Minggu, 20 september “MENGGUNAKAN KARUNIA UNTUK MELAYANI” 1 Petrus 4:1-7 ————————————————————————————————————————– Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, Setiap orang percaya diberikan Tuhan karunia yang berbeda-beda. Ada yang pandai berbicara, mengajar, memimpin, menyanyi, mengorganisasi, menolong, memberi perhatian kepada orang lain, atau melayani dalam hal-hal sederhana yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang. Namun, pertanyaannya bukanlah: “Karunia apa yang saya miliki?” saja. Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Untuk apa Tuhan memberikan karunia itu kepada saya?” Firman Tuhan dalam 1 Petrus 4:7–11 mengingatkan bahwa karunia bukan diberikan untuk kebanggaan pribadi, melainkan untuk melayani dan membangun kehidupan bersama sebagai tubuh Kristus. Kata “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia…” secara harfiah ayat ini dimulai dengan kalimat” sebagaimana masing-masing telah menerima pemberian/anugerah, maka layanilah seorang akan yang lain” Karunia atau pemberian ini berasal dari Allah. Ayat 10 berkaitan dengan ayat 11, sehingga karunia disini berarti “setiap anugerah khusus yang Allah berikan kepada masing-masing orang percaya”. Anugerah ini harus dipakai untuk saling melayani/ atau melengkapi. Kata pengurus merujuk kepada hamba yang ditugaskan untuk mengelola semua urusan rumah tangan majikannya (Luk. 12:42;16:1-8). Menjadi pengurus yang baik berarti bahwa pemberian itu tidak untuk kepentingan dan keuntungan pribadi. Sebaliknya, Allah memberikan karunia itu kepada mereka agar mereka mampu melayani sesama orang percaya dengan lebih baik. Jemaat harus menyadari dirinya sebagai pengurus dari Allah. Tuhan telah memberikan setiap orang percaya setidaknya satu karunia (kemampuan), berkat khusus dari Allah supaya dapat melayani orang percaya lain. Kasih karunia itu akan sia-sia, jika dipercayakan namun tidak diaplikasikan melalui kehidupan orang percaya yang dipercayakan. Tidak ada yang bisa meminta karunia yang diberikan Allah dikurangi, tidak ada yang bisa mengklaim pembebasan dari tugas melayani yang berarti tidak ada yang kekurangan tetapi tiap orang memiliki sesuatu yang dapat diberikan untuk sesamanya. Petrus menasehati jemaat, sekalipun akhir segala sesuatu sudah dekat bukan berarti jemaat menarik diri dari dunia sekitarnya tetapi mendesak mereka untuk mau melayani sesama. Melayani adalah sarana yang telah Tuhan tempatkan dalam diri orang percaya agar yang dilayani menyadari itu dari Tuhan agar melaluinya Allah dikenal dan dimuliakan. Ini tersirat dalam esensi dari setiap tindakan amal. Melayani diterjemahkan dari istilah yang digunakan secara umum untuk berbagai bentuk pelayanan. Pada zaman jemaat Krsiten mula-mula, istilah ini juga mencakup arti memberi makan orang yang lapar, merawat orang sakit, menolong orang miskin, menerima orang asing dirumah. Secara sederhana melayani dapat diartikan seperti menolong karena lebih mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri. Orang yang menolong adalah mereka-mereka yang mampu melakukannya sesuai dengan kemampuan yang dipercayakan oleh Allah kepadanya. Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, 1 Petrus 4:7–11 mengajarkan kepada kita bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk melayani. Tuhan memberikan kepada setiap orang karunia yang berbeda. Tidak ada karunia yang terlalu kecil apabila digunakan untuk Tuhan. Tidak ada pelayanan yang sia-sia apabila dilakukan dengan kasih dan ketulusan. Karena itu: Jangan menyimpan karunia. Jangan menyia-nyiakan kesempatan. Jangan membandingkan diri dengan orang lain. Jangan melayani untuk mencari pujian. Gunakanlah karunia yang Tuhan berikan untuk melayani sesama. Marilah kita menjadi jemaat yang bukan hanya datang untuk menerima pelayanan, tetapi juga siap memberikan diri untuk melayani. Kiranya setiap karunia yang Tuhan percayakan kepada kita dapat menjadi alat untuk membangun keluarga, gereja, masyarakat, dan terutama untuk memuliakan nama Tuhan. Karunia adalah pemberian Tuhan. Pelayanan adalah tanggung jawab kita. Kasih adalah dasar kita. Kemuliaan Tuhan adalah tujuan kita. Amin. Yosua
DADI MINORITAS SING UNGGUL
Rabu Pon, 19 Agustus 2026 DADI MINORITAS SING UNGGUL Lukas 12: 32 – 40 ————————————————————————————————————————– Wong Kristen ing donya iku kalebu kelompok mayoritas miturut kalayan sensus statistik lan demografi agama saka lembaga Pew Research Center uga saka Word Population Review. Nanging beda maneh ing Indonesia, wongKristen mung minoritas. Ana uga ing saperangn wilayah Indonesia ing sisih wetan, wong Kristen akeh sing dadi kelompok mayoritas. Mung wae, amarga jumlah penduduk ing pulau Jawa iku 65% saka penduduk Indonesia, lan penduduk ing Indonesia sisih wetan mung sithik, tetep wae wong Kristen iku minoritas, dibandhingke kelompok agama liyane. Sanajan dadi minoritas, adeg minangka warga negara iku padha, dijamin dening undang-undang supaya bisa nindakne pangabekti miturut agama lan kaprecayane. Apa maneh ing ngarsane Gusti, sing ngersakake lan nimbali kita dadi umat ing Kratone Allah. Jumbuh saking waosan ing dinten punika: “Kowé pepanthan cilik, aja padha wedi. Sebab Ramamu ing swarga ngersakaké kowé padha dadi umat ing Kratoné” (Lukas 12:32). Menawa kudu milih kualitas lan kuantitas, amarga cacahe mung sithik lan ora bisa dadi mayoritas, sing dipilih mesthi wae kualitas. Ing wacan Kitab Suci dina iki, Gusti nimbali supaya kita nglumpukne bandha ing swarga, dudu bandha donya sing ora langgeng. Lan urip makarya kanthi tumemen, dadi abdi sing tansah siyaga, mapag Bendarane sing bakal rawuh ing wektu sing ora kanyana. Urip lan pakaryan kita ora katujokake marang manungsa, nanging kaaturake ing ngarsane Gusti, Bendara kita. Iku kang dadi kualitas urip Kristen. Ing sejarah Indonesia, kita duwe panutan warga Kristen sing bisa dadi tuladha anggone makarya ing satengahing bangsa kadasta: Patimura, Yos Sudarso, Slamet Riyadi, Sam Ratulangi, Johanes Leimena, Johanes Kasimo, TB Simatupang, Wolter Robert Monginsidi, Agustinus Adisucipto, Urip Sumaharjo lan isih akeh maneh jeneng sing bisa didaftarake. Sanajan klebu golongan sing sithik lan cilik, nanging anggone makarya leladi ing satengahing bangsa tansah diengeti kanthi kajen lan urmat. Sanajan cilik lan sithik, aja wedi mbabarake timbalan leladi, makarya amrih karaharjan lan karahayon bangsa! (Suharto).
SETIA BERPEGANG SAMPAI AKHIR
Kamis, 16 Juli 2026Bacaan : Ibrani 2 : 1 – 9 | Pujian : KJ. 453 ————————————————————————————————————————– “Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.” (Ayat 1) SETIA BERPEGANG SAMPAI AKHIR Pada usia yang semakin bertambah, seseorang memiliki banyak cerita hidup. Ada kisah keberhasilan, kegagalan, sukacita, namun juga ada pergumulan panjang yang dilewati. Dalam perjalanan hidup yang panjang itu, tidak jarang iman pun mengalami pasang surut. Ada kalanya semangat mengikut Tuhan begitu kuat, namun ada juga saat-saat di mana iman terasa lemah dan hampir hanyut oleh keadaan. Pekan Adi Yuswa mengingatkan kita bahwa kesetiaan kepada Tuhan bukan hanya soal awal yang baik, tetapi tentang bertahan sampai akhir dengan penuh iman. Penulis surat Ibrani mengingatkan jemaat agar lebih teliti memperhatikan apa yang telah mereka dengar, supaya mereka tidak hanyut terbawa arus dunia. Firman ini menegaskan bahwa iman perlu terus dipelihara. Keselamatan yang dikerjakan Allah melalui Yesus Kristus adalah anugerah yang besar. Yesus, yang untuk sementara dibuat lebih rendah dari malaikat, rela menderita dan mati bagi manusia, supaya kita memperoleh hidup. Kasih dan karya-Nya begitu nyata dan tidak tergantikan oleh apa pun. Bagi para adi yuswa dan kita semua, firman Tuhan hari ini menjadi panggilan kita untuk tetap setia berpegang pada Tuhan. Kesetiaan bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi memilih tetap percaya dan bersandar kepada Tuhan dalam segala keadaan. Satya bhakti t’rusing Gusti mengajak kita untuk tidak melepaskan iman kita pada Kristus. Meskipun tubuh melemah dan usia bertambah, justru dalam keterbatasan itulah, kasih karunia Allah dinyatakan semakin sempurna. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kesetiaan itu dapat kita wujudkan melalui sikap sederhana, seperti: tetap setia berdoa, membaca Firman Tuhan, hadir dalam persekutuan, serta menjadi teladan iman bagi anak, cucu, dan lingkungan sekitar kita. Pengalaman hidup yang panjang dapat menjadi kesaksian yang nyata akan kesetiaan Tuhan yang tidak pernah berubah dalam hidup kita. Kiranya para adi yuswa dan kita semua semakin diteguhkan untuk setia sampai akhir, tidak hanyut oleh arus dunia, dan terus melekat erat kepada Kristus, Sang Sumber Keselamatan kita. Amin. [YNW]. “Kesetiaan kepada Tuhan di masa tua adalah kesaksian iman yang paling indah bagi generasi berikutnya.”
SEGELAS SUSU
Selasa, 14 Juli 2026 Bacaan : Efesus 4 : 17 – 5 : 2 | Pujian : KJ. 370 ————————————————————————————————————————– “… supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Ayat 23-24) SEGELAS SUSU Pagi itu, seorang ibu memarahi anaknya hanya karena segelas susu jatuh dan tumpah di lantai. Suara si ibu meninggi bukan semata-mata karena susu itu, melainkan karena tubuhnya sudah kehabisan tenaga, pikirannya penuh, dan hatinya lama menahan lelah! Sejak pagi buta si ibu belum berhenti bergerak: menyiapkan sarapan, membereskan rumah, dan menahan kesal pada suaminya yang tidak peka. Ketika susu itu tumpah, yang pecah bukan hanya gelas namun sisa kesabarannya! Ia membentak, pintu dibanting, lalu duduk di dapur dengan dada sesak dan mata basah. Dalam hati ia berbisik, “Tuhan, aku lelah begini terus.” Di momen itu ia sadar bahwa ini bukan soal anak ceroboh, ini soal dirinya yang lelah sampai kehilangan kendali. Cerita segelas susu yang tumpah menjadi menarik ketika diperjumpakan dengan Efesus 4:17–5:2. Paulus tidak menyalahkan keadaan, tetapi membongkar akar masalah: cara hidup lama yang dikuasai ego dan emosi. Manusia lama itu reaktif, defensif, dan gampang meledak. Karena itu pesannya jelas: tanggalkan manusia lama! Jangan simpan amarah. Jangan biarkan kata-kata melukai. Jangan memelihara kepahitan! Ia menohok tanpa basa-basi: Iman yang tidak mengubah cara kita bereaksi dalam keseharian adalah iman yang mati. Lalu Paulus menaikkan standar, ukurannya bukan “wajar aku marah”, tetapi “aku meniru Kristus atau tidak?” Kristus mengasihi dengan menyerahkan diri-Nya, bukan dengan melampiaskan emosi lalu menyesal. Artinya jelas pertumbuhan iman bukan sekadar soal makin rajin ibadah, tetapi cepat berhenti saat mau meledak, berani meminta maaf, dan serius memutus pola lama. Jika respons selalu sama setiap kali lelah, itu tanda bahwa pertumbuhan iman kita belum terjadi. Di sinilah dapur berubah menjadi “altar kecil”. Peristiwa susu tumpah menjadi cermin: “Apakah aku terus membiarkan manusia lama memimpin keseharianku, ataukah aku mau mengenakan manusia baru?” Pertumbuhan bukan tentang menjadi yang “ideal”. Pertumbuhan adalah tentang keberanian menanggalkan pola hidup lama dan memilih hidup baru, yang lebih terkendali, lebih rendah hati, dan lebih rela berkorban. Di situlah keindahan sejati lahir, bukan dari kesempurnaan, melainkan dari perbaikan hidup yang diulang setiap hari. Amin. [vena]. “Di sela kejadian dan reaksi, Tuhan memberi kita jeda – di situlah iman diuji dan kasih dipilih.”
Yesus adalah Terang Hidup
Minggu, 10 Mei Injil Yohanes 8:12 Yesus berkata, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Pasal 8 ayat 12 menyatakan sebuah kebenaran rohani tentang terang yang kekal bagi orang percaya. Terang melambangkan kehidupan, kebenaran, dan arah yang jelas, sedangkan kegelapan melambangkan dosa, kebingungan, dan keterpisahan dari Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering berada dalam kegelapan. Kita mungkin menghadapi kebingungan dalam mengambil keputusan, pergumulan dalam menghadapi masalah, atau bahkan terjebak dalam dosa yang membuat hati kita jauh dari Tuhan. Tanpa terang, manusia berjalan tanpa arah dan mudah tersandung. Yesus datang sebagai terang yang sejati. Ia tidak hanya menunjukkan jalan, tetapi Ia sendiri adalah jalan itu. Ketika kita memilih untuk mengikuti Yesus, kita tidak lagi berjalan dalam kegelapan. Firman-Nya menerangi langkah kita, Roh Kudus menuntun hati kita, dan kasih-Nya memberi kita keberanian untuk melangkah. Namun, mengikuti terang berarti kita juga harus meninggalkan kegelapan. Tidak mungkin seseorang berjalan dalam terang tetapi masih mencintai dosa. Ada panggilan untuk bertobat, untuk berubah, dan untuk hidup dalam kebenaran.
Ketamakan Membawa Maut
Bacaan : Lukas 12 : 15 “kataNya lagi kepada mereka : “Berjaga – jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah – limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Di tayangan pendek Instagram / tiktok diceritakan ada seseorang yang memiliki kertas ajaib yang berlubang. Melalui kertas itu dia bisa mengambil barang apapun tanpa membuka kunci. Saat ia ingin Es Krim di kulkas, tinggal memasukan tangannya di lubang kertas itu maka pintu kulkas bisa ditembus. Dalam kesehariannya banyak hal yang dilakukan dengan menggunakan kertas itu. Suatu ketika dia ingin mengambil uang ATM, tanpa menggunakan kartu dia bisa ambil dengan kertas ajaib itu. Tidak puas dengan itu dia ingin ambil uang di brankas yang jumlahnya banyak, lalu ditempelkanlah kertas yang berlubang itu. Dengan tangannya dia ambil uang satu persatu, dalam hatinya terlalu lama kalau satu-satu lalu ia masuk dalam brankas melalui lubang kertas itu. Tanpa diduga saat orang tersebut dalam brankas kertas itu lepas dari brankas dan orang itu akhirnya terkunci di brankas itu. Melalui Lukas 12:15 ini mengisahkan ajaran Tuhan Yesus terhadap kekayaan. Tuhan Yesus memberi nasehat, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Tuhan Yesus memberikan cara pandang yang benar terhadap harta kekayaan. Harta kekayaan seharusnya sebagai sarana untuk mengabdi kepada Tuhan dan mencintai sesama. Melalui bacaaan ini mengingatkan kita untuk bijak terhadap harta kekayaan. Jangan sampai pada akhirnya kita menjadi rakus dan akhirnya diperbudak oleh harta kekayaan hingga kita sendiri celaka Manusia harus hati-hati terhadap sikap tamak, karena ketamakan adalah hal yang membahayakan. Sebab akan menyebabkan dosa-dosa yang lain, bisa jadi akan mencelakan kita. seperti ilustrasi di atas dan para koruptor akhirnya harus berurusan dengan hukum. Bekerja keras boleh, semangat kerja harus tetapi bersyukur tidak boleh kita lupakan. Ingat saat kita mati harta tidak akan kita bawa.
FOKUS (renungan mingguan)
Bacaan : Matius 25 : 14 – 30 “Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta Tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan Tuan!“ Matius 25:25 (PBTB2) Suatu ketika dua orang pencari rumput memulai mencari rumput ditempat yang berdekatan. Pencari rumput pertama memulai menyabit rumput yang ada di depannya, sekitar 1/2 jam kemudian pencari rumput itu berdiri, ternyata sudah sekitar 10 meter pencari rumput ini berada di depan dari dia memulai mencari rumput. Kemudian dimasukkanlah rumput itu ke tempat yang dia bawa. Pencari rumput ini mencari temannya, yaitu pencari rumput kedua, ternyata pencari rumput ke dua ini belum mendapatkan rumput sebanyak pencari pertama. Ketika ditanya ternyata pencari rumput ke dua ini tidak fokus mencari yang di depannya tetapi matanya memandang hamparan tempat dia mencari rumput dan pindah-pindah. Hingga akhirnya waktunya habis dia gunakan untuk melihat hijaunya rumput yang terlihat lebih segar dari yang di depannya. Pada akhirnya malah tidak mendapatkan rumput secara maksimal. Matius 25:14-30 mengisahkan seorang majikan pergi ke luar negeri dan mempercayakan harta kekayaannya kepada tiga orang hambanya. Ia memberikan kepada hamba masing-masing hamba pertama lima talenta, kepada hamba ke-2 dua talenta, dan kepada hamba ke-3 satu talenta. Hamba pertama menggunakan lima talenta untuk berdagang dan menghasilkan lima talenta lagi. Hamba ke-2 menggunakan dua talenta untuk berdagang dan menghasilkan dua talenta lagi. Hamba ke-3 hanya mengubur talenta yang ia miliki. Usut punya usut ternyata alasan dari hamba ke tiga ini adalah tidak terima! karena dia hanya mendapatkan satu talenta. Lalu majikan marah, sebab majikan menganggap hamba ini tidak bertanggungjawab terhadap apa yang telah diberikan dan yang telah disepakati. Bacaan ini mengajak kita untuk kita fokus dengan apa yang ada di depan kita dan yang telah dipercayakan ke kita. Sebab apabila kita melihat orang lain, justru kita tidak ada gairah untuk menjalani hidup dan pada akhirnya tidak ada apapun yang kita hasilkan. Semoga kita bisa fokus terhadap ada yang dipercayakan ke kita. AMIN. ——————————————
