Jumat, 15 Mei Persekutuan Yang Indah Kisah Para Rasul 2 :41-47 2:41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 2:42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 2:43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. 2:44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, 2:45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. 2:46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, 2:47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Jemaat mula-mula hidup dalam persekutuan yang indah, bertekun dalam pengajaran rasul, memecahkan roti, dan berdoa bersama. Sehati berbagi memenuhi kebutuhan sesama dan disukai banyak orang. Mereka hidup dalam pola komunitas yang berfokus pada kasih, kesatuan, dan ketergantungan pada Tuhan. Persekutuan yang mencerminkan kasih Kristus. Ada pepatah mengatakan dekat api menjadi panas, Dekat es menjadi dingin. Kedekatan sangat berpengaruh dan berdampak. Dengan siapa kita mendekat? Dekat Kristus akan membawa perubahan semakin serupa Dia. Menunjukan buah dan karakter kasih Kristus. Dan dekat persekutuan anggota tubuh Kristus yang lainnya, akan membuat kasih Tuhan semakin kuat. Saling membangun dan melengkapi. Mari semakin bertumbuh, giat didalam persekutuan, belajar firman, saling mendoakan, dan berbagi dalam perhatian kasih yang nyata. Jangan menjauh, jangan menjadi kendor, mari semakin giat dalam melakukannya. Terus berbuah manis melalui persekutuan yang indah, yang memuliakan nama Tuhan.
Hanya dalam Kristus Yesus
Kamis, 14 Mei 2026 Kisah Para Rasul 4:12 4:12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamat kan. Semua orang membutuhkan keselamatan. Menjadi pertanyaannya, bagaimana kamu dapat diselamatkan? Pasti jawaban setiap pribadi berbeda- beda. Ada yang begitu yakin karena perbuatan baiknya.Amal dan semua hasil dari pemberiannya. Ada yang optimis karena rajinnya beribadah. Ada yang bingung…karena apapun yang diperbuatnya berakhir dengan kesalahan dan kelemahan. Bagaimana dengan saudara? Firman Tuhan menegaskan keselamatan hanya ada didalam Kristus Yesus. Pribadi yang disalib, mati, dan bangkit mengalahkan maut. Pribadi yang memegang kuasa untuk mengampuni segala dosa. Karena Dia tidak berdosa. Pribadi yang disebut Mesias. Bagaimana caranya? Dengan percaya Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru selamat. Pribadi yang sanggup mengampuni dan membenarkan. Dan dengan kerendahan hati menyadari benar bahwa diri kita adalah orang berdosa yang membutuhkan kasihNya. Hanya dalam Kristus Yesus ada jaminan keselamatan dan penebusan diberikan. Hanya dalam Kristus Yesus, kita mengharapkan pertolongan, kelepasan, dan penyertaan . Hanya dalam Kristus kita juga mengaminkan pembelaan dihari penghakiman . Hanya dalam Kristus Yesus.
BELAJAR DARI DORKAS
Rabu, 13 Mei Kisah Para Rasul 9:36-43 9:36 Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita–dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik 1 dan memberi sedekah. 9:37 Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Dan setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. 9:38 Lida dekat dengan Yope. Ketika murid-murid mendengar, bahwa Petrus ada di Lida, mereka menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan: “Segeralah datang ke tempat kami.” 9:39 Maka berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setelah sampai di sana, ia dibawa ke ruang atas dan semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian, yang dibuat Dorkas waktu ia masih hidup. 9:40 Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. 9:41 Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup. 9:42 Peristiwa itu tersiar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. 9:43 Kemudian dari pada itu Petrus tinggal beberapa hari di Yope, di rumah seorang yang bernama Simon, seorang penyamak kulit. Dorkas disebut juga dengan nama Tabita ( rusa betina). Ia tinggal di daerah Yope. Apa yang dilakukan seorang Dorkas?, sehingga banyak orang yang sedih dan tidak mau kehilangan dia, setelah kematiannya?. Apa saja yang dilakukan Dorkas semasa hidupnya, sehingga membuat pribadi- pribadi disekitarnya sangat kehilangan kehadirannya. Ayat 36, dicatat Dorkas banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Apakah Dorkas sangat kaya dan menjadi dermawan?. Dorkas hanyalah seorang wanita sederhana yang bisa menjahit baju. Membuat dan membagikannya kepada orang sekitarnya, terutama para janda. Kasih dan rasa peduli yang sangat besar di lakukan oleh Dorkas di masa hidupnya. Bahkan melalui peristiwa kematiannyapun, tetap menjadi berkat bagi sesama. Banyak orang yang kehilangan keberadaan Dorkas berduka, menangis, dan berdoa mengharapkan kasih Tuhan. Dan melalui pelayanan Petrus Tuhan membangkitkan Dorkas. Menghidupkannya kembali dan hadir ditengah saudara-saudara di Yope. Bahkan melalui peristiwa itu, tersiar diseluruh Yope, sehingga banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. Belajar dari Dorkas. Dia memberi teladan yang hidup, penuh kasih yang nyata, yang memberkati dan memuliakan nama Tuhan.
Selasa, 12 Mei Kasih Allah yang Menyelamatkan Injil Yohanes 3:16 “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” Kasih Allah bukan sekadar konsep, tetapi tindakan nyata. Ia memberikan yang paling berharga Anak-Nya sendiri demi keselamatan manusia. Manusia pada dasarnya hidup dalam dosa dan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Hukuman dosa adalah kebinasaan, tetapi kasih Allah membuka jalan keselamatan melalui Yesus Kristus. Ini adalah kasih yang tidak bersyarat, yang tidak menunggu manusia menjadi sempurna terlebih dahulu. Yesus datang bukan untuk menghukum, tetapi untuk menyelamatkan. Ini menunjukkan hati Tuhan yang penuh belas kasih. Namun, keselamatan ini harus diresponi dengan iman. Percaya kepada Yesus berarti menyerahkan hidup sepenuhnya kepada-Nya dan hidup dalam ketaatan. Kasih yang kita terima dari Tuhan seharusnya mengubah cara kita hidup. Kita dipanggil untuk mengasihi sesama, mengampuni, dan hidup dalam kerendahan hati. Kasih yang sejati selalu melibatkan pengorbanan. pengorbanan, bahwa kasih yang tulus sering kali membutuhkan tindakan nyata, bukan hanya kata-kata. Dalam kehidupan, itu bisa terlihat dari hal sederhana seperti menolong, mengampuni ataupun mengalah demi kebaikan bersama.
Tinggal di dalam Kristus, Berbuah dalam Hidup
Senin, 11 Mei Injil Yohanes 15:1 Yesus berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak.” Yesus adalah pokok anggur yang kekal dan sebagai manusia kita harus tinggal dan berbuah dalam kehidupan sehari-hari. Ranting tidak memiliki kehidupan sendiri ia bergantung sepenuhnya pada pokok. Sering kali manusia mencoba hidup dengan kekuatannya sendiri. Kita merasa mampu, mandiri, dan tidak membutuhkan Tuhan. Namun, tanpa hubungan yang hidup dengan Kristus, kehidupan rohani kita akan menjadi kering. Kita mungkin terlihat baik di luar, tetapi di dalam tidak ada pertumbuhan sejati. Tinggal di dalam Kristus berarti hidup dalam hubungan yang dekat dan terus-menerus dengan-Nya. Ini bukan hanya soal datang ke gereja, tetapi tentang kehidupan yang berakar dalam firman, doa, dan ketaatan setiap hari. Ketika kita tinggal di dalam Dia, kita menerima kekuatan, penghiburan, dan pertumbuhan. Buah yang dihasilkan bukan hanya keberhasilan duniawi, tetapi karakter Kristus: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, dan kebaikan. Orang lain akan melihat perubahan dalam hidup kita dan memuliakan Tuhan. Yesus juga mengingatkan bahwa ranting yang tidak berbuah akan dipotong. Ini menunjukkan pentingnya hidup yang benar-benar melekat pada-Nya, bukan hanya sekadar mengaku percaya.
Ketika Tuhan Terasa Diam
Sabtu, 9 Mei Lukas 23:44–46 23:44 Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, 23:45 sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. 23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. 23:47 Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!” 23:48 Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. 23:49 Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, melalui Lukas 23:44–46 kita diajak masuk ke dalam sebuah peristiwa yang sangat kelam sekaligus penuh makna. Pada saat itu kira-kira pukul dua belas siang, waktu di mana seharusnya terang menyinari bumi. Namun yang terjadi justru sebaliknya: kegelapan menyelimuti seluruh daerah itu hingga pukul tiga. Di tengah suasana yang mencekam itu, Yesus Kristus tergantung di kayu salib, menanggung penderitaan yang begitu dalam, baik secara fisik maupun batin. Saudara-saudari, yang membuat momen ini semakin berat adalah seolah-olah tidak ada respon dari surga. Tidak ada suara, tidak ada pertolongan, tidak ada intervensi. Tuhan tampak diam. Bagi manusia, ini membingungkan. Bukankah Yesus adalah Anak Allah? Mengapa Bapa tidak bertindak? Mengapa Ia seakan membiarkan semua ini terjadi? Justru di tengah apa yang tampak sebagai “keheningan” itu, karya terbesar sedang berlangsung. Tabir Bait Suci terbelah dua, menandakan bahwa penghalang antara manusia dengan Allah kini telah disingkirkan. Jalan keselamatan dibukakan. Apa yang terlihat seperti kekalahan, ternyata adalah kemenangan. Apa yang tampak sebagai diamnya Tuhan, justru adalah bagian dari rencana-Nya yang sempurna. Di saat-saat terakhir-Nya, Yesus berseru, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Ini bukan seruan keputusasaan, melainkan sebuah penyerahan total. Dalam situasi yang gelap dan sunyi, Yesus tetap percaya kepada Bapa. Ia tidak kehilangan iman, sekalipun keadaan di sekeliling-Nya tampak tanpa harapan. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih, sering kali dalam kehidupan kita pun mengalami hal yang serupa. Kita berdoa, tetapi seolah tidak ada jawaban. Kita menanti, tetapi tidak ada perubahan. Kita berharap, tetapi Tuhan terasa jauh, bahkan diam. Namun melalui firman Tuhan ini, kita diingatkan bahwa diamnya Tuhan bukan berarti Ia tidak hadir. Keheningan-Nya bukan berarti Ia berhenti bekerja. Justru di saat-saat seperti itu, Tuhan sering sedang mengerjakan sesuatu yang lebih besar dari apa yang kita pahami. Ia sedang membentuk iman kita, memperdalam kepercayaan kita, dan menggenapi rencana-Nya dengan cara yang sering kali melampaui pengertian kita. Tuhan tidak hanya mencari iman ketika segala sesuatu jelas, tetapi iman yang tetap bertahan ketika segala sesuatu terasa gelap. Terkadang, ketika Tuhan terasa diam, jangan cepat menyerah begitu saja. Tetaplah percaya. Sebab di balik keheningan itu, Tuhan tetap bekerja. Ia tidak pernah meninggalkan, Ia tidak pernah lalai, dan Ia tidak pernah berhenti menggenapi rencanaNya dalam hidup kita.
Kegagalan yang Menguatkan
Jumat, 8 Mei Lukas 22:31–32 22:31 Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, 22:32 tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, Lukas 22:31–32 kita mendapati sebuah momen yang sangat menyentuh. Di saat-saat terakhir sebelum penderitaanNya, Yesus berbicara kepada Simon Petrus bukan dengan janji kenikmatan duniawi melainkan dengan sebuah peringatan. Ia menyatakan bahwa Petrus akan mengalami kegoncangan iman, bahkan akan jatuh. Ini bukan hal yang mudah kita terima, apalagi bagi seorang murid yang begitu dekat dengan Yesus. Namun di tengah peringatan itu, terselip sebuah kalimat yang penuh pengharapan. Yesus berkata, “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur.” Artinya, kegagalan memang akan terjadi, tetapi iman Petrus tidak akan hancur. Ada jaminan bahwa di balik kejatuhan itu, Tuhan tetap memegang hidupnya. Bahkan Yesus menambahkan, “Dan jika engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Ini menunjukkan bahwa kegagalan Petrus bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses yang akan dipakai Tuhan. Saudara-saudari, dari sini kita belajar bahwa kegagalan dalam hidup bukan sekadar jatuh, tetapi bisa menjadi titik balik yang membentuk. Petrus memang gagal bahkan ia menyangkal Yesus. Namun ia tidak berhenti di sana. Ia bertobat, dipulihkan, dan kemudian dipakai Tuhan secara luar biasa untuk menguatkan banyak orang. Apa yang dulu menjadi kelemahannya, justru diubah Tuhan menjadi kekuatan dalam pelayanannya. Sering kali kita memandang kegagalan sebagai sesuatu yang memalukan, sesuatu yang harus disembunyikan. Kita merasa bahwa ketika kita gagal, berarti kita tidak layak, tidak cukup baik, bahkan tidak berguna. Tetapi melalui kisah Petrus, firman Tuhan mengoreksi cara pandang kita. Tuhan tidak menolak orang yang gagal. Sebaliknya, Ia membentuk dan memulihkan mereka. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih, kegagalan yang kita alami hari ini tidak harus menjadi akhir dari perjalanan iman kita. Justru di tangan Tuhan, kegagalan dapat menjadi sarana pembentukan. Melalui kegagalan, Tuhan merendahkan hati kita, mengajar kita untuk bergantung kepada-Nya, dan mempersiapkan kita menjadi berkat bagi orang lain. Jangan berhenti hanya karena pernah jatuh. Datanglah kembali kepada Tuhan. Sebab kegagalan yang diserahkan kepada-Nya tidak akan menghancurkan iman, tetapi justru memurnikannya dan membawa kita kepada kehidupan yang lebih kuat di dalam Dia.
Iman yang Berdampak Besar
Kamis, 7 Mei Bacaan: Lukas 17:11–19 17:11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. 17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 17:13 dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” 17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. 17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 17:17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” 17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, melalui Injil Lukas 17:11–19 kita melihat sebuah kisah yang sederhana namun sangat dalam maknanya. Diceritakan bahwa ada sepuluh orang kusta yang berdiri dari jauh ketika melihat Yesus. Mereka tidak berani mendekat, karena pada masa itu penyakit kusta bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga membuat seseorang dianggap najis, dijauhi, bahkan terasing dari kehidupan sosial dan keagamaan. Namun di tengah keterasingan itu, mereka masih memiliki satu hal yang tidak hilang, yaitu harapan. Dengan penuh kerendahan hati mereka berseru, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Saudara-saudari, menarik untuk kita perhatikan bahwa Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka saat itu juga. Ia justru memberi perintah, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Perintah ini bukan hal yang mudah, sebab saat itu kondisi mereka masih sakit. Artinya, mereka diminta untuk melangkah dalam iman, bukan berdasarkan apa yang mereka lihat atau rasakan. Dan di sinilah letak kuncinya: mereka taat. Mereka berjalan, dan justru dalam perjalanan itulah mereka menjadi tahir—dipulihkan sepenuhnya, baik secara fisik, diterima kembali secara sosial, bahkan iman mereka disentuh oleh kuasa Tuhan. Kesembuhan terjadi bukan saat mereka diam, tetapi saat mereka melangkah dalam ketaatan. Namun dari sepuluh orang itu, hanya satu yang kembali. Ia datang dengan hati yang penuh syukur, memuliakan Allah, dan tersungkur di hadapan Yesus. Yang mengejutkan, orang ini adalah seorang Samaria, seseorang yang biasanya dipandang rendah oleh orang Yahudi. Tetapi justru dialah yang menunjukkan respons iman yang sejati. Kepadanya Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara sekadar menerima kesembuhan dan mengalami keselamatan yang sebenarnya. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih, melalui peristiwa ini kita belajar bahwa iman, sekalipun sederhana, memiliki kuasa yang besar. Sepuluh orang mengalami kesembuhan, tetapi hanya satu yang mengalami relasi yang dipulihkan dengan Tuhan. Iman yang sejati bukan hanya tentang percaya untuk menerima pertolongan, tetapi juga tentang ketaatan untuk melangkah dan kerendahan hati untuk kembali bersyukur. Sering kali dalam kehidupan kita pun demikian. Kita datang kepada Tuhan ketika membutuhkan sesuatu. Kita berdoa, kita berharap, dan Tuhan menjawab. Tetapi setelah menerima jawaban itu, kita sering kali melanjutkan hidup tanpa kembali kepada-Nya. Kita menikmati berkat, tetapi melupakan Sang Pemberi berkat. Kita fokus pada apa yang kita terima, tetapi kehilangan keintiman dengan Tuhan. Melalui firman Tuhan hari ini, kita diingatkan bahwa iman bukan hanya tentang menerima, tetapi juga tentang kembali. Kembali untuk mengucap syukur, kembali untuk memuliakan Tuhan, dan kembali untuk hidup dalam relasi yang dekat dengan-Nya. Sebab pada akhirnya, yang Tuhan kehendaki bukan hanya kita mengalami pertolongan-Nya, tetapi kita hidup bersama-Nya.
Besar Dalam Cara Tuhan
Rabu, 6 Mei Markus 9:33-37 9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” 9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. 9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” 9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: 9:37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” Memiliki pengikut dalam media sosial, kepemilikan harta, dan kepemilikan barang mewah, memiliki jabatan tertentu menjadi tolok ukur seseorang dianggap “besar” pada masa modern. Yang menjadikan, orang-orang saat ini mencoba berbagai hal untuk mencapai apa yang dianggap dunia penting. Dalam kehidupan saat-saat ini, ada berbagai contoh nyata di dalam kehidupan; seperti membeli pengikut untuk memiliki jumlah yang besar, korupsi yang masih merajalela, dan suap menyuap untuk mencapai jabatan tertentu. Demikian pula, dalam kehidupan iman sebagai orang percaya. Seringkali secara tidak sadar masuk ke dalam kehidupan pelayanan, masih ada pelayan yang mungkin yang hanya ingin “tampil”, ingin dilihat banyak orang, serta untuk mencapai posisi tertentu. Dalam bacaan Markus 9:33-37, menceritakan bagaimana para murid, terjebak kepada mencari siapa yang terbesar di dalam komunitas murid Kristus. Bahkan, menjadi sebuah pertengkaran dalam para murid sepanjang perjalanan menuju Kapernaum. Tetapi, Yesus membuat pembalikan pola pikir para murid, Yesus berkata: Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya. Tidak hanya sampai pada dalam perkataan saja, tetapi dengan Yesus melanjutkan kepada simbol anak yang dimunculkan. Bahwa, anak yang dianggap tidak penting pada masa itu, menjadi penting dengan menjelaskan bahwa hal yang kekal bukan berdasarkan status, kepemilikan, dan pengikut. Tetapi, berasaskan kepada kerendahanhati dan melayani. Dari bacaan ini, kita bertanya dalam hati kita secara jujur merenungkan apakah dalam perjalanan iman, apakah pelayanan yang kita lakukan untuk Tuhan, atau untuk dilihat oleh orang? Oleh sebab itu, mari kita bersama belajar menjadi besar menurut cara Tuhan. Dengan melayani dengan kerendahanhati. Serta, menghidupi gaya hidup yang ugahari, yang mengusung gaya hidup yang sederhana, tidak berlebihan, bukan berarti kita tidak boleh memiliki harta, atau memiliki jabatan tertentu. Tetapi, menjalani hal itu dengan bertanggung jawab dalam setiap hal yang dipercayakan dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan pelayanan dengan kerendahan hati dan nilai keugaharian, kita hidup dalam nilai kerajaan Allah.
Kekuatan dari Keheningan
Selasa, 5 Mei Markus 1:35 1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. 1:36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; 1:37 waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” 1:38 Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” 1:39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan. Di zaman modern kita mengenal sebuah gaya hidup Hustle Culture. Secara, garis besar Hustle Culture adalah budaya gaya hidup yang “gila”kerja yang memprioritaskan produktivitas ekstream. Di mana seseorang merasa harus bekerja keras tanpa henti untuk mencapai kesuksesan. Memang budaya ini bukanlah hal baru di zaman ini, karena Hustle Culture, memiliki akar dari era Revolusi Industri dengan istilah Workaholic. Budaya ini, menjadi momok bagi orang-orang percaya saat ini. Bukan berarti, sebagai orang percaya tidak perlu memerhatikan pekerjaan, memerhatikan tanggung jawab sebagai manusia. Namun, ada satu kebutuhan dasar sebagai orang percaya yang sering terabaikan, yakni waktu untuk berdiam diri bersama Tuhan. Dalam Markus 1:35 mencatat bahwa di pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap. Yesus bangun dan pergi ke tempat yang hening untuk berdoa. Meskipun, pelayanan di dunia sangat padat, Ia tetap memprioritaskan relasi Pribadi-Nya dengan Bapa. Ia tidak menunggu waktu luang, tetapi dengan sengaja menyediakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapa. Dengan hal ini, Yesus menjadi teladan dalam kemanusiaan-Nya. Ia memahami, dan mengerti maksud dan tujuan Allah dalam kehidupan-Nya di dunia. Akan tetapi, dari relasi Pribadi-Nya dengan Bapa, Ia mendapatkan kekuatan, arah, dan keteguhan dalam ia menjalani panggilan-Nya di dunia. Dari bacaan saat ini, kita diundang untuk menata prioritas hidup kita. Di tengah budaya Hustle Culture di dunia saat-saat ini, tidak membuat kita tidak memiliki Relasi intim dengan Allah. Tetapi, seperti Yesus yang sudah memberikan teladan bagi umat-Nya, terus menyiapkan waktu agar tetap dikuatkan, memiliki arah, dan keteguhan dalam mejalani hidup dan kehidupan. Mari, sebagai orang percaya, mulai dengan langkah sederhana, bangun lebih pagi dan menyiapkan wakttu untuk berdoa dan merenunkan Firman Tuhan. Karena, dalam keheningan bersama Allah, kita mendapatkan kekuatan baru untuk menjalani kehidupan sebagai orang percaya, terlebih mendapatkan kebijaksanaan dalam menghadapi setiap pergumulan hidup sesehari.
