Sabtu, 19 Sep tember
“SALING MEMBANGUN DALAM KASIH”
Roma 15:1-7
————————————————————————————————————————–
Dalam kehidupan di dunia ini, kita sebagai mahkluk sosial tidak selalu memiliki pendapat, karakter, kebiasaan, dan cara berpikir yang sama. Ada orang yang kuat dalam iman, tetapi ada juga yang sedang lemah. Ada yang mudah mengampuni, tetapi ada yang masih bergumul dengan kepahitan. Ada yang cepat memahami orang lain, tetapi ada pula yang mudah tersinggung. Perbedaan seperti ini dapat menjadi sumber pertengkaran apabila kita hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Ada pepatah yang mengatakan, “Siapa kuat dialah pemenang, sementara yang lemah dia yang kalah dan diperdaya”. Sering sekali hal ini terjadi di sekitar kita. Namun, firman Tuhan dalam Roma 15:1–7 mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan orang percaya bukanlah tentang “saya harus menang”, melainkan tentang bagaimana kita dapat saling menolong, saling menguatkan, dan saling membangun dalam kasih.
Kita sebagi orang percaya harus yakin bahwa tiap-tiap orang memiliki bakat dan potensi yang berbeda-beda. Paulus ingin kita yang percaya dan kuat imannya agar mampu untuk menanggung kelemahan orang yang tidak kuat. Jangan kita mencari kesenangan sendiri. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Namun dibalik itu semua bagaimana kita dapat belajar untuk saling menerima satu dengan yang lain. Karena Kristus mau menerima kita orang yang bedosa dan mau mengampuni kita, sehingga sebagai orang yang sudah menerima keselamatan kita harus memiliki kesatuan hati di dalam Kristus.
Roma 15:1 mengatakan bahwa mereka yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat.Kata “menanggung” bukan berarti membiarkan orang lain terus hidup dalam kelemahannya. Menanggung berarti bersedia membantu, memahami, menopang, dan berjalan bersama orang yang sedang mengalami kelemahan. Dalam kehidupan gereja, kita akan bertemu dengan berbagai macam orang. Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga, masalah ekonomi, pergumulan pekerjaan, kesepian, kekecewaan, atau pergumulan iman.
Manusia secara alami cenderung memikirkan dirinya sendiri: apa yang saya inginkan, apa yang saya sukai, apa yang menguntungkan saya, dan bagaimana orang lain harus mengikuti keinginan saya. Tetapi kehidupan Kristen mengajarkan sesuatu yang berbeda. Kita dipanggil untuk belajar memikirkan kebutuhan orang lain. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki keinginan atau pendapat. Tetapi ketika hidup bersama orang lain, kita harus belajar mengendalikan kepentingan pribadi demi kebaikan bersama. Di dalam gereja, misalnya, jangan sampai pelayanan menjadi tempat untuk mencari penghargaan. Roma 15:5–6 mengajak kita untuk hidup dalam kesehatian sehingga dengan satu hati dan satu suara memuliakan Allah. Kesehatian bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama dalam segala sesuatu.
Kesehatian berarti memiliki tujuan yang sama: memuliakan Tuhan. Kita mungkin berbeda usia. Berbeda karakter. Berbeda latar belakang. Berbeda kemampuan.Berbeda pendapat. Tetapi kita memiliki satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus. Karena itu, jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling menjauh. Jangan sampai persoalan kecil membuat kita melupakan kasih yang besar. Jangan sampai perbedaan pendapat membuat kita lupa bahwa kita adalah satu tubuh Kristus. Gereja yang kuat bukan gereja yang tidak memiliki perbedaan, tetapi gereja yang mampu menghadapi perbedaan dengan kasih.
Kita sebagai umat yang dikasihi Tuhan, Roma 15:1–7 mengingatkan kita bahwa kehidupan Kristen bukan hanya tentang hubungan pribadi kita dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan sesama. Mari kita menjadi orang yang menghadirkan penguatan, bukan kelemahan. Menjadi orang yang membawa penghiburan, bukan luka. Menjadi orang yang mengampuni, bukan menyimpan dendam. Menjadi orang yang merangkul, bukan menjauhkan. Dan menjadi orang yang membangun, bukan meruntuhkan. Jika hari ini ada saudara kita yang sedang lemah, mari kita kuatkan. Jika ada yang sedang jatuh, mari kita ulurkan tangan. Jika ada yang sedang menangis, mari kita hadir dan menghibur. Jika ada yang bersalah, mari kita menegur dalam kasih. Dan jika ada perbedaan di antara kita, mari kita ingat bahwa kita memiliki satu Tuhan dan satu tujuan: memuliakan Allah. Kiranya kehidupan kita sebagai keluarga, jemaat, dan masyarakat menjadi kesaksian bahwa kasih Kristus sungguh-sungguh hidup di tengah-tengah kita. Mari kita saling membangun dalam kasih, karena Kristus telah terlebih dahulu mengasihi dan menerima kita. Tuhan Memberkati. Amin.Yosua
