Rabu, 6 Mei
Markus 9:33-37
9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” 9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. 9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” 9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: 9:37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”
Memiliki pengikut dalam media sosial, kepemilikan harta, dan kepemilikan barang mewah, memiliki jabatan tertentu menjadi tolok ukur seseorang dianggap “besar” pada masa modern. Yang menjadikan, orang-orang saat ini mencoba berbagai hal untuk mencapai apa yang dianggap dunia penting. Dalam kehidupan saat-saat ini, ada berbagai contoh nyata di dalam kehidupan; seperti membeli pengikut untuk memiliki jumlah yang besar, korupsi yang masih merajalela, dan suap menyuap untuk mencapai jabatan tertentu. Demikian pula, dalam kehidupan iman sebagai orang percaya. Seringkali secara tidak sadar masuk ke dalam kehidupan pelayanan, masih ada pelayan yang mungkin yang hanya ingin “tampil”, ingin dilihat banyak orang, serta untuk mencapai posisi tertentu.
Dalam bacaan Markus 9:33-37, menceritakan bagaimana para murid, terjebak kepada mencari siapa yang terbesar di dalam komunitas murid Kristus. Bahkan, menjadi sebuah pertengkaran dalam para murid sepanjang perjalanan menuju Kapernaum. Tetapi, Yesus membuat pembalikan pola pikir para murid, Yesus berkata: Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya. Tidak hanya sampai pada dalam perkataan saja, tetapi dengan Yesus melanjutkan kepada simbol anak yang dimunculkan. Bahwa, anak yang dianggap tidak penting pada masa itu, menjadi penting dengan menjelaskan bahwa hal yang kekal bukan berdasarkan status, kepemilikan, dan pengikut. Tetapi, berasaskan kepada kerendahanhati dan melayani.
Dari bacaan ini, kita bertanya dalam hati kita secara jujur merenungkan apakah dalam perjalanan iman, apakah pelayanan yang kita lakukan untuk Tuhan, atau untuk dilihat oleh orang? Oleh sebab itu, mari kita bersama belajar menjadi besar menurut cara Tuhan. Dengan melayani dengan kerendahanhati. Serta, menghidupi gaya hidup yang ugahari, yang mengusung gaya hidup yang sederhana, tidak berlebihan, bukan berarti kita tidak boleh memiliki harta, atau memiliki jabatan tertentu. Tetapi, menjalani hal itu dengan bertanggung jawab dalam setiap hal yang dipercayakan dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan pelayanan dengan kerendahan hati dan nilai keugaharian, kita hidup dalam nilai kerajaan Allah.
