Kamis, 16 Juli 2026Bacaan : Ibrani 2 : 1 – 9 | Pujian : KJ. 453 ————————————————————————————————————————– “Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.” (Ayat 1) SETIA BERPEGANG SAMPAI AKHIR Pada usia yang semakin bertambah, seseorang memiliki banyak cerita hidup. Ada kisah keberhasilan, kegagalan, sukacita, namun juga ada pergumulan panjang yang dilewati. Dalam perjalanan hidup yang panjang itu, tidak jarang iman pun mengalami pasang surut. Ada kalanya semangat mengikut Tuhan begitu kuat, namun ada juga saat-saat di mana iman terasa lemah dan hampir hanyut oleh keadaan. Pekan Adi Yuswa mengingatkan kita bahwa kesetiaan kepada Tuhan bukan hanya soal awal yang baik, tetapi tentang bertahan sampai akhir dengan penuh iman. Penulis surat Ibrani mengingatkan jemaat agar lebih teliti memperhatikan apa yang telah mereka dengar, supaya mereka tidak hanyut terbawa arus dunia. Firman ini menegaskan bahwa iman perlu terus dipelihara. Keselamatan yang dikerjakan Allah melalui Yesus Kristus adalah anugerah yang besar. Yesus, yang untuk sementara dibuat lebih rendah dari malaikat, rela menderita dan mati bagi manusia, supaya kita memperoleh hidup. Kasih dan karya-Nya begitu nyata dan tidak tergantikan oleh apa pun. Bagi para adi yuswa dan kita semua, firman Tuhan hari ini menjadi panggilan kita untuk tetap setia berpegang pada Tuhan. Kesetiaan bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi memilih tetap percaya dan bersandar kepada Tuhan dalam segala keadaan. Satya bhakti t’rusing Gusti mengajak kita untuk tidak melepaskan iman kita pada Kristus. Meskipun tubuh melemah dan usia bertambah, justru dalam keterbatasan itulah, kasih karunia Allah dinyatakan semakin sempurna. Dalam kehidupan kita sehari-hari, kesetiaan itu dapat kita wujudkan melalui sikap sederhana, seperti: tetap setia berdoa, membaca Firman Tuhan, hadir dalam persekutuan, serta menjadi teladan iman bagi anak, cucu, dan lingkungan sekitar kita. Pengalaman hidup yang panjang dapat menjadi kesaksian yang nyata akan kesetiaan Tuhan yang tidak pernah berubah dalam hidup kita. Kiranya para adi yuswa dan kita semua semakin diteguhkan untuk setia sampai akhir, tidak hanyut oleh arus dunia, dan terus melekat erat kepada Kristus, Sang Sumber Keselamatan kita. Amin. [YNW]. “Kesetiaan kepada Tuhan di masa tua adalah kesaksian iman yang paling indah bagi generasi berikutnya.”
SEGELAS SUSU
Selasa, 14 Juli 2026 Bacaan : Efesus 4 : 17 – 5 : 2 | Pujian : KJ. 370 ————————————————————————————————————————– “… supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Ayat 23-24) SEGELAS SUSU Pagi itu, seorang ibu memarahi anaknya hanya karena segelas susu jatuh dan tumpah di lantai. Suara si ibu meninggi bukan semata-mata karena susu itu, melainkan karena tubuhnya sudah kehabisan tenaga, pikirannya penuh, dan hatinya lama menahan lelah! Sejak pagi buta si ibu belum berhenti bergerak: menyiapkan sarapan, membereskan rumah, dan menahan kesal pada suaminya yang tidak peka. Ketika susu itu tumpah, yang pecah bukan hanya gelas namun sisa kesabarannya! Ia membentak, pintu dibanting, lalu duduk di dapur dengan dada sesak dan mata basah. Dalam hati ia berbisik, “Tuhan, aku lelah begini terus.” Di momen itu ia sadar bahwa ini bukan soal anak ceroboh, ini soal dirinya yang lelah sampai kehilangan kendali. Cerita segelas susu yang tumpah menjadi menarik ketika diperjumpakan dengan Efesus 4:17–5:2. Paulus tidak menyalahkan keadaan, tetapi membongkar akar masalah: cara hidup lama yang dikuasai ego dan emosi. Manusia lama itu reaktif, defensif, dan gampang meledak. Karena itu pesannya jelas: tanggalkan manusia lama! Jangan simpan amarah. Jangan biarkan kata-kata melukai. Jangan memelihara kepahitan! Ia menohok tanpa basa-basi: Iman yang tidak mengubah cara kita bereaksi dalam keseharian adalah iman yang mati. Lalu Paulus menaikkan standar, ukurannya bukan “wajar aku marah”, tetapi “aku meniru Kristus atau tidak?” Kristus mengasihi dengan menyerahkan diri-Nya, bukan dengan melampiaskan emosi lalu menyesal. Artinya jelas pertumbuhan iman bukan sekadar soal makin rajin ibadah, tetapi cepat berhenti saat mau meledak, berani meminta maaf, dan serius memutus pola lama. Jika respons selalu sama setiap kali lelah, itu tanda bahwa pertumbuhan iman kita belum terjadi. Di sinilah dapur berubah menjadi “altar kecil”. Peristiwa susu tumpah menjadi cermin: “Apakah aku terus membiarkan manusia lama memimpin keseharianku, ataukah aku mau mengenakan manusia baru?” Pertumbuhan bukan tentang menjadi yang “ideal”. Pertumbuhan adalah tentang keberanian menanggalkan pola hidup lama dan memilih hidup baru, yang lebih terkendali, lebih rendah hati, dan lebih rela berkorban. Di situlah keindahan sejati lahir, bukan dari kesempurnaan, melainkan dari perbaikan hidup yang diulang setiap hari. Amin. [vena]. “Di sela kejadian dan reaksi, Tuhan memberi kita jeda – di situlah iman diuji dan kasih dipilih.”
Yesus adalah Terang Hidup
Minggu, 10 Mei Injil Yohanes 8:12 Yesus berkata, “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Pasal 8 ayat 12 menyatakan sebuah kebenaran rohani tentang terang yang kekal bagi orang percaya. Terang melambangkan kehidupan, kebenaran, dan arah yang jelas, sedangkan kegelapan melambangkan dosa, kebingungan, dan keterpisahan dari Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering berada dalam kegelapan. Kita mungkin menghadapi kebingungan dalam mengambil keputusan, pergumulan dalam menghadapi masalah, atau bahkan terjebak dalam dosa yang membuat hati kita jauh dari Tuhan. Tanpa terang, manusia berjalan tanpa arah dan mudah tersandung. Yesus datang sebagai terang yang sejati. Ia tidak hanya menunjukkan jalan, tetapi Ia sendiri adalah jalan itu. Ketika kita memilih untuk mengikuti Yesus, kita tidak lagi berjalan dalam kegelapan. Firman-Nya menerangi langkah kita, Roh Kudus menuntun hati kita, dan kasih-Nya memberi kita keberanian untuk melangkah. Namun, mengikuti terang berarti kita juga harus meninggalkan kegelapan. Tidak mungkin seseorang berjalan dalam terang tetapi masih mencintai dosa. Ada panggilan untuk bertobat, untuk berubah, dan untuk hidup dalam kebenaran.
Ketamakan Membawa Maut
Bacaan : Lukas 12 : 15 “kataNya lagi kepada mereka : “Berjaga – jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah – limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Di tayangan pendek Instagram / tiktok diceritakan ada seseorang yang memiliki kertas ajaib yang berlubang. Melalui kertas itu dia bisa mengambil barang apapun tanpa membuka kunci. Saat ia ingin Es Krim di kulkas, tinggal memasukan tangannya di lubang kertas itu maka pintu kulkas bisa ditembus. Dalam kesehariannya banyak hal yang dilakukan dengan menggunakan kertas itu. Suatu ketika dia ingin mengambil uang ATM, tanpa menggunakan kartu dia bisa ambil dengan kertas ajaib itu. Tidak puas dengan itu dia ingin ambil uang di brankas yang jumlahnya banyak, lalu ditempelkanlah kertas yang berlubang itu. Dengan tangannya dia ambil uang satu persatu, dalam hatinya terlalu lama kalau satu-satu lalu ia masuk dalam brankas melalui lubang kertas itu. Tanpa diduga saat orang tersebut dalam brankas kertas itu lepas dari brankas dan orang itu akhirnya terkunci di brankas itu. Melalui Lukas 12:15 ini mengisahkan ajaran Tuhan Yesus terhadap kekayaan. Tuhan Yesus memberi nasehat, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Tuhan Yesus memberikan cara pandang yang benar terhadap harta kekayaan. Harta kekayaan seharusnya sebagai sarana untuk mengabdi kepada Tuhan dan mencintai sesama. Melalui bacaaan ini mengingatkan kita untuk bijak terhadap harta kekayaan. Jangan sampai pada akhirnya kita menjadi rakus dan akhirnya diperbudak oleh harta kekayaan hingga kita sendiri celaka Manusia harus hati-hati terhadap sikap tamak, karena ketamakan adalah hal yang membahayakan. Sebab akan menyebabkan dosa-dosa yang lain, bisa jadi akan mencelakan kita. seperti ilustrasi di atas dan para koruptor akhirnya harus berurusan dengan hukum. Bekerja keras boleh, semangat kerja harus tetapi bersyukur tidak boleh kita lupakan. Ingat saat kita mati harta tidak akan kita bawa.
FOKUS (renungan mingguan)
Bacaan : Matius 25 : 14 – 30 “Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta Tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan Tuan!“ Matius 25:25 (PBTB2) Suatu ketika dua orang pencari rumput memulai mencari rumput ditempat yang berdekatan. Pencari rumput pertama memulai menyabit rumput yang ada di depannya, sekitar 1/2 jam kemudian pencari rumput itu berdiri, ternyata sudah sekitar 10 meter pencari rumput ini berada di depan dari dia memulai mencari rumput. Kemudian dimasukkanlah rumput itu ke tempat yang dia bawa. Pencari rumput ini mencari temannya, yaitu pencari rumput kedua, ternyata pencari rumput ke dua ini belum mendapatkan rumput sebanyak pencari pertama. Ketika ditanya ternyata pencari rumput ke dua ini tidak fokus mencari yang di depannya tetapi matanya memandang hamparan tempat dia mencari rumput dan pindah-pindah. Hingga akhirnya waktunya habis dia gunakan untuk melihat hijaunya rumput yang terlihat lebih segar dari yang di depannya. Pada akhirnya malah tidak mendapatkan rumput secara maksimal. Matius 25:14-30 mengisahkan seorang majikan pergi ke luar negeri dan mempercayakan harta kekayaannya kepada tiga orang hambanya. Ia memberikan kepada hamba masing-masing hamba pertama lima talenta, kepada hamba ke-2 dua talenta, dan kepada hamba ke-3 satu talenta. Hamba pertama menggunakan lima talenta untuk berdagang dan menghasilkan lima talenta lagi. Hamba ke-2 menggunakan dua talenta untuk berdagang dan menghasilkan dua talenta lagi. Hamba ke-3 hanya mengubur talenta yang ia miliki. Usut punya usut ternyata alasan dari hamba ke tiga ini adalah tidak terima! karena dia hanya mendapatkan satu talenta. Lalu majikan marah, sebab majikan menganggap hamba ini tidak bertanggungjawab terhadap apa yang telah diberikan dan yang telah disepakati. Bacaan ini mengajak kita untuk kita fokus dengan apa yang ada di depan kita dan yang telah dipercayakan ke kita. Sebab apabila kita melihat orang lain, justru kita tidak ada gairah untuk menjalani hidup dan pada akhirnya tidak ada apapun yang kita hasilkan. Semoga kita bisa fokus terhadap ada yang dipercayakan ke kita. AMIN. ——————————————
