Senin, 25 Mei 2 Korintus 13:1-10 13:1 Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah. 13:2 Kepada mereka, yang di masa yang lampau berbuat dosa, dan kepada semua orang lain, telah kukatakan terlebih dahulu dan aku akan mengatakannya sekali lagi–sekarang pada waktu aku berjauhan dengan kamu tepat seperti pada waktu kedatanganku kedua kalinya–bahwa aku tidak akan menyayangkan mereka pada waktu aku datang lagi. 13:3 Karena kamu ingin suatu bukti, bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku, dan Ia tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu. 13:4 Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah. 13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. 13:6 Tetapi aku harap, bahwa kamu tahu, bahwa bukan kami yang tidak tahan uji. 13:7 Kami berdoa kepada Allah, agar kamu jangan berbuat jahat bukan supaya kami ternyata tahan uji, melainkan supaya kamu ini boleh berbuat apa yang baik, sekalipun kami sendiri tampaknya tidak tahan uji. 13:8 Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran. 13:9 Sebab kami bersukacita, apabila kami lemah dan kamu kuat. Dan inilah yang kami doakan, yaitu supaya kamu menjadi sempurna. 13:10 Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu, supaya bila aku berada di tengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa bertindak keras menurut kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan. Ujian hidup? Hampir setiap orang tidak menyukai ujian. Ujian sering dianggap sebagai sesuatu yang menekan, menakutkan, bahkan mengancam. Apalagi ketika ujian itu berbentuk teguran atau koreksi dari orang lain, kita cenderung defensif, merasa diserang, atau berusaha membenarkan diri. Dalam kehidupan iman, hal ini juga sering terjadi. Kita aktif dalam kegiatan rohani, tetapi jarang berhenti untuk benar-benar memeriksa apakah iman kita masih hidup dan bertumbuh atau justru hanya menjadi rutinitas tanpa makna. Melalui 2 Korintus 13:1-10, Paulus membawa jemaat Korintus kepada sebuah kesadaran penting: iman harus diuji. Paulus tidak berbicara dalam konteks yang ringan, tetapi dalam situasi yang serius, di mana ada dosa yang belum dibereskan dan ada keraguan terhadap otoritasnya sebagai rasul. Ia bahkan menegaskan bahwa kedatangannya yang ketiga nanti bisa membawa tindakan tegas jika jemaat tidak berubah. Namun di balik ketegasan itu, tersimpan hati seorang gembala yang rindu akan adanya pemulihan, bukan penghukuman. Paulus mengutip prinsip “dua atau tiga saksi,” yang menunjukkan bahwa segala sesuatu harus ditangani dengan adil dan benar, bukan berdasarkan emosi atau prasangka. Ini menegaskan bahwa kehidupan iman tidak boleh dijalani secara sembarangan. Ada standar kebenaran yang harus dijaga. Namun, Paulus tidak hanya menunjuk kesalahan jemaat, melainkan mengarahkan mereka untuk melihat ke dalam diri sendiri: “Ujilah dirimu sendiri.” Ini adalah panggilan refleksi yang sangat dalam dan personal. Mengapa menguji diri itu penting? Karena sering kali kita merasa diri baik-baik saja, padahal sebenarnya kita sedang menjauh dari Tuhan. Kita bisa aktif melayani, rajin beribadah, tetapi hati kita tidak lagi terhubung dengan Kristus. Paulus bahkan memberikan ukuran yang sangat jelas: apakah Kristus ada di dalam kita? Ini bukan pertanyaan yang dangkal, tetapi menyentuh inti iman Kristen. Jika Kristus sungguh hidup dalam diri kita, maka hidup kita seharusnya mencerminkan karakter-Nya. Paulus kemudian membawa kita pada pemahaman tentang paradoks iman Kristen: kelemahan dan kuasa. Ia mengatakan bahwa Kristus disalibkan dalam kelemahan, tetapi hidup oleh kuasa Allah. Demikian juga dengan kita dalam kelemahan kita, kuasa Tuhan justru dinyatakan. Ini berarti bahwa kelemahan bukanlah alasan untuk putus asa, melainkan ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Banyak orang gagal dalam ujian iman bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka tidak mau membawa kelemahan itu kepada Tuhan. amin
Sukacita dalam Memberi
Minggu, 24 Mei 2 Korintus 9:6-15 9:6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. 9:9 Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; 9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. 9:12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. 9:13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang, 9:14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu. 9:15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! Memberi? Bagi sebagian orang, memberi adalah hal yang mudah, tetapi bagi sebagian yang lain, memberi bisa terasa berat. Terlebih ketika kita merasa apa yang kita miliki masih kurang, atau ketika memberi terasa seperti kewajiban yang memaksa. Tidak jarang, memberi dilakukan dengan hati yang setengah-setengah sekadar memenuhi tuntutan, bukan sebagai ungkapan kasih. Bahkan, ada juga yang merasa takut kehilangan jika terlalu banyak memberi. Firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:6-15 mengajak kita untuk melihat memberi dari sudut pandang yang berbeda. Paulus menggunakan gambaran menabur dan menuai. Siapa yang menabur sedikit, akan menuai sedikit, dan siapa yang menabur banyak, akan menuai banyak. Ini bukan sekadar berbicara tentang jumlah, tetapi tentang sikap hati. Memberi bukanlah soal seberapa besar yang kita keluarkan, tetapi bagaimana hati kita melakukannya. Paulus menekankan bahwa setiap orang harus memberi dengan kerelaan hati, bukan karena terpaksa atau dengan sedih hati. Mengapa? Karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Di sini kita melihat bahwa yang terutama bukanlah pemberiannya, tetapi sikap hati di balik pemberian itu. Tuhan tidak membutuhkan apa yang kita miliki, tetapi Tuhan rindu melihat hati yang penuh kasih dan sukacita dalam memberi. Kita juga diperlihatkan dua realita penting. Pertama, manusia sering merasa kekurangan dan takut memberi. Kedua, Allah adalah sumber segala kecukupan yang tidak pernah kekurangan. Paulus menegaskan bahwa Allah sanggup melimpahkan kasih karunia-Nya, sehingga kita tidak hanya cukup, tetapi bahkan berkelebihan untuk melakukan berbagai kebajikan. Artinya, memberi bukan membuat kita kekurangan, justru membuka jalan bagi Allah untuk bekerja lebih besar dalam hidup kita. Hari ini kita belajar bahwa memberi adalah bagian dari kehidupan iman. Apa artinya memberi dengan benar? Memberi berarti mempercayakan apa yang kita miliki kepada Tuhan dan menggunakannya untuk menjadi berkat bagi orang lain. Ketika kita memberi, kita sedang mengambil bagian dalam pekerjaan Allah. Bahkan lebih dari itu, pemberian kita dapat menghasilkan ucapan syukur kepada Allah dari banyak orang. Memberi bukan hanya tindakan sosial, tetapi tindakan rohani. Dalam memberi, kita belajar percaya bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu. Kita juga belajar bahwa hidup kita bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk menjadi saluran berkat. Hari ini, mari kita mengintropeksi diri kita: apakah kita memberi dengan sukacita atau dengan keterpaksaan? Jangan biarkan rasa takut menguasai kita, tetapi belajarlah mempercayai Tuhan. Sebab Tuhan yang memberi kita apa yang kita miliki, juga sanggup mencukupi dan melimpahkan kembali dalam hidup kita. Akhirnya, Paulus menutup dengan ucapan syukur kepada Allah atas karunia-Nya yang tak terkatakan. Ini mengingatkan kita bahwa dasar dari segala pemberian kita adalah pemberian terbesar dari Allah sendiri. Ketika kita menyadari kasih-Nya, memberi bukan lagi beban, melainkan sukacita. Mari belajar menjadi pribadi yang murah hati, bukan karena kita mampu, tetapi karena Tuhan terlebih dahulu memberi kepada kita. Sebab di dalam memberi dengan sukacita, kita sedang mencerminkan hati Allah sendiri. Amin.
Pemulihan Melalui Pengampunan
Sabtu, 23 Mei 2 Korintus 2:5-11 2:5 Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya–supaya jangan aku melebih-lebihkan–,hati beberapa orang di antara kamu. 2:6 Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu, 2:7 sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat. 2:8 Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia. 2:9 Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu. 2:10 Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni, –seandainya ada yang harus kuampuni–,maka hal itu kubuat oleh karena kamu di hadapan Kristus, 2:11 supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya. Sakit hati? Disakiti oleh orang lain adalah pengalaman yang hampir semua orang pernah mengalaminya. Ketika seseorang berbuat salah kepada kita, apalagi dalam komunitas atau persekutuan, sering kali yang muncul adalah rasa kecewa, marah, bahkan keinginan untuk menjauh atau menghukum. Tidak jarang, luka itu terus disimpan dan menjadi beban yang melukai hati. Kita mungkin berpikir bahwa dengan tidak mengampuni, kita sedang menegakkan keadilan. Padahal tanpa sadar, kita justru sedang terjebak dalam kepahitan yang semakin dalam. Firman Tuhan dalam 2 Korintus 2:5-11 membawa kita kepada pemahaman yang berbeda. Paulus sedang berbicara tentang seseorang yang telah berbuat salah dalam jemaat. Orang itu sudah menerima hukuman atau teguran dari jemaat. Namun Paulus menegaskan bahwa hukuman saja tidak cukup harus ada langkah berikutnya, yaitu pengampunan dan penghiburan. Mengapa? Karena jika tidak, orang tersebut bisa “tenggelam dalam dukacita yang terlalu berat.” Di sini kita melihat bahwa tujuan dari disiplin bukanlah menghancurkan, melainkan memulihkan. Paulus memberikan kita dua realita penting. Pertama, kesalahan itu nyata dan perlu ditanggapi dengan serius. Kedua, kasih harus menjadi tujuan akhir. Jemaat diminta untuk tidak berhenti pada penghukuman, tetapi melangkah menuju pengampunan. Ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan orang Kristen, keadilan dan kasih harus berjalan bersama. Tanpa kasih, keadilan menjadi kejam. Tanpa keadilan, kasih menjadi dangkal. Hari ini kita belajar bahwa pengampunan adalah jalan menuju pemulihan. Apa artinya mengampuni? Mengampuni bukan berarti melupakan atau menganggap kesalahan itu tidak penting, melainkan memilih untuk tidak lagi menahan kesalahan itu sebagai beban yang mengikat. Pengampunan adalah tindakan aktif untuk melepaskan, sama seperti Kristus telah mengampuni kita. Paulus bahkan berkata bahwa ia juga mengampuni “di hadapan Kristus,” artinya pengampunan itu berakar pada relasi dengan Tuhan, bukan sekadar perasaan manusia. Menariknya, Paulus juga mengingatkan bahwa jika kita tidak mengampuni, kita memberi kesempatan kepada Iblis untuk bekerja. Artinya, ketidakmauan mengampuni bukan hanya masalah relasi antar manusia, tetapi juga membuka celah bagi kehancuran rohani. Kepahitan, dendam, dan luka yang tidak diselesaikan bisa menjadi alat yang merusak persekutuan dan iman kita. Amin.
MENSYUKURI HAL-HAL KECIL
Jumat, 22 Mei 1 Korintus 10:31 10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 10:32 Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. 10:33 Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat. Saudara-saudari yang diberkati Tuhan, Paulus tidak hanya berbicara tentang hal-hal besar yang sudah dilakukan, seperti pelayanan atau ibadah, justru dia berbicara tentang hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari, seperti makan dan minum. Paulus menegaskan bahwa campur tangan Allah dalam hal-hal kecil sama besarnya dengan campur tangan Allah pada hal-hal besar. Melakukan hal-hal kecil bukan berarti kita menjadi orang berdosa, bukan juga menunjukkan bahwa kita mempunyai pemahaman yang dangkal tentang hidup ini, sebab lautan yang dalam pun memiliki bagian yang dangkal. Bahkan hal-hal kecil dalam kehidupan, seperti makan dan minum, pakaian, jalan-jalan, atau obrolan sehari-hari, Allah ikut berperan juga di dalamnya. Karena Ia juga pernah melakukan hal-hal tersebut. Kita harus menyadari bahwa hidup yang kita jalani saat ini bukan hanya tantang hal-hal besar. Bukan hanya tentang seberapa banyak pelayanan yang sudah kita lakukan, atau berapa banyak kegiatan rohani yang sudah kita ikuti. Tetapi justru tentang hal-hal kecil yang dianggap sepele. Saat kita hendak makan, kita menundukkan kepala sejenak. Ini bukan sekadar kebiasaan, ini merupakan kesadaran bahwa makanan di hadapan kita bukan hanya sebagai pengisi perut, tetapi menyadari bahwa itu adalah berkat. Dan ketika kita mengucapkan syukur, kita sedang memuliakan Tuhan. Kita selalu dikelilingi oleh hal-hal kecil dalam hidup ini. Kita hidup dalam dunia yang nyata, berpikir dan bertindak menggunakan akal sehat. Karena itu sekecil apapun yang harus kita lakukan, lakukanlah itu bukan untuk mencari pujian manusia, tetapi lakukanlah untuk menyenangkan hati Tuhan dan memuliakan Dia sebagai sang pemberi segala sesuatu. Kerjakanlah hal-hal kecil dengan sungguh-sungguh, dengan jujur, dan dengan hati yang benar. bukan karena kita diawasi oleh manusia, tetapi karena kita menyadari segala sesuatu yang kita kerjakan, Tuhan selalu melihatnya. Sehingga dalam kesungguhan itulah, Tuhan dimuliakan. Memuliakan Tuhan bukan tentang melakukan hal yang besar, tetapi tentang melakukan apa yang dianggap kecil/sepele dengan hati yang benar setiap hari. Amin
KERJAKAN PANGGILANMU
Kamis, 21 Mei 1 Koritus 9:16 9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. 9:17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. 9:18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. Saudara-saudari yang diberkati Tuhan, Ketika kita dipanggil untuk melayani Tuhan, apa yang terlintas di dalam benak kita? Sukacita atau penderitaan? Hal ini jugalah yang dirasakan oleh Paulus. Baginya, panggilan untuk memberitakan Injil bukan sekadar panggilan yang biasa saja. Paulus menunjuk pada rasa sedih yang dalam, yang timbul dalam dirinya oleh kekuatan yang mendesak dari panggilan untuk memberitakan injil. “..celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”. Paulus menyadari bahwa hidupnya bukan lagi milik dirinya sendiri, hidupnya milik Allah. Ada amanat yang harus disampaikan, ada kabar baik yang tidak boleh disimpan sendiri. Karena itu, satu-satunya alasan dalam kehidupan Paulus adalah memberitakan Injil. Dia menyambut kepedihan, kekecewaan, dan penderitaan untuk satu alasan, yaitu pengapdiannya kepada Injil Yesus Kristus. Panggilan untuk memberitakan Injil, haruslah dilakukan dengan penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Setiap kita yang dipanggil untuk memberitakan Injil, harus menanggalkan ambisi, keegoisan, kecongkakan, dan hasrat duniawi kita. Panggilan memberitakan Injil berarti siap merendahkan diri dan mengalami penderitaan. Hal inilah yang seringkali membuat kita merasa takut menjalani “panggilan Tuhan” untuk memberitakan Injil. Kita takut ditolak, takut dianggap aneh, takut salah, bahkan takut mati. Karena itulah, Paulus mengingatkan kita, bahwa orang yang dipanggil untuk memberitakan Injil harus memiliki komitmen untuk hidup dengan tujuan menjadi terang dan taat pada panggilan Tuhan. Sama seperti Paulus yang tetap taat menjalani panggilannya, sekalipun banyak tantangan, penolakan, bahkan penderitaan yang dialami. Namun, semua itu tidak menghentikan niatnya untuk memberitakan Injil. Injil yang diberitakan tidak harus berdiri di mimbar dengan kata-kata yang indah, tetapi dengan tindakan nyata yang mencerminkan kasih Kristus. Orang mungkin tidak selalu mendengar apa yang kita katakan, tetapi mereka bisa melihat bagaimana cara hidup kita. Hidup yang mencerminkan kasih, hidup yang menjadi pembawa damai, hidup yang menunjukkan pengampunan. Waspadalah terhadap penolakan untuk mendengar panggilan Allah. Setiap kita yang sudah diselamatkan dipanggil untuk bersaksi bukan hanya melalui kata, tetapi melalui perbuatan. Itulah panggilan kita sebagai orang percaya. Amin!
TETAPLAH SETIA
Rabu, 20 Mei 1 Korintus 3:6 3:6 Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. 3:7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. 3:8 Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. 3:9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah. Manusia seringkali diperhadapkan dengan pertanyaan “apa yang sudah kita lakukan untuk menghasilkan sesuatu?”. Pertanyaan ini terdengar sederhana, namun secara tidak langsung dapat membebani hati dan pikiran kita. Mungkin saja kita sudah berusaha kerja keras, melayani, menolong orang lain, berusaha menjadi pribadi yang baik, bahkan setia dalam iman. Namun apakah itu semua dapat membawa perubahan atau menghasilkan sesuatu? Atau justru tidak membawa perubahan yang berarti? Paulus memberikan sebuah metafora yang menenangkan sekaligus meneguhkan “Aku menanam. Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”. Metafora ini sangat sederhana sekali, tetapi memiliki makna yang mendalam. Paulus tidak pernah menganggap dirinya sebagai sumber keberhasilan dari pelayanan. Dia sangat menyadari bahwa dirinya itu hanya seorang penanam, dan Apolos yang dikenal pandai dalam berbicara dan mengajar, hanyalah seorang penyiram. Ini menunjukkan pelayanan, pengajaran dan usaha dari Paulus dan Apolos dalam mewartakan Injil Yesus Kristus. Namun peran keduanya itu tidak dapat menggantikan peran Allah sebagai pemberi pertumbuhan. Hasil atau perubahan itu terjadi karena Allah turut mengambil bagian dalam pelayanan mereka. Menanam bukanlah pekerjaan yang mudah, dibutuhkan kesabaran dalam merawat benih yang ditanam itu. Begitu juga dengan menyiram, harus dilakukan berulang kali dengan setia dan konsisten, agar benih yang sudah ditanam itu dapat bertahan dan tumbuh dengan baik. Sama halnya dengan kehidupan kita, dalam melakukan pekerjaan, sering kali kita terjebak dengan mengukur sesuatu dari hasil yang terlihat. Kita ingin melihat perubahan terjadi dengan cepat, kita ingin melihat hasil yang nyata. Namun ketika itu tidak terjadi, kita kecewa, meregukan diri sendiri, bahkan kita meragukan Tuhan. Namun Rasul Paulus mengingatkan kita, bahwa sebagai rekan sekereja Allah, kita dipanggil untuk menyenangkan hati Tuhan melalui setiap pekerjaan yang kita lakukan dengan setia. Bukan dipanggil untuk bekerja mencari pujian manusia melalui hasil yang nyata. Bukan hasil yang Allah lihat, tetapi jerih payah kita. Tuhan melihat sekecil apapun usaha kita, asalkan itu dilakukan dengan motivasi yang benar dan setia, tentu tidak ada yang sia-sia di mata-Nya. Jangan berkecil hati, jika kerja dan layan yang kita lakukan belum membuahkan hasil. Tetaplah setia menanam dengan menabur kebaikan, mengasihi sesama, mengampuni yang bersalah, dan memberitakan injil Yesus Kristus kepada orang lain. Bertekunlah dalam menyiram dengan terus mendoakan, mendukung, menguatkan dan hadir dalam kehidupan sesama yang membutuhkan. Dan serahkanlah semua kerja keras, semua pelayanan, semua pengorbanan yang telah kita lakukan, kita letakkan di tangan-Nya, biarlah Tuhan sendiri yang memberi pertumbuhan. Amin!
NAMPI LIYAN
Selasa, 19 Mei Roma 15:7-1305 15:7 Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah. 15:8 Yang aku maksudkan ialah, bahwa oleh karena kebenaran Allah Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita, 15:9 dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa, supaya mereka memuliakan Allah karena rahmat-Nya, seperti ada tertulis: “Sebab itu aku akan memuliakan Engkau di antara bangsa-bangsa dan menyanyikan mazmur bagi nama-Mu.” 15:10 Dan selanjutnya: “Bersukacitalah, hai bangsa-bangsa, dengan umat-Nya.” 15:11 Dan lagi: “Pujilah Tuhan, hai kamu semua bangsa-bangsa, dan biarlah segala suku bangsa memuji Dia.” 15:12 Dan selanjutnya kata Yesaya: “Taruk dari pangkal Isai akan terbit, dan Ia akan bangkit untuk memerintah bangsa-bangsa, dan kepada-Nyalah bangsa-bangsa akan menaruh harapan.” 15:13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan. Menapa sadherek ngalami kesisahan kangge nampi dhatengipun tiyang sanes? kathah-kathah tiyang gampil nampi rawuhipun tiyang sanes menawi tiyang menika sae menapa malih loma. Nanging, kados pundi menawi ingkang dugi ing gesang kula lan panjenengan inggih menika tiyang ingkang gadhah watak awon lan asring nyisahaken kula lan panjenegan ? tamtu mboten gampil nampi tiyang kalawau. Lumantar waosan ing menika kula panjenegan ningali pitutur Rasul Paulus supados ing paagesangan sami nampi setungal lan setunggalaipun .Pasamuwan Roma ingkang nampi serat Paulus menika madeg saking pinten-pinten tiyang kanthi latar belakang kabudayan lan tradisi ingkang benten . Ketingalipun karana benten malah ndamel tiyang ing Roma sedaya mboten saged nampi kawontenan sanes kepara sami menggalih awon tumrap liyan. Saking kawontenan kasebat murugaken patunggilan ing Roma keancem ngalami padudon lan crah. Pramila, rasul Paulus paring pitutur tumrap sedaya supados sami-sami nampi kados Kristus sampun nampi sedaya manungsa kagem kaluhuran Asmanipun Gusti. Estu mboten sadayaning tiyang ing pagesangan gampil dipuntampi. Kadhang-kula lan panjenengan kedah gesang sareng tiyang ingkang nyisahaken, malah ndamel kula lan panjenengan rumaos mboten nyaman. Limrahipun tiyang-tiyang kados menika kula panjenengan tebihi amargi bandhe nyisahaken. Menapa sikap menika leres? emuta kados pundi Gusti Yesus sampun nampi kula lan panjenengan tiyang dosa. Sumangga kula lan penjenengan ngunjukaken pamartunuwun awit sih katresnanipun kanthi sami-sami nampi kados Kristus sampun nampi kula lan penjenengan sami.
Gesang ing katresnan
Senin, 18 Mei Roma 12:9-21 12:9 Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. 12:10 Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. 12:11 Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. 12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! 12:13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! 12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! 12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! 12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! 12:17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! 12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! 12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. 12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. 12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! Manungsa asring disebat mahkluk sosial, artosipun bilih manungsa mboten saged gesang piyambak tanpa sesambetan kaliyan tiyang sanes. Menika gadhah artos salah setunggaling tiyang badhe ngraosaken gesang dados manungsa ingkang limrah bilih piyambakipun nggadhahi sesambetan kaliyan tiyang sanes. menika ingkang mbentenaken antawis manungsa lan titah sanesipun Gesang kebaking katresnan tumrap sinten kemawon inggih menika ciri umat kagungannipun Gusti. Dhawuhipun Gusti Allah ingkang utami inggih menika tresna kaliyan sinten kemawon. Nindakaken mboten namung karana dados mahkluk sosial nanging amargi Gusti Allah inggih punika menika asih. Supados nindakaken katresnan kanthi sae lan leres, Gusti Yesus nyuwun umat-ipun tansah ndhasaraken dhiri ing sesambetan ingkang kiyat kaliyan Panjenenganipun, Amargi Gusti Allah piyambak lumantar Yesus Kristus sampun tresna tumrap umat-ipun kanthi masyarahaken nyawa-ipun . Sedaya tiyang Kristen saking lare dumugi tiyang sepuh gampil wicanten bab katresnan sanadyan kasunyatanipun gesang kula lan panjenengan asring benten kaliyan gesang ing katresnan. Wonten saperangan tiyang ingkang gadhah pamanggih bilih rikala mboten gadhah masalah kaliyan sanes lan tansah mesem lan sae kaliyan tiyang sanes mila sampun gesang ing katresnan. Nanging lumantar waosan dinten kula lan panjenengan sianu saking Paulus kados pundi caranipun setunggaling tiyang Kristen gesang ing katresnan menika. Sumangga kula panjenengan nindakaken katresnan kanthi tulusing manah, mboten namung ing njawi kemawon.
Gusti mboten nilar kula lan panjenengan
Minggu. 17 Mei Roma 8:28 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Saben tiyang mesthi nggadhahi pengalaman gesang ingkang maneka warni punapa ingkang ngremenaken, endah, dumugi ingkang pait, getir lan nyakitaken. Kathah tiyang nalika dipunabenajengaken ing lelampahan gesang ingkang mboten nyekecakaken kadosdene; kasangsaran, gerah, krisis ing gesang lan sanesipun racakipun nggadhahi respon ingkang kirang sae kados ingkang njalari tiyang kecalan pangajeng-ajeng, ngresula, sambat lan ngrundel. Watak ingkang mekaten malah inggih punika dados pambengan kula lan penjenengan kagem mangertosi karsanipun Gusti ing gesang kula lan panjenengan. Kamangka asring Gusti ngagem prastawa-pratawa ingkang miturut kula lan panjenengan kalebet bab ingkang awon kalawau dados pirantos lan sarana kangge nyawisaken lan netepi rencana-ipun kagem kula lan panjengenan. Waosan ing dinten menika nyatakaken menawi Gusti nderek nyambut damel ing sadengah kawontenan, ingkang gadhah artos sedaya kawontenan lan kahanan, kalebet bab-bab ingkang awon lan mboten nyekecakaken manah. Punika wigatos sanget tumrap kula panjenengan anggenipun Gusti makarya, amargi Panjenenganipun mboten nate njanjikaken menawi gesang tiyang pitados menika bebas saking masalah. Kula panjenengan kedah emut, gesang tanpa nglangkungi alun lan gelombang mboten badhe nate ngasilaken setunggaling tiyang nahkoda ingkang sae. Kepara lumantar masalah tansah wonten maksud lan rancanganipun Gusti ingkang endah, salah setunggalipun inggih menika kagem kula lan panjenegan samsaya rumaket kaliyan Gusti lan sinau pasrah sumarah, tansah gumantung kaliyan Gusti
Sabtu, 16 Mei Kanthi sawetahing manah Roma 1:8 – 151:8 Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia. 1:9 Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil Anak-Nya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu: 1:10 Aku berdoa, semoga dengan kehendak Allah aku akhirnya beroleh kesempatan untuk mengunjungi kamu. 1:11 Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, 1:12 yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku. 1:13 Saudara-saudara, aku mau, supaya kamu mengetahui, bahwa aku telah sering berniat untuk datang kepadamu–tetapi hingga kini selalu aku terhalang–agar di tengah-tengahmu aku menemukan buah, seperti juga di tengah-tengah bangsa bukan Yahudi yang lain. 1:14 Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar. 1:15 Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma. Saben pandamelan ingkang dipuntindakaken dening salah setunggaling tiyang utawi pantha tamtu gadhah tujuan supados kasil. Sedaya Tujuan kasebat saged kelampahan menawi dipuntindakaken kanthi saestu. Rikala nindakaken pandamelan tertamtu, saben tiyang kedah ngagem kesagedan utawi kesagahan kanthi estu supados panyambut damel ingkang katindakaken saged kasil kanthi sae. Rasul Paulus paring tuladha saking menapa ingkang piyambakipun tindakaken ing papan peladosanipun. Tuladhanipun inggih menika Rasul Paulus kanthi estu nindakaken tanggeljawabipun sinaosa dipunabenajengaken kaliyan kasisahan. Saking tantangan ingkang diadepi rasul Paulus, piyambakipun nyerat serat dhateng jemaat ing Roma kanthi pangajab ngiyataken iman tiyang Roma dhumateng Gusti Yesus lan ngiyataken patunggilan ingkang wonten. Iman dhumateng Gusti Yesus lan wetahipun inggih menika cara kange ngadepi kasisahan ingkang diadepi dening pasamuwan. Rasul Paulus sinaosa ing kawontenan ingkang awrat tetep ngiyataken jemaat ingkang ugi saweg ngadepi tantangan. Peladosan rasul Paulus dados kekiyatan kagem tiyang pitados supados ing sedaya peladosan kedah ditindakaken kanthi sawetahing manah. Sinaosa piyambakipun ngadepi kasisahan utawi tantangan nanging tumemening manah kedah dipunwujudaken supados tujuwan saking pandamelan utawi peladosan kelampahan. Kula panjenengan kedah emut menapa mawon ingkang dipuntindakaken inggih menika tanggel jawab dhateng Gusti ingkang sampun diparingaken tumrap kula panjenengan. Tetepa setya ngadosi Gusti ing saben bab kanthi gumoloning manah.
