Minggu, 13 September Mencari Tuhan Selagi Ia Berkenan Ditemui Yesaya 55:6-11 ————————————————————————————————————————– Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti pernah mencari sesuatu, entah mencari pekerjaan; mencari penghasilan; mencari kebahagiaan; atau mencari banyak hal yang kita anggap penting. Tetapi di tengah kesibukan itu, terkadang kita justru lupa untuk mencari Tuhan. Di dalam Yesaya 55:6 disitu berkata “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” Ayat ini merupakan undangan Tuhan supaya kita datang kepada Tuhan. Maksudnya adalah Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk mencari, dan kembali kepada Tuhan. Mencari Tuhan bukan hanya datang beribadah atau berdoa ketika sedang mengalami masalah. Tetapi mencari Tuhan berarti sungguh-sungguh mengarahkan hidup kita kepada Tuhan. Di ayat 7 disitu juga berkata “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada Tuhan…” artinya, mencari Tuhan juga berarti kita berani meninggalkan jalan yang salah. Kalau mungkin selama ini ada kebiasaan, sikap, atau dosa yang membuat kita jauh dari Tuhan, kita dipanggil untuk kembali kepada Tuhan. Tetapi ada satu hal yang harus kita tahu bahwa Tuhan itu tidak akan pernah menolak orang yang datang kepada Tuhan dengan hati yang mau bertobat karena Tuhan itu mengasihi dan mau mengampuni kita. Tetapi perjalanan dalam mencari Tuhan, kita tidak akan selalu memahami jalan yang Tuhan izinkan terjadi. Mengapa? Diayat 8 disitu dikatakan “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukan jalan-Ku.” Artinya rancangan dan jalan yang Tuhan sediakan buat kita tidak selalu sesuai dengan apa maunya kita, tetapi setiap rancangan dan jalan Tuhan itu pasti yang terbaik buat kita. Namun yang sering terjadi, kita ingin Tuhan bekerja sesuai dengan keinginan kita. Ketika doa kita belum dijawab atau keadaan kita tidak sesuai harapan, kadang-kadang kita mulai bertanya kepada Tuhan. Tetapi melalui Firman Tuhan ini mengajak kita untuk tetap percaya kepada Tuhan bahwa rancangan Tuhan itu lebih indah daripada rancangan kita. Ayat 11 mengatakan Firman Tuhan tidak akan kembali sia-sia. Seperti hujan yang turun dan membuat tanah menghasilkan, begitu juga dengan Firman Tuhan bekerja dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mencari banyak hal dalam hidup kita sampai lupa untuk mencari Tuhan. Selagi Tuhan memberikan kesempatan, mari kita datang kepada Tuhan. Dan kalau saat ini kita merasaa jauh dari Tuhan, mari kita kembali. Stefany
Hati Yang Bersyukur
Jumat, 11 September Hati Yang Bersyukur Lukas 17:11-19 ————————————————————————————————————————– Pernahkah kita berada dalam situasi yang sangat mendesak, meminta tolong kepada seseorang dengan sungguh-sungguh, namun ketika masalahnya selesai, Anda saking senangnya sampai lupa mengucapkan terima kasih? Ini adalah hal yang sangat sering terjadi, dan inilah inti dari cerita Alkitab hari ini. Bacaan kita hari ini bercerita tentang sepuluh orang yang menderita sakit kusta. Pada zaman itu, kusta menjadi penyakit menular yang sangat ditakuti. Penderitanya harus diusir dari desa, dijauhi oleh keluarga, dan hidup menderita di pengasingan. Ketika mereka melihat Yesus dan berteriak memohon belas kasihan. Yesus mengabulkan doa mereka. Saat mereka sedang berjalan menuruti perintah Yesus, mukjizat terjadi: kesepuluh orang itu sembuh total! Kulit mereka kembali bersih. Bayangkan betapa gembiranya mereka! Namun, di sinilah bagian yang perlu menjadi perhatian bagi kita. Dari sepuluh orang yang disembuhkan, hanya satu orang yang memutuskan untuk putar balik, mencari Yesus. Yesus pun bertanya, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir (sembuh)? Di manakah yang sembilan orang itu?” Ke mana perginya kesembilan orang lainnya? Mereka sibuk menikmati “berkat” yang luar biasa itu, tetapi mereka lupa kepada “Sang Pemberi Berkat”. Apakah kita sering menjadi seperti kesembilan orang tersebut? Seringkali kita rajin mencari Tuhan saat sedang butuh. Saat anak sedang sakit, atau saat sedang banyak masalah di pekerjaan, kita berdoa dan menangis memohon pertolongan Tuhan. Namun, ketika doa itu terjawab, dan keadaan kembali aman, kita sering kali langsung berlari melanjutkan hidup dan lupa menyediakan waktu khusus untuk mengucapkan syukur kita kepada Allah,Orang yang kembali kepada Yesus tadi mengajarkan kita bahwa, hati yang bersyukur tidak terjadi secara otomatis. Ada proses untuk menunda sebentar kesenangan kita, untuk mengingat dari mana semua kebaikan itu berasal. Tuhan tidak gila hormat, Ia tidak membutuhkan ucapan terima kasih kita untuk membuat-Nya merasa hebat. Namun, saat kita bersyukur, hati kita sendiri yang diuntungkan karena kita diajak untuk terus menyadari betapa besarnya pemeliharaan Allah dalam kehidupan kita. Natan
Percaya Kepada Tuhan Dengan Segenap Hati
Kamis, 10 September Percaya Kepada Tuhan Dengan Segenap Hati Amsal 3:5-6 ————————————————————————————————————————– Dalam kehidupan, manusia cenderung menyukai segala sesuatu yang pasti. Juga, yang sesuai dengan apa yang menjadi setiap rencana dalam kehidupan kita. Kita sering membuat rencana A, rencana B, rencana C, dan harapannya semua rencana itu berjalan menurut logika dan pemikiran kita. Apabila, di dalam rencana-rencana itu tadi, ada masalah atau tantangan. Respons pertama, yang kita lakukan biasanya mencari jalan keluar menurut pengertian dan logika kita. Pada akhirnya, rasa cemas dan ingin mengendalikan situasi adalah hasil dari respons kita kepada masalah yang sedang kita hadapi. Bacaan kita hari ini mengajarkan kita akan kebalikan konsep dunia dalam melihat diri kita dan mengajak kita untuk belajar melepaskan kendali akan hidup kita. Dan tiga prinsip yang menjadi pijakan dari bacaan kita saat ini adalah Pertama, percaya dengan segenap hati. Kata percaya dalam bahasa inggris ada Believe, dan Trust. Dalam pengertiannya Believe adalah percaya dengan apa yang terlihat atau suatu kepastian. Akan tetapi, Trust menjadikan kita mempercayakan meski itu belum pasti. Dari bacaan kita, mengajak untuk Trust. Mempercayai Tuhan dalam kehidupan, berarti tidak lagi menyisakan ruang kosong untuk keraguan. Dan melepaskan kendali hidup kita kepada Tuhan, yang adalah pemilik kehidupan kita. Kedua, Jangan Bersandar pada pengertianmu sendiri. Dalam hal ini, bukan Tuhan meminta kita tidak melakukan setiap tugas dan panggilan kita masing-masing. Tuhan tetap meminta kita bertanggungjawab, dan bekerja keras dalam kehidupan kita. Melalui bacaan hari ini, mengingatkan keterbatasan logika kita, karena kita hanya melihat saat ini dan masa lalu. Tetapi Allah melihat seluruh kehidupan kita. Kita memiliki keterbatasan, ruang dan waktu. Maka, belajar untuk meminta hikmat Allah dalam menjalani hidup dan kehidupan. Ketiga, menerima janji yang pasti, Tuhan akan meluruskan jalanmu. Jalan yang lurus bukan berarti tanpa kerikil, jalan tanpa tantangan. Akan tetapi, Allah berjanji bahwa Ia akan membawa kita tepat pada tujuan dan rencana terbaik Tuhan. Mari, kita refleksikan hidup kita, bagian mana yang kita pegang erat, dan apa yang menjadi kecemasan kita. Juga, perlu disadari kita tidak akan mampu memegang erat beban-beban itu. Belajar percaya kepada Tuhan dengan segenap hati, karena Ia tahu yang terbaik bagi kehidupan kita. –Natan
Hikmat yang Berasal dari Allah
Rabu, 9 september Hikmat yang Berasal dari Allah Bacaan: Yakobus 3:13-18 Ayat Emas : “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.” ————————————————————————————————————————– Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menganggap orang yang pintar, berpendidikan tinggi, atau pandai berbicara sebagai orang yang berhikmat. Namun melalui Yakobus 3:13-18, kita belajar bahwa hikmat yang sejati bukan hanya soal seberapa banyak pengetahuan yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana pengetahuan itu terlihat dalam kehidupan kita. Yakobus berkata, “Siapa di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan.” Artinya, orang yang memiliki hikmat dari Tuhan akan menunjukkan hal itu melalui sikap dan perbuatannya. Yakobus juga memberikan peringatan tentang hikmat yang bukan berasal dari Allah. Hikmat dunia dapat membuat seseorang menjadi iri hati, mementingkan diri sendiri, suka membanggakan diri, bahkan menimbulkan pertengkaran. Kita bisa saja merasa paling benar, paling tahu, dan sulit menerima nasihat orang lain. Jika pengetahuan yang kita miliki justru membuat kita merendahkan orang lain, maka pengetahuan itu belum tentu menunjukkan hikmat yang berasal dari Allah. Begitu juga sebaliknya, hikmat yang berasal dari Allah terlihat melalui kehidupan yang murni, membawa damai, ramah, penuh belas kasihan, tidak memihak, dan tidak munafik. Orang yang berhikmat bukanlah orang yang selalu ingin menang dalam perdebatan, tetapi orang yang mampu memilih untuk membawa damai. Ia tidak menggunakan perkataan untuk menyakiti atau menjatuhkan orang lain, tetapi menggunakan perkataannya untuk membangun dan menguatkan. Dalam kehidupan kita, hikmat seperti ini sangat dibutuhkan. Di tengah dunia yang penuh dengan perbedaan pendapat, persaingan, dan konflik, kita mudah sekali terbawa emosi. Bahkan dalam keluarga, pertemanan, pekerjaan, maupun pelayanan, perbedaan kecil dapat menjadi pertengkaran jika kita lebih mengutamakan ego. Karena itu, kita perlu meminta hikmat dari Allah supaya kita mampu merespons setiap keadaan bukan berdasarkan emosi, tetapi berdasarkan kasih dan kehendak Tuhan. Hikmat dari Allah tidak hanya membuat kita tahu apa yang benar, tetapi juga memberikan kemampuan untuk melakukan apa yang benar. Karena itu, marilah kita tidak hanya mengejar kepandaian dan pengetahuan, tetapi juga meminta kepada Tuhan hati yang rendah, lembut, dan penuh kasih. Biarlah orang lain dapat melihat hikmat Tuhan bukan hanya melalui perkataan kita, tetapi terutama melalui cara kita hidup. Maka dari itu mari sekarang kita bertanya dan merefleksikan pada diri kita. Apakah hikmat yang kita miliki sudah menghasilkan kedamaian dan kebaikan bagi orang lain? Atau justru pengetahuan dan keinginan kita membuat kita mudah sombong, iri, dan merasa paling benar? Mari meminta kepada Tuhan hikmat yang berasal dari atas, supaya hidup kita menghasilkan buah yang baik dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. –Adya
Damai Sejahtera Kristus Memerintah
Sabtu, 12 September Damai Sejahtera Kristus Memerintah Kolose 3:15-17 ————————————————————————————————————————– Kekhawatiran pasti pernah muncul dalam kehidupan kita sebagai manusia. Ada kekhawatiran tentang pekerjaan, masa depan, relasi dengan sesama, atau sekadar rasa lelah menghadapi rutinitas sehari-hari. Di tengah semua kebisingan itu, rasanya sulit sekali menemukan ketenangan.Namun, melalui suratnya kepada jemaat di Kolose, Rasul Paulus mengingatkan kita akan satu hal yang sangat penting: kita dipanggil untuk membiarkan damai sejahtera Kristus memerintah di dalam hati kita. Bukan masalah kita yang memerintah, bukan juga emosi kita, melainkan damai dari Tuhan.Dalam ayat 15, kata “memerintah” yang digunakan di ayat ini memiliki arti seperti seorang wasit dalam sebuah pertandingan. Bayangkan sebuah pertandingan olahraga yang memanas; wasitlah yang berhak meniup peluit, menenangkan para pemain, dan membuat keputusan akhir. Begitu juga seharusnya dengan hati kita. Saat kemarahan, kekecewaan, rasa takut, atau kebingungan mulai menguasai, biarkan damai sejahtera dari Yesus meniup peluitnya. Biarkan damai itu yang memutuskan apa yang harus kita katakan dan lakukan selanjutnya. Bagaimana caranya agar damai itu bisa menetap dan benar-benar berkuasa di hati kita? Kita tidak bisa merasakan damai jika pikiran kita terus-menerus diisi dengan berita negatif, keluhan, atau kekhawatiran dunia.Paulus berpesan, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu.” Kita perlu secara aktif mengisi hati kita dengan Firman Tuhan. Seringkali kita kehilangan rasa damai karena kita melakukan segala sesuatu demi membuktikan diri kita hebat, atau karena kita ingin menyenangkan manusia. Ayat ke-17 memutarbalikkan cara berpikir ini. Lakukanlah semuanya di dalam nama Tuhan Yesus. Ketika motivasi kita berubah menjadi, “Aku melakukan ini untuk Tuhan”, maka beban berat untuk tampil sempurna akan terangkat. Kita akan melakukan pekerjaan kita dengan sukacita dan damai-Nya akan kembali mengalir.Natan
Hidup Bijaksana di Tengah Dunia
Selasa, 8 September Hidup Bijaksana di Tengah Dunia Bacaan: Efesus 5:15-21 Ayat Emas : “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” ————————————————————————————————————————– Dalam kehidupan sehari-hari, kita diperhadapkan dengan banyak pilihan. Ada pilihan yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan, tetapi ada juga pilihan yang dapat menjauhkan kita dari kehendak-Nya. Karena itu, Rasul Paulus dalam Efesus 5:15-21 mengingatkan kita untuk memperhatikan bagaimana kita hidup. Ia berkata, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” Hidup sebagai orang percaya bukan hanya tentang mengetahui firman Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana kita menerapkannya dalam setiap keputusan dan tindakan dengan bijaksana. Paulus mengingatkan agar kita menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya karena zaman ini adalah jahat. Waktu adalah pemberian Tuhan yang tidak dapat kita ulang kembali. Sering kali kita menggunakan waktu untuk hal-hal yang tidak benar-benar membangun kehidupan kita. Kita bisa terlalu sibuk mengejar kesenangan, pekerjaan, uang, media sosial, atau berbagai hal lainnya sampai lupa menyediakan waktu untuk Tuhan. Karena itu, hidup bijaksana berarti mampu menentukan apa yang benar-benar penting dan menggunakan waktu untuk sesuatu yang berkenan kepada Tuhan. Kemudian Paulus berkata, “Usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Ini berarti dalam menjalani kehidupan, kita tidak hanya bertanya, “Apa yang saya inginkan?” tetapi juga bertanya, “Apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup saya?” Tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik bagi kita. Terkadang Tuhan mengarahkan kita kepada jalan yang tidak mudah, tetapi justru melalui jalan itulah Tuhan membentuk dan mendewasakan iman kita. Paulus juga mengingatkan agar orang percaya tidak dikuasai oleh anggur, tetapi hendaknya penuh dengan Roh. Artinya, kehidupan kita jangan dikendalikan oleh keinginan dan hawa nafsu pribadi, melainkan oleh Roh Kudus. Orang yang dipenuhi Roh Kudus akan menunjukkan perubahan dalam kehidupannya: mampu bersyukur, membangun sesama, memuji Tuhan, dan hidup dalam kasih. Karena itu, kehidupan orang percaya seharusnya dapat menjadi kesaksian di tengah dunia yang sering kali kehilangan arah. Kita harus menggaris bawahi bahwa hidup bijaksana bukan berarti kita harus menjadi orang yang sempurna. Hidup bijaksana berarti kita mau terus belajar memilih yang benar, menggunakan waktu dengan baik, mencari kehendak Tuhan, dan membiarkan Roh Kudus memimpin kehidupan kita. Di tengah dunia yang menawarkan begitu banyak pilihan, kita dipanggil untuk tidak sekadar mengikuti apa yang sedang populer atau dilakukan banyak orang. Kita dipanggil untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Dari renungan ini kita sebagai manusia bisa merefleksikan, Apakah selama ini kehidupan kita sudah menunjukkan hikmat dari Tuhan, atau justru kita lebih sering mengikuti keinginan dan keadaan di sekitar kita? Mari belajar menggunakan setiap kesempatan yang Tuhan berikan untuk melakukan yang baik, mengasihi sesama, dan semakin dekat kepada-Nya. Sebab hidup kita adalah kesempatan dari Tuhan untuk menjadi terang dan kesaksian di tengah dunia. –Adya
Yesus Gembala yang Baik
Senin, 7 September Yesus Gembala yang Baik Bacaan : Yohanes 10:11-18 Ayat Emas : “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” ————————————————————————————————————————– Dalam kehidupan ini, kita sering kali menghadapi berbagai persoalan yang membuat kita takut, bingung, dan merasa sendirian. Ada saatnya kita tidak tahu harus melangkah ke arah mana dan kepada siapa untuk meminta pertolongan. Namun melalui Yohanes 10:11-18, Yesus mengingatkan kita bahwa kita tidak pernah berjalan sendirian, sebab Ia adalah Gembala yang Baik. Yesus berkata, “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” Perkataan ini menunjukkan betapa besar kasih Yesus kepada kita. Yesus membandingkan diri-Nya dengan gembala upahan. Seorang gembala upahan akan meninggalkan domba ketika bahaya datang karena domba itu bukan miliknya. Tetapi Yesus berbeda. Ia tidak meninggalkan domba-domba-Nya ketika menghadapi bahaya. Ia justru tetap tinggal, melindungi, menjaga, dan bahkan rela memberikan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya. Hal ini menunjuk kepada pengorbanan Yesus di kayu salib. Ia rela menderita dan mati supaya manusia memperoleh keselamatan. Jadi, kasih Yesus bukan kasih yang hanya diberikan ketika keadaan kita baik, tetapi kasih yang tetap ada bahkan ketika kita berada dalam kesulitan. Yesus juga berkata bahwa “Ia mengenal domba-domba-Nya”. Ini berarti Tuhan mengenal kita sampai ke dalam-dalamnya. Ia mengetahui apa yang sedang kita pikirkan, pergumulan yang kita hadapi, ketakutan yang kita sembunyikan, bahkan air mata yang tidak dilihat oleh orang lain. Mungkin dalam keadaan tertentu kita merasa Tuhan diam atau jauh, tetapi sebenarnya Ia tetap hadir dan menyertai kita. Kita tidak selalu mengerti mengapa Tuhan mengizinkan suatu persoalan terjadi, tetapi kita dapat percaya bahwa Sang Gembala tetap memegang kehidupan kita dan mengetahui jalan yang terbaik bagi kita. Sebagai domba, kita dipanggil untuk “mendengarkan suara Sang Gembala dan mengikuti-Nya”. Mendengarkan suara Yesus berarti membuka hati terhadap firman Tuhan dan belajar menaati kehendak-Nya. Tidak semua jalan yang Tuhan tuntun terasa mudah. Kadang kita harus melewati lembah pergumulan, kehilangan, kekecewaan, dan ketidakpastian. Namun kita dapat terus berjalan karena kita tahu siapa yang sedang menuntun kita. Kita tidak perlu mengetahui seluruh jalan di depan kita, kita hanya perlu percaya kepada Gembala yang berjalan bersama kita. Karena itu, apa pun keadaan kita hari ini, jangan merasa bahwa kita sendirian. Ketika hidup terasa berat, ketika masa depan tidak jelas, ketika doa-doa kita seolah belum mendapat jawaban, ingatlah bahwa Yesus tetap menjadi Gembala yang Baik. Ia mengenal kita, mengasihi kita, menjaga kita, dan telah memberikan diri-Nya bagi kita. Tugas kita adalah tetap percaya, mendengarkan suara-Nya, dan mengikuti langkah-Nya. Sebab selama kita berada dalam tuntunan Sang Gembala, kita memiliki alasan untuk tetap berharap dan tidak menyerah. — Adya
MENARUH HARAPAN KEPADA TUHAN
Minggu, 6 September MENARUH HARAPAN KEPADA TUHAN (Mazmur 37:1-11) ————————————————————————————————————————– Beberapa tahun terakhir, kita melihat ketidakadilan, korupsi, kemiskinan, sulitnya mencari pekerjaan, harga kebutuhan pokok yang meningkat, dan berbagai persoalan sosial lainnya yang terjadi. Dalam realita ini, kita juga melihat semakin banyak orang yang berlaku tidak benar justru hidupnya tampak dipenuhi dengan kebahagiaan dan keberhasilan. Sebaliknya, orang yang berusaha hidup jujur dan setia pada Tuhan harus berjuang dengan susah payah. Mazmur 37 ditulis sebagai nasihat bagi orang-orang yang terganggu melihat kehidupan orang fasik yang tampak begitu makmur. Pemazmur mengajak supaya “jangan marah dan jangan iri” melihat keberhasilan orang fasik. Marah dan iri akan mudah membuat hati terjerat, dan ini bukan jawaban bagi masalah tersebut. Pemazmur ingin agar umat dapat meneguhkan hati dan menaruh harapan mereka hanya kepada Tuhan. Menaruh harap kepada Tuhan, bukan berati bahwa semua persoalan kita akan terselesaikan, tetapi ditengah berbagai pergumulan dan persoalan hidup yang kita hadapi, tangan Tuhan tidak pernah meninggalkan setiap orang yang berharap kepada-Nya. Harapan itu harus ditunjukkan melalui aksi yang nyata, tidak hanya diam dan berpangku tangan saja. Karena itu pemazmur juga mengajak kita untuk dapat melakukan apa yang menjadi bagian kita. Tetaplah bekerja dengan sungguh-sungguh, hidup jujur, peduli kepada sesama, melakukan apa yang benar, dan serahkanlah hasilnya kepada Tuhan. Jalani bagian kita dengan setia, karena Tuhan tahu apa yang terbaik bagi hidup kita. Jangan habiskan waktu kita untuk membandingkan diri dengan orang lain. Tetaplah hidup dengan benar, tetaplah bersabar, dan tetaplah menaruh harap kepada Tuhan. Karena keberhasilan orang lain bukan berarti kegagalan kita. – Salomo
HIDUP ADALAH KRISTUS
Sabtu, 5 September HIDUP ADALAH KRISTUS (Filipi 1:21-30) ————————————————————————————————————————– Saat ini, kita semua pasti merasakan kehidupan yang tidak mudah. Entah itu karena situasi ekonomi, sosial maupun politik di negara ini yang menimbulkan kekhawatiran, terutama ketika kita melihat berbagai berita, ada perbedaan pendapat dan kepentingan yang terjadi di sekitar kita. Keadaan ini bisa saja menimbulkan ketakutan dan kegelisahan bagi masyarakat yang berada pada kelas menengah ke bawah. Paulus juga dalam keadaan yang tidak mudah pada saat itu. Ia menghadapi tekanan, penolakan, bahkan ada kemungkinan kehilangan nyawanya. Namun di tengah situasi yang demikian, ia tidak takut dan gelisah, Paulus justru berkata “karena bagiku hidup adalah Kristus”. Paulus tidak mengatakan bahwa hidup yang sementara dijalaninya mudah. Tetapi ia sedang mengatakan bahwa apapun yang di alaminya, Kristus tetap menjadi pusat dalam hidupnya. Situasi yang dihadapinya bisa berubah setiap saat, tetapi imannya kepada Kristus tidak berubah. Hidup adalah Kristus berarti kita mengarahkan tujuan, pilihan dan identitas kita kepada-Nya. Hidup dalam Kristus harus diwujudnyatakan dalam kehidupan kita setiap hari, melalui pekerjaan kita, cara kita menggunakan uang, hubungan kita dengan keluarga, cara kita berkomunikasi dengan orang lain, cara kita mengambil keputusan, dan juga dalam cara kita menggunakan media sosial. Hidup adalah Kristus berarti kita tetap memilih hidup dalam kasih, kejujuran dan kesetiaan kepada Tuhan, apapun keadaaan yang kita hadapi. Karena itu jangan biarkan kekhawatiran, keadaan ekonomi, maupun perbedaan politik menentukan hidup kita, tetapi biarkanlah Kristus yang menentukan arah hidup kita. Situasi ekonomi bisa berubah, keadaan politik bisa berubah, pejabat pemerintahan akan terus berganti. Tetapi Kristus tidak akan berubah. – Salomo
KASIH ADALAH KEGENAPAN HUKUM TAURAT
Jumat, 4 September KASIH ADALAH KEGENAPAN HUKUM TAURAT (Roma 13:8-10) ————————————————————————————————————————– In this economy, tentu ada kebutuhan mendesak dan tidak dapat dihindari sehingga memaksa banyak orang untuk mengajukan pinjaman atau berhutang kepada orang lain. Karena itu, Paulus menasihatkan supaya “janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapa pun juga”. Namun hal ini bukan berarti Paulus melarang untuk berhutang bila dalam keadaan yang mendesak. Persoalannya adalah ketika kita berhutang untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, lalu tidak memiliki tanggung jawab untuk membayarnya kembali. Sebagai orang Kristen, kita dipanggil untuk hidup dengan jujur dan bertanggung jawab. Jika kita berhutang kepada orang lain, maka haruslah kita berusaha bertanggung jawab dengan melunasi hutang itu. Jangan sampai kita mengabaikan kewajiban kita sehingga membuat orang lain mnerasa dirugikan. Paulus juga mengingatkan kita tentang satu “hutang” yang berbeda, yaitu “kasih”. Hutang kasih adalah hutang yang tidak pernah selesai. Mengapa demikian? Karena kasih bukanlah sesuatu yang hanya dilakukan sekali saja. Kasih adalah dasar dari kehidupan orang percaya. Ketika kita mengasihi sesama, maka kita tidak akan dengan sengaja merugikan, menipu, menyakiti, atau mengambil hak orang lain. Karena itu Paulus mengatakan bahwa kasih adalah kegenapan Hukum Taurat. Hukum taurat mengajarkan manusia untuk hidup benar dihadapan Tuhan dan sesama. Namun semua perintah itu dirangkum menjadi satu dalam hukum kasih. Menjadi orang Kristen tidak hanya mengetahui tentang banyak aturan, tetapi bagaimana kita mewujudkan kasih dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang mengasihi tidak akan melakukan kejahatan kepada orang lain. Kasih itu harus terlihat dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam persekutuan, dalam pergaulan, bahkan dalam cara kita menggunakan uang dan memenuhi kewajiban kita. Mari kita belajar untuk hidup bertanggung jawab, sederhana, dan tidak membebani orang lain dengan sikap kita. Dan lebih daripada itu, marilah kita terus membayar “hutang kasih” kita kepada sesama, karena Kristus telah lebih dahulu membayar hutang kita dengan kasih-Nya. Amin – Salomo
