Kamis, 10 September
Percaya Kepada Tuhan Dengan Segenap Hati
Amsal 3:5-6
————————————————————————————————————————–
Dalam kehidupan, manusia cenderung menyukai segala sesuatu yang pasti. Juga, yang sesuai dengan apa yang menjadi setiap rencana dalam kehidupan kita. Kita sering membuat rencana A, rencana B, rencana C, dan harapannya semua rencana itu berjalan menurut logika dan pemikiran kita. Apabila, di dalam rencana-rencana itu tadi, ada masalah atau tantangan. Respons pertama, yang kita lakukan biasanya mencari jalan keluar menurut pengertian dan logika kita. Pada akhirnya, rasa cemas dan ingin mengendalikan situasi adalah hasil dari respons kita kepada masalah yang sedang kita hadapi.
Bacaan kita hari ini mengajarkan kita akan kebalikan konsep dunia dalam melihat diri kita dan mengajak kita untuk belajar melepaskan kendali akan hidup kita. Dan tiga prinsip yang menjadi pijakan dari bacaan kita saat ini adalah
Pertama, percaya dengan segenap hati. Kata percaya dalam bahasa inggris ada Believe, dan Trust. Dalam pengertiannya Believe adalah percaya dengan apa yang terlihat atau suatu kepastian. Akan tetapi, Trust menjadikan kita mempercayakan meski itu belum pasti. Dari bacaan kita, mengajak untuk Trust. Mempercayai Tuhan dalam kehidupan, berarti tidak lagi menyisakan ruang kosong untuk keraguan. Dan melepaskan kendali hidup kita kepada Tuhan, yang adalah pemilik kehidupan kita.
Kedua, Jangan Bersandar pada pengertianmu sendiri. Dalam hal ini, bukan Tuhan meminta kita tidak melakukan setiap tugas dan panggilan kita masing-masing. Tuhan tetap meminta kita bertanggungjawab, dan bekerja keras dalam kehidupan kita. Melalui bacaan hari ini, mengingatkan keterbatasan logika kita, karena kita hanya melihat saat ini dan masa lalu. Tetapi Allah melihat seluruh kehidupan kita. Kita memiliki keterbatasan, ruang dan waktu. Maka, belajar untuk meminta hikmat Allah dalam menjalani hidup dan kehidupan.
Ketiga, menerima janji yang pasti, Tuhan akan meluruskan jalanmu. Jalan yang lurus bukan berarti tanpa kerikil, jalan tanpa tantangan. Akan tetapi, Allah berjanji bahwa Ia akan membawa kita tepat pada tujuan dan rencana terbaik Tuhan.
Mari, kita refleksikan hidup kita, bagian mana yang kita pegang erat, dan apa yang menjadi kecemasan kita. Juga, perlu disadari kita tidak akan mampu memegang erat beban-beban itu. Belajar percaya kepada Tuhan dengan segenap hati, karena Ia tahu yang terbaik bagi kehidupan kita.
–Natan
