Jumat, 11 September
Hati Yang Bersyukur
Lukas 17:11-19
————————————————————————————————————————–
Pernahkah kita berada dalam situasi yang sangat mendesak, meminta tolong kepada seseorang dengan sungguh-sungguh, namun ketika masalahnya selesai, Anda saking senangnya sampai lupa mengucapkan terima kasih? Ini adalah hal yang sangat sering terjadi, dan inilah inti dari cerita Alkitab hari ini.
Bacaan kita hari ini bercerita tentang sepuluh orang yang menderita sakit kusta. Pada zaman itu, kusta menjadi penyakit menular yang sangat ditakuti. Penderitanya harus diusir dari desa, dijauhi oleh keluarga, dan hidup menderita di pengasingan. Ketika mereka melihat Yesus dan berteriak memohon belas kasihan. Yesus mengabulkan doa mereka. Saat mereka sedang berjalan menuruti perintah Yesus, mukjizat terjadi: kesepuluh orang itu sembuh total! Kulit mereka kembali bersih. Bayangkan betapa gembiranya mereka!
Namun, di sinilah bagian yang perlu menjadi perhatian bagi kita. Dari sepuluh orang yang disembuhkan, hanya satu orang yang memutuskan untuk putar balik, mencari Yesus. Yesus pun bertanya, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir (sembuh)? Di manakah yang sembilan orang itu?”
Ke mana perginya kesembilan orang lainnya? Mereka sibuk menikmati “berkat” yang luar biasa itu, tetapi mereka lupa kepada “Sang Pemberi Berkat”. Apakah kita sering menjadi seperti kesembilan orang tersebut?
Seringkali kita rajin mencari Tuhan saat sedang butuh. Saat anak sedang sakit, atau saat sedang banyak masalah di pekerjaan, kita berdoa dan menangis memohon pertolongan Tuhan. Namun, ketika doa itu terjawab, dan keadaan kembali aman, kita sering kali langsung berlari melanjutkan hidup dan lupa menyediakan waktu khusus untuk mengucapkan syukur kita kepada Allah,Orang yang kembali kepada Yesus tadi mengajarkan kita bahwa, hati yang bersyukur tidak terjadi secara otomatis. Ada proses untuk menunda sebentar kesenangan kita, untuk mengingat dari mana semua kebaikan itu berasal.
Tuhan tidak gila hormat, Ia tidak membutuhkan ucapan terima kasih kita untuk membuat-Nya merasa hebat. Namun, saat kita bersyukur, hati kita sendiri yang diuntungkan karena kita diajak untuk terus menyadari betapa besarnya pemeliharaan Allah dalam kehidupan kita. Natan
