KASIH YANG MELAMPAUI BATAS

KASIH YANG MELAMPAUI BATAS

Minggu, 08 Maret 2026

Bacaan : Yohanes 4 : 5 – 42   |     Pujian : KJ. 39

“tetapi siapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.” (Ayat 14a)

KASIH YANG MELAMPAUI BATAS

Dalam perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria (Yoh.  4:1–42), kita menemukan teladan penggembalaan yang melampaui sekat-sekat sosial, budaya, dan religius. Di tengah masyarakat yang keras memisahkan antara orang Yahudi dan Samaria, Yesus justru memilih hadir, bukan hanya lewat rute fisik yang jarang dipilih, tetapi juga secara pribadi dan hati. Yesus memulai dialog dengan perempuan Samaria, dengan sebuah permintaan sederhana: “Berilah Aku minum.” Namun di balik kalimat itu terkandung sebuah pendekatan yang lembut, penuh kasih, dan sangat manusiawi. Ia tidak datang sebagai pengkhotbah yang menggurui, tetapi sebagai pribadi yang membuka ruang relasi. Ia melanggar tatanan yang berlaku, Ia berbicara dengan perempuan Samaria di tempat umum. Namun justru dari hal itulah lahir sebuah dialog eksistensial yang mengubah hidup.

Dalam percakapan itu, Yesus membangun jembatan, bukan tembok. Ia tidak hanya membahas kebutuhan jasmani berupa air, tetapi juga menawarkan “air hidup”, penggenapan akan pengampunan dan identitas baru. Yesus tidak menghakimi masa lalu perempuan itu, melainkan Ia mengakui keberadaannya sebagai pribadi yang layak dikasihi dan ditebus. Inilah yang menjadi pengingat kita bahwa kasih Kristus tidak dibatasi oleh latar belakang, luka masa lalu, ataupun cap masyarakat. Melalui perjumpaan-Nya ini, perempuan Samaria itu bukan hanya menjadi penerima Injil saja, tetapi ia juga menjadi pembawa kabar sukacita. Ia kembali ke kotanya dan bersaksi, sehingga banyak orang percaya. Ini menunjukkan bahwa siapa pun, termasuk mereka yang dianggap “liyan” atau “tidak layak”, dapat pakai Allah menjadi alat misi-Nya.

Bacaan hari ini ini mengajak kita, sebagai gereja dan orang percaya untuk meneladani gaya penggembalaan Yesus, yang hadir secara personal, membangun kedekatan sebagai sahabat, dan membuka ruang dialog dengan kasih. Demikian halnya dengan kita, dalam dunia yang penuh sekat ini, kita dipanggil untuk menjadi jembatan, bukan benteng. Kiranya kita berani melintasi batas sekat-sekat yang ada, demi menghadirkan kasih dan kebenaran Kristus yang menyelamatkan. Amin. [IVNA].

“Kasih sejati tak membangun tembok, melainkan melintasi batas

untuk menjangkau yang tersisih.”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Contact

Email : sekberbmgj@gmail.com

Kantor Sekretariat Bersama @sinode GKJ
(0298) 326684

© 2022 Created by SekberBMGJ

This website uses cookies to provide you with the best browsing experience.

Accept
Decline