yang bukan berasal dari Allah. Hikmat dunia dapat membuat seseorang menjadi iri hati, mementingkan diri sendiri, suka membanggakan diri, bahkan menimbulkan pertengkaran. Kita bisa saja merasa paling benar, paling tahu, dan sulit menerima nasihat orang lain. Jika pengetahuan yang kita miliki justru membuat kita merendahkan orang lain, maka pengetahuan itu belum tentu menunjukkan hikmat yang berasal dari Allah.
Begitu juga sebaliknya, hikmat yang berasal dari Allah terlihat melalui kehidupan yang murni, membawa damai, ramah, penuh belas kasihan, tidak memihak, dan tidak munafik. Orang yang berhikmat bukanlah orang yang selalu ingin menang dalam perdebatan, tetapi orang yang mampu memilih untuk membawa damai. Ia tidak menggunakan perkataan untuk menyakiti atau menjatuhkan orang lain, tetapi menggunakan perkataannya untuk membangun dan menguatkan. Dalam kehidupan kita, hikmat seperti ini sangat dibutuhkan. Di tengah dunia yang penuh dengan perbedaan pendapat, persaingan, dan konflik, kita mudah sekali terbawa emosi. Bahkan dalam keluarga, pertemanan, pekerjaan, maupun pelayanan, perbedaan kecil dapat menjadi pertengkaran jika kita lebih mengutamakan ego. Karena itu, kita perlu meminta hikmat dari Allah supaya kita mampu merespons setiap keadaan bukan berdasarkan emosi, tetapi berdasarkan kasih dan kehendak Tuhan. Hikmat dari Allah tidak hanya membuat kita tahu apa yang benar, tetapi juga memberikan kemampuan untuk melakukan apa yang benar. Karena itu, marilah kita tidak hanya mengejar kepandaian dan pengetahuan, tetapi juga meminta kepada Tuhan hati yang rendah, lembut, dan penuh kasih. Biarlah orang lain dapat melihat hikmat Tuhan bukan hanya melalui perkataan kita, tetapi terutama melalui cara kita hidup.
Maka dari itu mari sekarang kita bertanya dan merefleksikan pada diri kita. Apakah hikmat yang kita miliki sudah menghasilkan kedamaian dan kebaikan bagi orang lain? Atau justru pengetahuan dan keinginan kita membuat kita mudah sombong, iri, dan merasa paling benar? Mari meminta kepada Tuhan hikmat yang berasal dari atas, supaya hidup kita menghasilkan buah yang baik dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.
–Adya
