Senin, 21 September “MENGHITUNG HARI-HARI DENGAN BIJAKSANA” Mazmur 90:1-12 ————————————————————————————————————————– Setiap manusia memiliki sesuatu yang sama: kita semua diberi waktu yang terbatas. Tidak peduli kaya atau miskin, tua atau muda, terkenal atau sederhana, setiap orang menjalani hidup dalam batas waktu yang Tuhan berikan. Kita sering menghitung banyak hal dalam kehidupan: menghitung uang, menghitung keuntungan, menghitung usia, menghitung keberhasilan, bahkan menghitung kekurangan dan kesalahan orang lain. Tetapi ada satu hal yang sering kita lupa hitung, yaitu hari-hari yang Tuhan percayakan kepada kita. Mazmur 90 merupakan doa Musa. Dalam mazmur ini, Musa mengingatkan manusia bahwa hidup ini singkat, sementara Allah kekal. Karena itu, pemazmur berdoa: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Ayat ini bukan sekadar mengajak kita menghitung berapa banyak hari yang sudah kita jalani. Lebih dalam daripada itu, kita diajak untuk menyadari nilai setiap hari dan menggunakannya dengan bijaksana di hadapan Tuhan. Musa memulai doanya bukan dengan membicarakan singkatnya hidup manusia, tetapi dengan mengingat siapa Allah. Allah adalah tempat perteduhan. Artinya, di tengah kehidupan yang berubah-ubah, Tuhan tetap menjadi tempat kita berpegang. Manusia berubah. Keadaan berubah. Kesehatan berubah. Pekerjaan berubah. Ekonomi berubah. Bahkan orang-orang yang kita kasihi juga dapat berubah dan meninggalkan kita. Tetapi Tuhan tidak berubah. Karena itu, ketika kita menghitung hari-hari kehidupan kita, jangan hanya melihat berapa banyak masalah yang sudah kita lewati. Lihatlah juga berapa banyak pertolongan Tuhan yang sudah kita alami. Mazmur hari ini berbicara tentang menghitung hari. Bukan agar hari-hari segera lewat, tetapi supaya seseorang memiliki hati yang bijaksana (ay.12). Mengapa pemazmur meminta agar Allah mengajar dia untuk menghitung hari? Alasannya ada di dalam ayat sebelumnya (ay.3-6) dimana pemazmur merenungkan mengenai kesementaraan hidup manusia. Ia memakai ungkapan “debu” dan “rumput” untuk menggambarkan hubungan yang sebenarnya, antara Sang Pencipta yang begitu perkasa dan dirinya yang begitu lemah. Itulah sebabnya pemazmur meminta pada Allah agar dia diberikan kesadaran akan kesementaraannya, sehingga ia selalu ingin memiliki hati yang berhikmat dan hidup yang bermakna. Mazmur 90:1–12 mengingatkan kita tentang dua hal besar: Allah itu kekal, tetapi manusia itu fana. Karena itu, hidup kita harus dijalani dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah pemberian Tuhan. Kita tidak tahu berapa banyak hari yang masih tersisa. Tetapi kita tahu bahwa hari ini ada di tangan Tuhan. Maka jangan hanya menghitung berapa umur kita. Mari menghitung: Berapa banyak kasih yang sudah kita berikan? Berapa banyak orang yang sudah kita tolong? Berapa banyak kesempatan yang sudah kita gunakan untuk melayani? Berapa banyak waktu yang sudah kita gunakan untuk Tuhan? Kiranya doa Musa menjadi doa kita: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12) Kiranya Tuhan menolong kita bukan hanya memiliki hari-hari yang panjang, tetapi memiliki hari-hari yang bermakna, berguna, dan menjadi berkat. Jangan hanya menghitung umur. Hitunglah kesempatan untuk hidup bagi Tuhan. Mari saudara yang dikasihi Tuhan, jadilah orang yang mengerti kehendak Tuhan dengan mempergunakan waktu yang ada ini dengan cara hidup yang bijaksana, yang seturut dengan kehendak Tuhan. Hari ini, mari kita bersyukur untuk waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Akhiri semua kegiatan hari ini dengan berterimakasih kepada Tuhan. Cukupkanlah 24 jam itu buat diri kita. Ambillah waktu untuk berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan. Hari esok akan menjadi hari yang lebih baik dari hari ini dan kitapun akan menjadi pribadi yang semakin bijaksana dari hari ke hari oleh karena hikmat yang dari Tuhan. Yosua
“SALING MEMBANGUN DALAM KASIH”
Sabtu, 19 Sep tember “SALING MEMBANGUN DALAM KASIH” Roma 15:1-7 ————————————————————————————————————————– Dalam kehidupan di dunia ini, kita sebagai mahkluk sosial tidak selalu memiliki pendapat, karakter, kebiasaan, dan cara berpikir yang sama. Ada orang yang kuat dalam iman, tetapi ada juga yang sedang lemah. Ada yang mudah mengampuni, tetapi ada yang masih bergumul dengan kepahitan. Ada yang cepat memahami orang lain, tetapi ada pula yang mudah tersinggung. Perbedaan seperti ini dapat menjadi sumber pertengkaran apabila kita hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Ada pepatah yang mengatakan, “Siapa kuat dialah pemenang, sementara yang lemah dia yang kalah dan diperdaya”. Sering sekali hal ini terjadi di sekitar kita. Namun, firman Tuhan dalam Roma 15:1–7 mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan orang percaya bukanlah tentang “saya harus menang”, melainkan tentang bagaimana kita dapat saling menolong, saling menguatkan, dan saling membangun dalam kasih. Kita sebagi orang percaya harus yakin bahwa tiap-tiap orang memiliki bakat dan potensi yang berbeda-beda. Paulus ingin kita yang percaya dan kuat imannya agar mampu untuk menanggung kelemahan orang yang tidak kuat. Jangan kita mencari kesenangan sendiri. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Namun dibalik itu semua bagaimana kita dapat belajar untuk saling menerima satu dengan yang lain. Karena Kristus mau menerima kita orang yang bedosa dan mau mengampuni kita, sehingga sebagai orang yang sudah menerima keselamatan kita harus memiliki kesatuan hati di dalam Kristus. Roma 15:1 mengatakan bahwa mereka yang kuat wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat.Kata “menanggung” bukan berarti membiarkan orang lain terus hidup dalam kelemahannya. Menanggung berarti bersedia membantu, memahami, menopang, dan berjalan bersama orang yang sedang mengalami kelemahan. Dalam kehidupan gereja, kita akan bertemu dengan berbagai macam orang. Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga, masalah ekonomi, pergumulan pekerjaan, kesepian, kekecewaan, atau pergumulan iman. Manusia secara alami cenderung memikirkan dirinya sendiri: apa yang saya inginkan, apa yang saya sukai, apa yang menguntungkan saya, dan bagaimana orang lain harus mengikuti keinginan saya. Tetapi kehidupan Kristen mengajarkan sesuatu yang berbeda. Kita dipanggil untuk belajar memikirkan kebutuhan orang lain. Bukan berarti kita tidak boleh memiliki keinginan atau pendapat. Tetapi ketika hidup bersama orang lain, kita harus belajar mengendalikan kepentingan pribadi demi kebaikan bersama. Di dalam gereja, misalnya, jangan sampai pelayanan menjadi tempat untuk mencari penghargaan. Roma 15:5–6 mengajak kita untuk hidup dalam kesehatian sehingga dengan satu hati dan satu suara memuliakan Allah. Kesehatian bukan berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama dalam segala sesuatu. Kesehatian berarti memiliki tujuan yang sama: memuliakan Tuhan. Kita mungkin berbeda usia. Berbeda karakter. Berbeda latar belakang. Berbeda kemampuan.Berbeda pendapat. Tetapi kita memiliki satu Tuhan, yaitu Yesus Kristus. Karena itu, jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk saling menjauh. Jangan sampai persoalan kecil membuat kita melupakan kasih yang besar. Jangan sampai perbedaan pendapat membuat kita lupa bahwa kita adalah satu tubuh Kristus. Gereja yang kuat bukan gereja yang tidak memiliki perbedaan, tetapi gereja yang mampu menghadapi perbedaan dengan kasih. Kita sebagai umat yang dikasihi Tuhan, Roma 15:1–7 mengingatkan kita bahwa kehidupan Kristen bukan hanya tentang hubungan pribadi kita dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan sesama. Mari kita menjadi orang yang menghadirkan penguatan, bukan kelemahan. Menjadi orang yang membawa penghiburan, bukan luka. Menjadi orang yang mengampuni, bukan menyimpan dendam. Menjadi orang yang merangkul, bukan menjauhkan. Dan menjadi orang yang membangun, bukan meruntuhkan. Jika hari ini ada saudara kita yang sedang lemah, mari kita kuatkan. Jika ada yang sedang jatuh, mari kita ulurkan tangan. Jika ada yang sedang menangis, mari kita hadir dan menghibur. Jika ada yang bersalah, mari kita menegur dalam kasih. Dan jika ada perbedaan di antara kita, mari kita ingat bahwa kita memiliki satu Tuhan dan satu tujuan: memuliakan Allah. Kiranya kehidupan kita sebagai keluarga, jemaat, dan masyarakat menjadi kesaksian bahwa kasih Kristus sungguh-sungguh hidup di tengah-tengah kita. Mari kita saling membangun dalam kasih, karena Kristus telah terlebih dahulu mengasihi dan menerima kita. Tuhan Memberkati. Amin.Yosua
MELAYANI DENGAN KERENDAHAN HATI
Jumat, 18 September MELAYANI DENGAN KERENDAHAN HATI Markus 10:35-45 ————————————————————————————————————————– Kalau kita mendengar kata “melayani”, apa yang langsung muncul dalam pikiran kita?Mungkin kita berpikir bahwa melayani berarti menjadi guru sekolah Minggu, menjadi pengurus gereja, menjadi pemimpin pujian, berkhotbah, menjadi panitia, atau melakukan berbagai kegiatan di gereja.Tetapi pernahkah kita berpikir bahwa melayani bukan hanya tentang apa yang kita kerjakan, tetapi juga tentang bagaimana hati kita ketika melakukannya?Kadang-kadang kita bisa melakukan banyak pelayanan, tetapi di dalam hati kita sebenarnya ingin diperhatikan. Kita ingin dihargai. Kita ingin dianggap penting. Bahkan tanpa sadar, kita bisa melayani supaya mendapatkan posisi atau pengakuan dari orang lain. Dalam Markus 10:35-45, Yakobus dan Yohanes datang kepada Yesus dan meminta sesuatu yang sangat besar. Mereka meminta supaya kelak mereka mendapat tempat khusus dalam kemuliaan Yesus. Mereka ingin duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus.Kalau kita perhatikan, mereka sedang berbicara tentang posisi, bukan tentang pelayanan.Mereka ingin dekat dengan Yesus, tetapi pemahaman mereka tentang menjadi pengikut Yesus masih dipengaruhi oleh keinginan untuk menjadi yang terbesar. Melalui bagian ini, Yesus mengajarkan sesuatu yang sangat penting: mengikuti Yesus bukan tentang mencari posisi untuk dilayani, tetapi tentang belajar menjadi orang yang mau melayani. Dari Markus 10:35-45, ada satu pesan utama yang perlu kita ingat:“Mengikut Yesus berarti belajar melayani, bukan mencari untuk dilayani. ”Pelayanan bukan tempat untuk menunjukkan bahwa kita lebih hebat daripada orang lain. Pelayanan bukan tempat untuk mencari popularitas. Pelayanan juga bukan tempat untuk mendapatkan pengakuan.Pelayanan adalah kesempatan untuk menunjukkan kasih Kristus melalui hidup kita.Karena itu, jangan takut melakukan pelayanan yang sederhana. Jangan merasa bahwa pelayanan kita tidak berarti hanya karena tidak banyak orang yang melihat.Mungkin manusia tidak melihat, tetapi Tuhan melihat hati kita. Mari kita belajar dari Yesus.Ketika kita mendapatkan kesempatan untuk melayani, lakukanlah dengan rendah hati. Ketika kita tidak mendapatkan posisi yang kita inginkan, tetaplah melayani. Ketika orang lain mendapatkan penghargaan, jangan merasa tersaingi. Ketika pelayanan kita tidak dilihat atau dipuji, jangan berhenti melakukan yang baik. Sebab kita tidak melayani supaya manusia melihat kita. Kita melayani karena terlebih dahulu Kristus telah melayani dan mengasihi kita. Kiranya melalui kehidupan kita, orang lain tidak hanya melihat kemampuan kita, tetapi juga dapat melihat kerendahan hati dan kasih Kristus dalam diri kita. “Jangan mencari tempat untuk menjadi yang terbesar, tetapi carilah kesempatan untuk menjadi berkat.” Amin. Jesica
Jangan Lelah Berbuat Baik
Kamis, 17 September JANGAN LELAH BERBUAT BAIK Galatia 6:7-10 ————————————————————————————————————————– Dalam kehidupan sehari-hari, berbuat baik tidak selalu mudah. Ada kalanya kita sudah berusaha menolong, tetapi tidak dihargai. Kita sudah berusaha menjadi orang yang sabar, tetapi justru diperlakukan dengan tidak baik. Bahkan terkadang kita bertanya, “Untuk apa saya terus berbuat baik kalau tidak ada yang melihat dan menghargainya?”. Situasi seperti ini bisa membuat kita lelah dan akhirnya memilih untuk berhenti berbuat baik. Namun, melalui Galatia 6:7-10, Paulus mengingatkan bahwa kebaikan yang kita lakukan tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan. Tuhan melihat setiap tindakan, perkataan, dan hati yang kita miliki ketika melakukan kebaikan. Karena itu, tema renungan kita hari ini adalah “Jangan Lelah Berbuat Baik.” Pesan utama dari Galatia 6:7-10 adalah jangan berhenti berbuat baik hanya karena kita merasa lelah, tidak dihargai, atau belum melihat hasilnya.Kebaikan yang dilakukan dengan tulus mungkin tidak selalu dilihat manusia, tetapi Tuhan melihatnya.Ketika kita menolong dan tidak dihargai, Tuhan melihat. Ketika kita mengampuni meskipun sulit, Tuhan melihat. Ketika kita tetap melayani meskipun merasa lelah, Tuhan melihat. Ketika kita memberikan perhatian kepada seseorang tanpa mengharapkan balasan, Tuhan melihat. Karena itu, jangan biarkan kekecewaan membuat kita kehilangan hati untuk berbuat baik. Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, mungkin hari ini kita sedang berada dalam keadaan lelah. Lelah melayani, lelah menolong, lelah menjadi orang yang sabar, atau lelah karena kebaikan kita seolah-olah tidak dihargai. Tetapi firman Tuhan mengingatkan kita: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik.” Jangan berhenti menjadi baik hanya karena dunia tidak selalu membalas kebaikan kita. Jangan berhenti menolong hanya karena pernah disakiti. Jangan berhenti mengasihi hanya karena pernah dikecewakan. Percayalah, setiap kebaikan yang kita lakukan di dalam Tuhan tidak pernah sia-sia. Mungkin manusia tidak melihatnya, tetapi Tuhan melihat. Mungkin hasilnya belum kita rasakan hari ini, tetapi Tuhan tahu kapan waktunya kita menuai. Maka, selama masih ada kesempatan, marilah kita terus berbuat baik kepada semua orang. Jangan lelah berbuat baik, karena Tuhan tidak pernah lupa pada setiap kebaikan yang dilakukan dengan hati yang tulus. Amin. Jesica
TINGGAL DALAM KASIH KRISTUS
Rabu, 16 Sep TINGGAL DALAM KASIH KRISTUS Yohanes 15:9-17 ————————————————————————————————————————– Dalam kehidupan sehari-hari, kita tentu ingin dikasihi dan diterima oleh orang lain. Kita merasa bahagia ketika ada orang yang memperhatikan, mendukung, dan menerima kita apa adanya. Namun, kasih manusia terkadang terbatas. Ada saatnya seseorang yang kita harapkan dapat mengerti kita justru mengecewakan. Ada kasih yang berubah karena keadaan, perbedaan, atau kesalahan yang kita lakukan. Berbeda dengan kasih manusia, kasih Kristus adalah kasih yang tetap dan tidak mudah berubah. Dalam Yohanes 15:9-17, Yesus mengajarkan kepada murid-murid-Nya untuk tinggal di dalam kasih-Nya. Tinggal dalam kasih Kristus bukan hanya berarti mengetahui bahwa Yesus mengasihi kita, tetapi juga membiarkan kasih itu memenuhi kehidupan kita dan diwujudkan melalui cara kita memperlakukan orang lain. Pesan utama dari Yohanes 15:9-17 adalah tinggallah dalam kasih Kristus dan biarkan kasih itu terlihat melalui kehidupan kita. Kristus sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Karena itu, kita dipanggil untuk tetap tinggal dalam kasih-Nya melalui ketaatan kepada firman dan melalui kasih kepada sesama.Pertanyaannya bagi kita adalah: Apakah kehidupan kita sudah menunjukkan bahwa kita benar-benar tinggal dalam kasih Kristus? Mungkin kita rajin beribadah, berdoa, dan membaca Alkitab. Namun, jika kita masih sulit mengampuni, mudah membenci, merendahkan orang lain, atau hanya mau mengasihi orang yang menguntungkan kita, maka kita perlu kembali melihat teladan Kristus. Tinggal dalam kasih Kristus berarti menerima kasih-Nya, hidup dalam ketaatan, dan membagikan kasih itu kepada orang lain. Amin. Jesica
Tuhan Penjaga Kehidupan
Selasa, 15 September Tuhan Penjaga Kehidupan Karunia adalah pemberian Tuhan, tetapi memeliharanya adalah tanggung jawab kita. Jangan biarkan api itu padam. Teruslah menyala dan jadilah berkat bagi sesama. Mazmur 121 ————————————————————————————————————————– Dalam kehidupan kita, ada banyak hal yang kadang membuat kita merasa tidak aman. Kita bisa merasa khawatir tentang keluarga, pekerjaan, kesehatan, masa depan, atau berbagai persoalan yang sedang kita hadapi. Kadang-kadang kita bertanya dalam hati, “Siapa yang akan menolong saya ketika menghadapi semua ini?” Pemazmur berkata dalam Mazmur 121:1–2, “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” Pada saat itu, pemazmur sedang menghadapi perjalanan kehidupan yang tidak mudah. Ketika melihat gunung-gunung di hadapannya, pemazmur tidak menjadikan gunung itu sebagai sumber pertolongan. Tetapi justru mengarahkan pandangannya kepada Tuhan, Sang Pencipta langit dan bumi. Ayat ini mengingatkan kita bahwa dalam menghadapi persoalan, kita boleh mencari pertolongan dari orang lain dan melakukan apa yang bisa kita lakukan, tetapi jangan pernah melupakan bahwa pertolongan utama kita itu berasal dari Tuhan. Dan disitu juga ada hal yang menarik, pemazmur tidak hanya mengatakan bahwa Tuhan menolong. Pemazmur juga mengatakan bahwa Tuhan adalah penjaga kehidupan. Ayat 3 berkata, “Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap.” Manusia bisa lelah. Orang yang kita andalkan bisa meninggalkan kita. Orang yang kita harapkan bisa tidak selalu ada. Tetapi Tuhan tidak pernah lengah dalam menjaga umat-Nya. Siang ataupun malam, Tuhan tetap menjaga kita. Tetapi ini bukan berarti orang yang percaya kepada Tuhan tidak akan mengalami masalah. Kita tetap bisa menghadapi sakit, kehilangan, kegagalan, kesulitan, dan berbagai pergumulan. Tetapi di tengah semua yang terjadi kita tidak berjalan sendirian. Ada Tuhan yang menjaga dan menyertai kita. Karena di dalam ayat 7 berkata, “TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu.” Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan kita itu berada dalam pemeliharaan Tuhan. Mungkin hari ini kita sedang menghadapi sesuatu yang membuat kita takut atau khawatir. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Kita tidak tahu bagaimana persoalan akan selesai. Tetapi kita tahu satu hal: Tuhan tidak pernah berhenti menjaga kita. Oleh karena itu, jangan biarkan kekhawatiran menguasai hati kita. Mari belajar seperti pemazmur: mengarahkan mata dan hati kepada Tuhan. Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi esok, tetapi kita tahu siapa yang memegang hari esok. Karena kita punya Tuhan sebagai penjaga kehidupan kita. Stefany
Memelihara Karunia Allah
Senin, 14 September Memelihara Karunia Allah Karena yang paling penting dalam hidup bukan hanya menemukan apa yang kita cari, tetapi menemukan Tuhan dan tetap hidup dekat dengan Tuhan. 1 Timotius 1:6-14 ————————————————————————————————————————– Setiap kita pasti memiliki sesuatu yang Tuhan percayakan. Ada yang pandai berbicara, bisa mengajar, bernyanyi, memimpin, bekerja dengan baik, menolong orang lain, atau juga memiliki hati yang peduli kepada sesama. Mungkin kita menganggap kemampuan itu biasa saja. Tetapi dimata Tuhan, apa yang kita miliki itu dapat menjadi alat untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Paulus mengingatkan Timotius di dalam ayat 6 disitu dikatakan “Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu.” Timotius sudah menerima karunia dari Tuhan. Tetapi Paulus kembali mengingatkan untuk mengobarkan karunia tersebut. Mengapa? Karena sesuatu yang sudah diberikan Tuhan tidak otomatis akan terus menyala. Oleh karena itu, karunia perlu dipelihara dan digunakan. Seperti sebuah api yang menyala. Api itu perlu dijaga. Kalau tidak diperhatikan, apinya bisa mengecil dan akhirnya padam. Begitu juga dengan kehidupan dan karunia Tuhan yang sudah diberikan kepada kita. Kalau tidak digunakan, semangat kita bisa menurun. Dan kalau terlalu lama tidak dipakai, kita bisa mulai merasa malas; takut; atau kehilangan keberanian. Mungkin kita pernah takut untuk menggunakan apa yang Tuhan berikan. Kita takut salah, takut dinilai orang, atau merasa tidak sehebat orang lain. Tetapi di ayat 7 disitu mengingatkan kita bahwa Allah memberikan kepada kita roh yang membangkitkan ketakutan, kasih, dan ketertiban, bukan roh ketakutan. Paulus sendiri juga tetap setia meskipun menghadapi banyak kesulitan. Dalam ayat 12 ia berkata, “Aku tahu kepada siapa aku percaya. Ini seharusnya menjadi dasar bagi kita. Kita mungkin tidak selalu melihat hasil dari apa yang kita lakukan, tetapi kita percaya bahwa Tuhan dapat memakai setiap pelayanan kita. Oleh karena itu, hari ini firman Tuhan mengingatkan kita untuk kembali mengobarkan karunia yang telah Tuhan berikan. Jangan anggap kecil apa yang Tuhan percayakan. Kemampuan mengajar, bernyanyi, menolong, mendengarkan, bekerja, maupun melayani dengan sederhana dapat dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Dan mari kita tidak hanya menerima karunia Allah, tetapi juga memelihara, mengembangkan, dan menggunakannya dengan setia. Stefany
Mencari Tuhan Selagi Ia Berkenan Ditemui
Minggu, 13 September Mencari Tuhan Selagi Ia Berkenan Ditemui Yesaya 55:6-11 ————————————————————————————————————————– Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti pernah mencari sesuatu, entah mencari pekerjaan; mencari penghasilan; mencari kebahagiaan; atau mencari banyak hal yang kita anggap penting. Tetapi di tengah kesibukan itu, terkadang kita justru lupa untuk mencari Tuhan. Di dalam Yesaya 55:6 disitu berkata “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” Ayat ini merupakan undangan Tuhan supaya kita datang kepada Tuhan. Maksudnya adalah Tuhan memberikan kesempatan kepada kita untuk mencari, dan kembali kepada Tuhan. Mencari Tuhan bukan hanya datang beribadah atau berdoa ketika sedang mengalami masalah. Tetapi mencari Tuhan berarti sungguh-sungguh mengarahkan hidup kita kepada Tuhan. Di ayat 7 disitu juga berkata “Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada Tuhan…” artinya, mencari Tuhan juga berarti kita berani meninggalkan jalan yang salah. Kalau mungkin selama ini ada kebiasaan, sikap, atau dosa yang membuat kita jauh dari Tuhan, kita dipanggil untuk kembali kepada Tuhan. Tetapi ada satu hal yang harus kita tahu bahwa Tuhan itu tidak akan pernah menolak orang yang datang kepada Tuhan dengan hati yang mau bertobat karena Tuhan itu mengasihi dan mau mengampuni kita. Tetapi perjalanan dalam mencari Tuhan, kita tidak akan selalu memahami jalan yang Tuhan izinkan terjadi. Mengapa? Diayat 8 disitu dikatakan “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukan jalan-Ku.” Artinya rancangan dan jalan yang Tuhan sediakan buat kita tidak selalu sesuai dengan apa maunya kita, tetapi setiap rancangan dan jalan Tuhan itu pasti yang terbaik buat kita. Namun yang sering terjadi, kita ingin Tuhan bekerja sesuai dengan keinginan kita. Ketika doa kita belum dijawab atau keadaan kita tidak sesuai harapan, kadang-kadang kita mulai bertanya kepada Tuhan. Tetapi melalui Firman Tuhan ini mengajak kita untuk tetap percaya kepada Tuhan bahwa rancangan Tuhan itu lebih indah daripada rancangan kita. Ayat 11 mengatakan Firman Tuhan tidak akan kembali sia-sia. Seperti hujan yang turun dan membuat tanah menghasilkan, begitu juga dengan Firman Tuhan bekerja dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mencari banyak hal dalam hidup kita sampai lupa untuk mencari Tuhan. Selagi Tuhan memberikan kesempatan, mari kita datang kepada Tuhan. Dan kalau saat ini kita merasaa jauh dari Tuhan, mari kita kembali. Stefany
Hati Yang Bersyukur
Jumat, 11 September Hati Yang Bersyukur Lukas 17:11-19 ————————————————————————————————————————– Pernahkah kita berada dalam situasi yang sangat mendesak, meminta tolong kepada seseorang dengan sungguh-sungguh, namun ketika masalahnya selesai, Anda saking senangnya sampai lupa mengucapkan terima kasih? Ini adalah hal yang sangat sering terjadi, dan inilah inti dari cerita Alkitab hari ini. Bacaan kita hari ini bercerita tentang sepuluh orang yang menderita sakit kusta. Pada zaman itu, kusta menjadi penyakit menular yang sangat ditakuti. Penderitanya harus diusir dari desa, dijauhi oleh keluarga, dan hidup menderita di pengasingan. Ketika mereka melihat Yesus dan berteriak memohon belas kasihan. Yesus mengabulkan doa mereka. Saat mereka sedang berjalan menuruti perintah Yesus, mukjizat terjadi: kesepuluh orang itu sembuh total! Kulit mereka kembali bersih. Bayangkan betapa gembiranya mereka! Namun, di sinilah bagian yang perlu menjadi perhatian bagi kita. Dari sepuluh orang yang disembuhkan, hanya satu orang yang memutuskan untuk putar balik, mencari Yesus. Yesus pun bertanya, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir (sembuh)? Di manakah yang sembilan orang itu?” Ke mana perginya kesembilan orang lainnya? Mereka sibuk menikmati “berkat” yang luar biasa itu, tetapi mereka lupa kepada “Sang Pemberi Berkat”. Apakah kita sering menjadi seperti kesembilan orang tersebut? Seringkali kita rajin mencari Tuhan saat sedang butuh. Saat anak sedang sakit, atau saat sedang banyak masalah di pekerjaan, kita berdoa dan menangis memohon pertolongan Tuhan. Namun, ketika doa itu terjawab, dan keadaan kembali aman, kita sering kali langsung berlari melanjutkan hidup dan lupa menyediakan waktu khusus untuk mengucapkan syukur kita kepada Allah,Orang yang kembali kepada Yesus tadi mengajarkan kita bahwa, hati yang bersyukur tidak terjadi secara otomatis. Ada proses untuk menunda sebentar kesenangan kita, untuk mengingat dari mana semua kebaikan itu berasal. Tuhan tidak gila hormat, Ia tidak membutuhkan ucapan terima kasih kita untuk membuat-Nya merasa hebat. Namun, saat kita bersyukur, hati kita sendiri yang diuntungkan karena kita diajak untuk terus menyadari betapa besarnya pemeliharaan Allah dalam kehidupan kita. Natan
Percaya Kepada Tuhan Dengan Segenap Hati
Kamis, 10 September Percaya Kepada Tuhan Dengan Segenap Hati Amsal 3:5-6 ————————————————————————————————————————– Dalam kehidupan, manusia cenderung menyukai segala sesuatu yang pasti. Juga, yang sesuai dengan apa yang menjadi setiap rencana dalam kehidupan kita. Kita sering membuat rencana A, rencana B, rencana C, dan harapannya semua rencana itu berjalan menurut logika dan pemikiran kita. Apabila, di dalam rencana-rencana itu tadi, ada masalah atau tantangan. Respons pertama, yang kita lakukan biasanya mencari jalan keluar menurut pengertian dan logika kita. Pada akhirnya, rasa cemas dan ingin mengendalikan situasi adalah hasil dari respons kita kepada masalah yang sedang kita hadapi. Bacaan kita hari ini mengajarkan kita akan kebalikan konsep dunia dalam melihat diri kita dan mengajak kita untuk belajar melepaskan kendali akan hidup kita. Dan tiga prinsip yang menjadi pijakan dari bacaan kita saat ini adalah Pertama, percaya dengan segenap hati. Kata percaya dalam bahasa inggris ada Believe, dan Trust. Dalam pengertiannya Believe adalah percaya dengan apa yang terlihat atau suatu kepastian. Akan tetapi, Trust menjadikan kita mempercayakan meski itu belum pasti. Dari bacaan kita, mengajak untuk Trust. Mempercayai Tuhan dalam kehidupan, berarti tidak lagi menyisakan ruang kosong untuk keraguan. Dan melepaskan kendali hidup kita kepada Tuhan, yang adalah pemilik kehidupan kita. Kedua, Jangan Bersandar pada pengertianmu sendiri. Dalam hal ini, bukan Tuhan meminta kita tidak melakukan setiap tugas dan panggilan kita masing-masing. Tuhan tetap meminta kita bertanggungjawab, dan bekerja keras dalam kehidupan kita. Melalui bacaan hari ini, mengingatkan keterbatasan logika kita, karena kita hanya melihat saat ini dan masa lalu. Tetapi Allah melihat seluruh kehidupan kita. Kita memiliki keterbatasan, ruang dan waktu. Maka, belajar untuk meminta hikmat Allah dalam menjalani hidup dan kehidupan. Ketiga, menerima janji yang pasti, Tuhan akan meluruskan jalanmu. Jalan yang lurus bukan berarti tanpa kerikil, jalan tanpa tantangan. Akan tetapi, Allah berjanji bahwa Ia akan membawa kita tepat pada tujuan dan rencana terbaik Tuhan. Mari, kita refleksikan hidup kita, bagian mana yang kita pegang erat, dan apa yang menjadi kecemasan kita. Juga, perlu disadari kita tidak akan mampu memegang erat beban-beban itu. Belajar percaya kepada Tuhan dengan segenap hati, karena Ia tahu yang terbaik bagi kehidupan kita. –Natan
