Selasa, 5 Mei Markus 1:35 1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. 1:36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; 1:37 waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” 1:38 Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” 1:39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan. Di zaman modern kita mengenal sebuah gaya hidup Hustle Culture. Secara, garis besar Hustle Culture adalah budaya gaya hidup yang “gila”kerja yang memprioritaskan produktivitas ekstream. Di mana seseorang merasa harus bekerja keras tanpa henti untuk mencapai kesuksesan. Memang budaya ini bukanlah hal baru di zaman ini, karena Hustle Culture, memiliki akar dari era Revolusi Industri dengan istilah Workaholic. Budaya ini, menjadi momok bagi orang-orang percaya saat ini. Bukan berarti, sebagai orang percaya tidak perlu memerhatikan pekerjaan, memerhatikan tanggung jawab sebagai manusia. Namun, ada satu kebutuhan dasar sebagai orang percaya yang sering terabaikan, yakni waktu untuk berdiam diri bersama Tuhan. Dalam Markus 1:35 mencatat bahwa di pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap. Yesus bangun dan pergi ke tempat yang hening untuk berdoa. Meskipun, pelayanan di dunia sangat padat, Ia tetap memprioritaskan relasi Pribadi-Nya dengan Bapa. Ia tidak menunggu waktu luang, tetapi dengan sengaja menyediakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapa. Dengan hal ini, Yesus menjadi teladan dalam kemanusiaan-Nya. Ia memahami, dan mengerti maksud dan tujuan Allah dalam kehidupan-Nya di dunia. Akan tetapi, dari relasi Pribadi-Nya dengan Bapa, Ia mendapatkan kekuatan, arah, dan keteguhan dalam ia menjalani panggilan-Nya di dunia. Dari bacaan saat ini, kita diundang untuk menata prioritas hidup kita. Di tengah budaya Hustle Culture di dunia saat-saat ini, tidak membuat kita tidak memiliki Relasi intim dengan Allah. Tetapi, seperti Yesus yang sudah memberikan teladan bagi umat-Nya, terus menyiapkan waktu agar tetap dikuatkan, memiliki arah, dan keteguhan dalam mejalani hidup dan kehidupan. Mari, sebagai orang percaya, mulai dengan langkah sederhana, bangun lebih pagi dan menyiapkan wakttu untuk berdoa dan merenunkan Firman Tuhan. Karena, dalam keheningan bersama Allah, kita mendapatkan kekuatan baru untuk menjalani kehidupan sebagai orang percaya, terlebih mendapatkan kebijaksanaan dalam menghadapi setiap pergumulan hidup sesehari.
Melihat Dengan Jelas
Senin, 4 Mei Markus 8:22-26 8:22 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. 8:23 Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: “Sudahkah kaulihat sesuatu?” 8:24 Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: “Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.” 8:25 Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. 8:26 Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: “Jangan masuk ke kampung!” Dalam Perjalanan Kehidupan manusia, sering kali kita bertemu dengan kata proses. Kata proses menurut KBBI adalah runutan peristiwa dalam perkembangan sesuatu. Dengan kata lain, proses ini menjadi sebuah peristiwa yang tidak bisa dipangkas dan tidak bisa terjadi dengan singkat. Apabila, mengambil contoh nyata dalam kehidupan manusia, sejak lahir sampai dengan mati. Ada banyak rangkaian kehidupan yang harus dilalui dan tidak bisa dihindari. Yang pada akhirnya membentuk kualitas dari pribadi tersebut. Demikian pula dari bacaan saat ini, dalam Markus 8:22-26. Menceritakan tentang seorang buta yang disembuhkan oleh Yesus. Menariknya, peristiwa penyembuhan ini tidak langsung atau secara instan, melainkan ada prosesnya. Proses di sini bukan, proses yang berhari-hari atau berbulan-bulan. Tetapi, Yesus menyentuh orang buta tersebut, sebanyak dua kali. Pada awal Yesus menyentuh, orang buta itu berkata, bahwa ia melihat orang-orang seperti pohon yang berjalan. Tetapi, setelah Yesus menyentuhnya kembali, ia baru melihat segala sesuatu dengan jelas. Dengan demikian, ada hal yang ingin kita refleksikan bersama, seringkali Allah bekerja melalui setiap proses dalam kehidupan orang percaya. Proses yang di alami tidaklah selalu mulus dan mudah. Juga, ada tantangan dan kesulitan, yang mungkin orang percaya hadapi. Dalam hal ini, yang dapat kita pelajari dari seorang buta dalam bacaan adalah sikap percaya penuh kepada Kristus. Karena, Yesus tidak hanya berhenti pada sentuhan yang pertama, tetapi dilanjutkan pada sentuhan yang kedua. Begitu juga, dengan kehidupan sebagai orang percaya, mungkin masih ada kekhawatiran, kesamaran dalam kehidupan iman percaya. Tetapi, melalui bacaan saat ini, sebagai orang percaya diingatkan bahwa Allah akan menuntun setiap proses kehidupan orang percaya, sampai kepada iman dan pikiran kita dapat melihat dengan jelas tentang maksud dan tujuan Allah dalam kehidupan sebagai orang percaya. Mari, sebagai umat percaya sudah seyogyanya menyerahkan seluruh proses kehidupan kita, agar dapat melihat dengan jelas apa yang ingin Allah kerjakan melalui kehidupan kita.
Melayani, Bukan Dilayani
Minggu, 3 Mei ( Matius 20:20-28 ) 20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” 20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” 20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Renungan hari ini membawa kita pada sebuah peristiwa yang sangat manusiawi, di mana ibu dari Yakobus dan Yohanes datang kepada Yesus untuk meminta kedudukan istimewa bagi anak-anaknya. Ia berharap agar kedua putranya bisa duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus saat Ia memerintah nanti. Permintaan ini mencerminkan ambisi yang sering kita miliki: keinginan untuk menjadi yang terhebat, dihormati, dan memiliki kuasa atas orang lain. Namun, Yesus justru memberikan jawaban yang membalikkan pemikiran dunia. Ia menjelaskan bahwa di dalam Kerajaan Allah, kehormatan tidak diukur dari jabatan, melainkan dari kesediaan untuk berkorban. Ketika murid-murid yang lain mendengar permintaan itu, mereka menjadi marah. Kemarahan mereka menunjukkan bahwa sebenarnya mereka pun memiliki keinginan yang sama untuk menjadi yang utama. Di sinilah Yesus memberikan pengajaran yang sangat mendalam bagi kita semua. Ia mengatakan bahwa jika di dunia ini para penguasa memerintah dengan tangan besi dan senang pamer kuasa, maka di antara pengikut-Nya hal itu tidak boleh terjadi. Bagi Yesus, siapa yang ingin menjadi besar, ia harus menjadi pelayan, dan siapa yang ingin menjadi yang pertama, ia harus menjadi hamba bagi sesamanya. Pesan ini sangat relevan bagi kehidupan kita sehari-hari, baik di dalam keluarga, tempat kerja, maupun lingkungan sosial. Sering kali kita merasa gengsi untuk melayani atau merasa rendah jika harus mengalah. Kita sering mengejar pengakuan dan ingin dilayani oleh orang lain. Namun, Yesus mengingatkan bahwa kebesaran hidup yang sejati ditemukan saat kita mau merendahkan hati untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Menjadi pelayan berarti peduli pada kebutuhan orang di sekitar kita dan tidak hanya memikirkan keuntungan diri sendiri. Sebagai teladan utama, Yesus menutup percakapan itu dengan mengingatkan tujuan kedatangan-Nya ke dunia. Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Jika Sang Guru saja mau merendahkan diri sedemikian rupa, maka kita pun diajak untuk melakukan hal yang sama. Mari kita belajar untuk tidak lagi berebut tempat terdepan demi pujian, melainkan berebut kesempatan untuk menjadi berkat bagi sesama. Sebab pada akhirnya, yang paling berharga di mata Tuhan bukanlah seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa besar kasih yang kita berikan melalui pelayanan yang tulus. Amin.
Mengampuni Tanpa Batas
Sabtu, 2 Mei ( Matius 18:21-35 ) – Renungan hari ini mengajak kita menyelami samudera pengampunan melalui percakapan antara Petrus dan Yesus. Petrus, yang mungkin merasa sudah sangat murah hati, bertanya apakah mengampuni tujuh kali sudah cukup. Namun, jawaban Yesus meruntuhkan batasan angka tersebut dengan menyebut “tujuh puluh kali tujuh kali,” yang secara simbolis berarti pengampunan tanpa batas. Melalui perumpamaan tentang hamba yang berutang sepuluh ribu talenta, Yesus memperlihatkan kontras yang tajam antara kasih karunia Allah yang tak terukur dengan kekerdilan hati manusia. Bayangkan seorang hamba yang utangnya setara dengan ribuan tahun upah kerja, sebuah jumlah yang mustahil untuk dilunasi seumur hidup. Ketika raja dalam perumpamaan itu menghapuskan seluruh utang tersebut hanya karena belas kasihan, hamba itu menerima kemerdekaan yang luar biasa. Namun, ironisnya, hamba yang sama justru mencekik sesamanya hanya karena utang yang sangat kecil. Ia lupa bahwa dirinya baru saja diselamatkan dari kehancuran total oleh kemurahan hati tuannya. Ketidakmampuannya untuk menyalurkan pengampunan yang telah ia terima menjadi bukti bahwa ia belum benar-benar menghargai besarnya anugerah yang diberikan kepadanya. Kisah ini menjadi cermin bagi kehidupan kita sehari-hari. Sering kali kita merasa sulit melepaskan pengampunan karena kita terlalu fokus pada luka yang ditimbulkan orang lain kepada kita, namun lupa pada “utang dosa” kita sendiri yang telah ditebus sepenuhnya oleh Kristus di kayu salib. Pengampunan sejati bukan sekadar tindakan moral, melainkan respons alami dari hati yang menyadari betapa besarnya ampunan yang telah Tuhan berikan bagi kita. Jika kita menutup pintu maaf bagi sesama, kita sebenarnya sedang membangun tembok bagi diri kita sendiri dan menolak prinsip kasih yang menjadi fondasi hubungan kita dengan Bapa. Oleh karena itu kita diingatkan bahwa mengampuni dengan segenap hati adalah perintah yang tidak bisa ditawar. Tuhan tidak meminta kita menghitung berapa kali seseorang menyakiti kita, melainkan meminta kita mengingat berapa kali Ia telah memulihkan kita. Ketika kita melepaskan pengampunan, kita tidak sedang membenarkan kesalahan orang lain, melainkan sedang membebaskan hati kita agar tetap selaras dengan kasih Allah yang tak terbatas. Marilah kita belajar untuk tidak menjadi hamba yang tidak tahu berterima kasih, melainkan menjadi saluran berkat yang membagikan kasih karunia yang telah kita terima secara cuma-cuma. Amin
Intropeksi Diri
Jumat, 1 Mei ( Matius 7:1-5 ) – Salah satu keunikan yang dimiliki oleh manusia adalah mudah menilai sesuatu berdasarkan apa yang kelihatan di depan mata, tanpa mau melihat jauh ke belakang tentang apa dan mengapa. Kemungkinan besar profesi sebagai hakim terhadap sesamanya itu dimiliki oleh setiap kita. Contoh sederhana : Ketika kita mendapati orang lain melakukan sebuah kesalahan, dengan cepat mulut kita mencibir dan menyalahkan, sikap kita menjauh dan mengucilkan. Hanya sedikit yang mencoba mendekat dan merangkul. Firman Tuhan pagi hari ini mengajak kita untuk ‘jangan menghakimi’. Larangan menghakimi bukan berarti tidak boleh menilai sama sekali. Tuhan Yesus tidak sedang melarang kita membedakan yang benar dan salah. Tetapi Yesus melarang sikap menghakimi yang arogan, menghukum dan merendahkan orang lain. Seakan-akan kita yang paling benar. Karena ukuran yang kita pakai untuk menghakimi, itu akan kembali kepada kita – seperti hukum tabur tuai: Jika kita mudah menghakimi orang lain, hal itu juga yang akan kita terima. Dan sebaliknya, jika kita penuh kasih dan mudah mengampuni maka hal itu juga yang akan kita terima. Tuhan Yesus menggunakan selumbar [kayu kecil] dan balok [kayu besar] sebagai ilustrasi: bahwa sering kali kita sibuk melihat kesalahan kecil orang lain, padahal kesalahan kita sendiri jauh lebih besar. Di ayat 5 Tuhan mengajak kita untuk intropeksi diri: Sebelum kita menilai [menegur atau menasehati] orang lain, alangkah baiknya kita bercermin terlebih dahulu, memeriksa diri sendiri, bertobat kemudian memperbaiki hidup kita. Supaya kita dapat menolong orang lain dengan hati yang benar. Sebab penghakiman adalah Haknya Tuhan, tugas kita adalah mengasihi sesama kita dengan tidak menjadi hakim atas mereka.Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk melakukan firman Tuhan. Amin
MISUNGSUNG ING KAHANAN WINATES
30 April 2026Waosan : 2 Korinta 8:2 Kaserat Ing Prajanjian Lami, satunggaling randha ingkang manggen ing kitha Sarfat. Randha punika gesang kacingkrangan. Ing kahanan pailan, piyambakipun namung gadhah glepung gandum sagenggem lan lisah wonten ing botol alit. Nabi Elia awit dhawuhipun Gusti Allah, kapurih ndugeni randha Sarfat punika. Ingkang dados pangeram-eram, randha punika awit imanipun dhumateng Gusti Allah, saged dados lantaran berkah tumrap Nabi Elia. Kasebat nilih randha Sarfat punika atur pangrimat dhateng Nabi Elia ngantos mangsa pailan punika rampung. Sinaosa kahanan ingkang winates, ananging mboten dados pambeng tumrap randha punika mbiyantu kasekengan tiyang sanes. (1 Raja 17:10-16) Kawontenan pasamuwan ing Korinta nandhang kasekengan. Bab punika kalampahan saged ugi tiyang-tiyang Kristen ingkang nembe sakedhik cacahipun dipun singkiri dening tiyang-tiyang ingkang dereng pitados. Pramila wonten pambeng ing babagan usaha, ekonomi lan sanes-sanesipun. Ananging sinaosa makaten, kasebat: “… Senajan miskin, nanging sarèhné rumangsa olèh kabegjan sing gedhé, pasamuwan-pasamuwan mau enggoné dedana ora sethithik.” (Terjemahan alkitab basa Jawi padintenan). Ing alkitab basa Inggris wonten ingkang paring terjemahan: “…but their joy was so great that they were extremely generous in their giving, even though they are very poor.” (Terjemahan alkitab basa Inggris Masa Kini). Cobi dipun gatosaken: they were extremely generous in their giving! Tiyang-tiyang punika anggenipun atur dana pisungsung kanthi patrap ekstrim! Saged ugi ing kahanan samangke, dampak perang Amerika-Israel lumawan Iran, ndadosaken gesang kita kados-kados sekeng lan kathah kirangipun. Ananging punika mboten saged dados pambeng anggen kita caos pisungsung dhumateng Gusti. Randha Sarfat, pasamuwan Korinta sampun dados tuladha supados kita mboten kapambeng dening kakirangan lan kasekengan kita. (Pdt. Em. Suyito Basuki)
PANGAJENG-AJENG ING SANG KRISTUS
30 April 2026Waosan : MISUNGSUNG ING KAHANAN WINATES 2 Korinta 8:2 – PANGAJENG-AJENG ING SANG KRISTUS Kaserat Ing Prajanjian Lami, satunggaling randha ingkang manggen ing kitha Sarfat. Randha punika gesang kacingkrangan. Ing kahanan pailan, piyambakipun namung gadhah glepung gandum sagenggem lan lisah wonten ing botol alit. Nabi Elia awit dhawuhipun Gusti Allah, kapurih ndugeni randha Sarfat punika. Ingkang dados pangeram-eram, randha punika awit imanipun dhumateng Gusti Allah, saged dados lantaran berkah tumrap Nabi Elia. Kasebat nilih randha Sarfat punika atur pangrimat dhateng Nabi Elia ngantos mangsa pailan punika rampung. Sinaosa kahanan ingkang winates, ananging mboten dados pambeng tumrap randha punika mbiyantu kasekengan tiyang sanes. (1 Raja 17:10-16) Kawontenan pasamuwan ing Korinta nandhang kasekengan. Bab punika kalampahan saged ugi tiyang-tiyang Kristen ingkang nembe sakedhik cacahipun dipun singkiri dening tiyang-tiyang ingkang dereng pitados. Pramila wonten pambeng ing babagan usaha, ekonomi lan sanes-sanesipun. Ananging sinaosa makaten, kasebat: “… Senajan miskin, nanging sarèhné rumangsa olèh kabegjan sing gedhé, pasamuwan-pasamuwan mau enggoné dedana ora sethithik.” (Terjemahan alkitab basa Jawi padintenan). Ing alkitab basa Inggris wonten ingkang paring terjemahan: “…but their joy was so great that they were extremely generous in their giving, even though they are very poor.” (Terjemahan alkitab basa Inggris Masa Kini). Cobi dipun gatosaken: they were extremely generous in their giving! Tiyang-tiyang punika anggenipun atur dana pisungsung kanthi patrap ekstrim! Saged ugi ing kahanan samangke, dampak perang Amerika-Israel lumawan Iran, ndadosaken gesang kita kados-kados sekeng lan kathah kirangipun. Ananging punika mboten saged dados pambeng anggen kita caos pisungsung dhumateng Gusti. Randha Sarfat, pasamuwan Korinta sampun dados tuladha supados kita mboten kapambeng dening kakirangan lan kasekengan kita. (Pdt. Em. Suyito Basuki)
PANGAJENG-AJENG ING SANG KRISTUS
29 April 2026Waosan : Filipi 3:1-16 – Saben tiyang nggadhahi pangajeng-ajeng ing gesangipun, kanthi pangangkah ing mangsa tembenipun badhe ngalami kawontenan gesang ingkang langkung sae tinimbang ing mangsa samangke utawi mangsa ingkang sampun kawuri. Pramila kita prelu langkung prayogi nggagas mangsa ingkang badhe kalampahan tinimbang mikir utawi nggetuni mangsa kapengker. Sinaosa ing mangsa kapengker kita saged nggayuh punapa ingkang kita kajengaken. Saupami kita nate ngalami mangsa kencana rukmi, ananging kita nebih saking ngarsanipun Pangeran lan boten gadhah pangajeng-ajeng. Mekaten ugi saupami nate ngalami kawontenan ingkang boten ngremenaken, kita boten prelu nggetuni kagagalan kita ing mangsa kawuri, ingkang saged ngrendhet-ngrendheti lampah gesang kita salajengipun. Rasul Paulus ingkang sewau asma Saulus, nggadhahi kalenggahan ingkang kajen keringan ing masyarakat Yahudi, minangka tiyang Farisi saking suku Benyamin, tiyang Ibrani tulen, lan nate nguya-nguya pasamuwan. Malah kepara ngaken bilih piyambakipun ngugemi Toret tanpa cacad. Sasampunipun piyambakipun kacandhak dening Gusti Yesus Kristus, rikala ing satunggaling lumampah dhateng Damsyik, piyambakipun sumarah dhumateng Sang Kristus. Sedaya gesang lan lelampahan gesangipun ing sewau dipuntilar babar pisan lan kaanggep kadosdene uwuh ingkang kedah dipunbucal. Pangakenipun mekaten: “Nanging iki kang daklakoni: kalawan nglalekake apa kang wus ana ing buriku lan manglung marang apa kang ana ing ngarepku, aku mburu marang tujuan supaya oleh ganjaran, yaiku timbalan kaswargan kang saka ing Gusti Allah ing sajrone Sang Kristus Yesus.” (Filipi 3:14). Kawontenan ingkang dipun alami dening Rasul Paulus ngemutaken dhumateng panjenengan lan kula, bilih wonten mangsa ingkang boten ngremenaken, ananging ugi wonten mangsa ingkang ngemenaken. Ing prekawis ingkang kados mekaten wonten bab ingkang prelu dipunenget, inggih punika bilih Gusti Allah ing Sang Kristus sampun ngribah ener gesang kita tumuju dhateng gesang tentrem rahayu. Sewau kita gesang kangge dhiri pribadi mawon, dene samenika gesang sesarengan kaliyan Sang Kristus ingkang saged ndayani kasaenan dhumateng tiyang kathah. Gesang kita samenika kaasta kagem kamulyanipun Gusti Allah ing Sang Kristus. (Iskandar MZ)
WEKEL NYAMBUT DAMEL
28 April 2026Waosan : Wulang Bebasan 26:13-16 – Saben tiyang kepengin gesangipun kacekapan. Saben tiyang sepuh inggih makaten pandonganipun dhateng Gusti tumrap lare-larenipun. Sasanesipun kula lan semah ndongakaken menggah kawilujenganipun lare ing babagan karohanen, ing saben dintenipun paling mboten kaping kalih enjang lan dalu, inggih ndongakaken kados dene pandonganipun Rama Yabes: gesangipun mugi sami luber, dipun jembaraken pengaruhipun ingkang sae, kinanthi dening Gusti, saha sami dipun tebihaken saking bilai lan sakit penyakit. (cobi dipun priksani 1 Babad 4:10) Mboten namung nggadhahi panyuwunan ing pandonga kemawon supados gesangipun manungsa kacekapan. Ananging Kitab Suci paring dhawuh supados saben tiyang punika sami wekel utawi sregep ing panyambut damel. Sampun ngantos kados dene tiyang kesed ingkang dipun cariyosaken ing Wulang Bebasan punika: tansah ajrih anggenipun badhe tumindak, klumbrak-klumbruk dhateng dipan paturon, wegahan. Namung kemawon menawi wicantenan asring umuk kados-kados ngawonaken tiyang ingkang wicaksana. Bab sadaya ingkang katindakaken dening tiyang kesed punika mboten sae. Panci menawi taksih dados lare, gesangipun ndhompleng tiyang sepuhipun, bab gesang kesed punika patosa kraos. Ananging ing tembe, rikala tiyang sepuhipun kekalih sampun katimbalan wangsul dhateng pangayunanipun Gusti, lare ingkang kesed punika badhe ngraosaken kapitunan ingkang ageng. Pramila nalikanipun tiyang sepuh taksih meger-meger, lare-lare anem kedah nilaraken watak kesed punika, kagantosa watak ingkang wekel, sregep sinau, nyambut damel, sae punika ing griya utawi wonten ing papan panyambut damelipun. Kanthi makaten gesangipun badhe kacekapan, malah kapara kaluberan. Jumbuh kaliyan pandonganipun tiyang sepuh ingkang tansah nyenyuwun gesang binerkahan tumrah dhateng para larenipun. (Pdt. Em. Suyito Basuki)
NGGINAKAKEN WEKDAL KANTHI WICAKSANA
27 April 2026Waosan : Efesus 5:15-16 – Wonten unen-unen ing pasrawungan mekaten: “Urip iki kaya mung mampir ngombe.” Tegesipun kirang langkung; gesang punika namung sekedhap, menawi katimbang kaliyan kawontenan jagad gumelar ingkang mamilyar-milyar warsa. Unen-unen punika ngemu pitutur bilih, wekdal ingkang sakedhap punika perlu kita gunaaken sasae-saenipun ing gesang. Kita prelu ngginaaken wekdal kanthi wicaksana lan murakabi, kangge nyamektaaken dhiri ing mangsa tembenipun. Punapa malih sampun ngantos kita kajebak ing lampah piawon. Pangandikanipun Kitab Suci mekaten: “Marga saka iku, padha diawas marang lakumu, aja kaya wong kang bodho, nanging dikaya wong kang pinter, lan gunakna wektu kang ana, awit jaman iki ala.” (Efesus 5:15-16). Panjenengan lan kula sampun kaparingan wekdal ingkang sami, kawan likur jam saben dintenipun. Namung saben tiyang benten-benten cara anggenipun ngginakaken wekdal punika. Kejawi wekdal kangge makarya, ngayahi jejibahan, wonten ingkang ngginakaken wekdal senggang kangge nggegulang ngelmu, maos, nekuni kekareman (hobby), lan sanesipun. Pangandika punika pemut tumrap kita, bilih kita sageda ngginakaken wekdal kanthi wicaksana. Ngginakaken wekdal sasae-saenipun kangge nglampahi jejibahan lan nggagas kawontenan ingkang badhe kalampahan tumrap gesang kita. Wekdal saged kita ginakaken kangge olah kasarasan, ngrimat kabagyan lan kesuksesan ing mangsa ingkang badhe kalampahan. Ngginakaken wekdal ingkang wicaksana kados kasebat mekaten: 1. Boten ngendhe-endhe pakaryan; upaminipun, ngendhe-endhe pakaryan ngantos benjang enjang, mangka pakaryan wau saged dipunayahi ing dinten punika. 2. Ngginaaken skala prioritas; pakaryan pundi ingkang prelu dipun ayahi langkung rumiyin. 3. Damel rancangan pakaryan kanthi jinadwal. Kejawi saking punika wonten wekdal mirunggan ingkang dipun kersaaken dening Gusti Allah ing paladosan, cundhuk kaliyan kawontenan lan talenta kita piyambak-piyambak. Sabab pawartos kabingahan inggih punika Injil, kakersakaken dening Panjenenganipun supados saged wrata ing sajagad rat, kersanipun sedaya tiyang saged mangertos pawartos punika. Kanthi mekaten tumunten kathah tiyang ingkang mangertos lan ngugemi temahan manjing pitados dhumateng Gusti Yesus Kristus, lan kapitulungan rahayu. Punika ingkang dados karsanipun Gusti Allah rawuh ing jagad. (Iskandar MZ)
