Senin, 25 Mei
2 Korintus 13:1-10
13:1 Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah. 13:2 Kepada mereka, yang di masa yang lampau berbuat dosa, dan kepada semua orang lain, telah kukatakan terlebih dahulu dan aku akan mengatakannya sekali lagi–sekarang pada waktu aku berjauhan dengan kamu tepat seperti pada waktu kedatanganku kedua kalinya–bahwa aku tidak akan menyayangkan mereka pada waktu aku datang lagi. 13:3 Karena kamu ingin suatu bukti, bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku, dan Ia tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu. 13:4 Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah. 13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. 13:6 Tetapi aku harap, bahwa kamu tahu, bahwa bukan kami yang tidak tahan uji. 13:7 Kami berdoa kepada Allah, agar kamu jangan berbuat jahat bukan supaya kami ternyata tahan uji, melainkan supaya kamu ini boleh berbuat apa yang baik, sekalipun kami sendiri tampaknya tidak tahan uji. 13:8 Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran. 13:9 Sebab kami bersukacita, apabila kami lemah dan kamu kuat. Dan inilah yang kami doakan, yaitu supaya kamu menjadi sempurna. 13:10 Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu, supaya bila aku berada di tengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa bertindak keras menurut kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan.
Ujian hidup? Hampir setiap orang tidak menyukai ujian. Ujian sering dianggap sebagai sesuatu yang menekan, menakutkan, bahkan mengancam. Apalagi ketika ujian itu berbentuk teguran atau koreksi dari orang lain, kita cenderung defensif, merasa diserang, atau berusaha membenarkan diri. Dalam kehidupan iman, hal ini juga sering terjadi. Kita aktif dalam kegiatan rohani, tetapi jarang berhenti untuk benar-benar memeriksa apakah iman kita masih hidup dan bertumbuh atau justru hanya menjadi rutinitas tanpa makna.
Melalui 2 Korintus 13:1-10, Paulus membawa jemaat Korintus kepada sebuah kesadaran penting: iman harus diuji. Paulus tidak berbicara dalam konteks yang ringan, tetapi dalam situasi yang serius, di mana ada dosa yang belum dibereskan dan ada keraguan terhadap otoritasnya sebagai rasul. Ia bahkan menegaskan bahwa kedatangannya yang ketiga nanti bisa membawa tindakan tegas jika jemaat tidak berubah. Namun di balik ketegasan itu, tersimpan hati seorang gembala yang rindu akan adanya pemulihan, bukan penghukuman.
Paulus mengutip prinsip “dua atau tiga saksi,” yang menunjukkan bahwa segala sesuatu harus ditangani dengan adil dan benar, bukan berdasarkan emosi atau prasangka. Ini menegaskan bahwa kehidupan iman tidak boleh dijalani secara sembarangan. Ada standar kebenaran yang harus dijaga. Namun, Paulus tidak hanya menunjuk kesalahan jemaat, melainkan mengarahkan mereka untuk melihat ke dalam diri sendiri: “Ujilah dirimu sendiri.” Ini adalah panggilan refleksi yang sangat dalam dan personal.
Mengapa menguji diri itu penting? Karena sering kali kita merasa diri baik-baik saja, padahal sebenarnya kita sedang menjauh dari Tuhan. Kita bisa aktif melayani, rajin beribadah, tetapi hati kita tidak lagi terhubung dengan Kristus. Paulus bahkan memberikan ukuran yang sangat jelas: apakah Kristus ada di dalam kita? Ini bukan pertanyaan yang dangkal, tetapi menyentuh inti iman Kristen. Jika Kristus sungguh hidup dalam diri kita, maka hidup kita seharusnya mencerminkan karakter-Nya.
Paulus kemudian membawa kita pada pemahaman tentang paradoks iman Kristen: kelemahan dan kuasa. Ia mengatakan bahwa Kristus disalibkan dalam kelemahan, tetapi hidup oleh kuasa Allah. Demikian juga dengan kita dalam kelemahan kita, kuasa Tuhan justru dinyatakan. Ini berarti bahwa kelemahan bukanlah alasan untuk putus asa, melainkan ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Banyak orang gagal dalam ujian iman bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka tidak mau membawa kelemahan itu kepada Tuhan. amin
