Sabtu, 30 Mei Efesus 2:1-10 2:1 Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. 2:2 Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka. 2:3 Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain. 2:4 Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, 2:5 telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita–oleh kasih karunia kamu diselamatkan– 2:6 dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, 2:7 supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. 2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. 2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya. – Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, di dalam kehidupan kita pastinya ingin mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Sehingga kita akan mengusahakan segala cara, ada yang memperbaiki kebiasaan, memperdalam kehidupan rohani, atau banyak melakukan banyak kebaikan supaya merasa lebih dekat dengan Tuhan. Tetapi di dalam Efesus 2 menunjukkan bahwa perubahan sejati bukan berasal dari usaha manusia, tetapi dari karya Allah. Kalau kita melihat disitu Rasul Paulus menggambarkan keadaan manusia tanpa Kristus yaitu sebagai mati karena pelanggaran dan dosa. Artinya secara fisik manusia hidup, tetapi secara rohani terpisah dari Allah. Kenapa terpisah? Karena dosa: manusia lebih suka mengikuti arus dunia, mengikuti keinginan diri sendiri, dan hidup tanpa arah. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ini merupakan gambaran bagaimana kondisi manusia sebelum mengenal Tuhan. Kita tidak mampu menghidupkan diri sendiri. Seperti orang mati tidak akan bangkit dengan kekuatannya sendiri, demikian juga manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya dari dosa. Di ayat 4 disitu dikatakan “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita” Ini menunjukkan bahwa ketika manusia tidak berdaya, Allah bertindak. Karena kasih Allah yang besar, Tuhan tidak membiarkan manusia tetap mengalami kematian rohani. Melalui Yesus Kristus, Allah menghidupkan kembali manusia yang mati dalam dosa. Hidup baru yang kita terima itu bukan karena usaha, prestasi, atau kebaikan manusia. Paulus menegaskan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri, karena semuanya itu berasa dari kasih Allah. Dan Paulus juga mengatakan bahwa kita adalah ciptaan Allah, diciptakan kembali di dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang telah Tuhan siapkan. Artinya, Tuhan memberi hidup baru supaya kita menjalani hidup baru. Ketika kita sudah hidup barumakan seharusnya kita mulai berubah dalam cara berpikir, berkata, dan bertindak. Tuhan rindu kita hidup benar, mengasihi sesama, mengampuni, dan menjadi berkat. Perbuatan baik bukan syarat keselamatan, tetapi buah dari hidup yang telah diperbarui Tuhan. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, melalui Efesus 2, kita diingatkan bahwa dahulu kita mati secara rohani, tetapi sekarang kita hidup oleh kasih karunia Allah. Seharusnya kita tidak lagi terikat oleh masa lalu, kerena Tuhan telah memberi kehidupan yang baru. Untuk itu, kita yang sudah menjadi manusia baru, mari kita hidup dengar rasa syukur kepada Tuhan, berjalan dalam iman, dan memuliakan Tuhan melalui kehidupan kita. Sebab di dalam Kristus, dulu kita mati, tetapi sekarang kita hidup.
DIPILIH DAN DIKASIHI TUHAN
Jumat, 29 Mei Efesus 1:3-14 1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. 1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. 1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, 1:6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. 1:7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, 1:8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. 1:9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus 1:10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. 1:11 Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya– 1:12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. 1:13 Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. 1:14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya. Setiap manusia pasti ingin dirinya itu diterima dan berharga. Sehingga banyak orang berusaha untuk membuktikan dirinya dengan keberhasilan, pekerjaan, pelayanan, bahkan pengakuan orang lain. Tetapi ketika seseorang harus gagal atau tidak dihargai didalam kehidupannya, dia akan mulai merasa bahwa dirinya itu tidak berarti bahkan tidak berharga. Namun melalui Efesus pasal 1, Rasul Paulus mengingatkan jemaat bahwa nilai hidup orang percaya tidak ditentukan oleh dunia, tetapi oleh Allah sendiri. Di ayat 1 Paulus memulai dengan pujian kepada Tuhan karena Allah telah memberkati kita dengan segala berkat di dalam Kristus. Berkat disini bukan kekayaan atau keberhasilan di dalam dunia, tetapi hubungan kita dengan Allah itu dipulihkan. Paulus berkata bahwa sebelum dunia dijadikan, Allah sudah memilih kita di dalam Kristus. Artinya kasih Tuhan kepada kita bukan reaksi terhadap kebaikan kita. Bukan juga ketika kita berubah menjadi lebih baik, Tuhan mulai mengasihi kita. Tetapi disitu dikatakan bahwa sebelum kita lahir, Tuhan sudah mengenal dan merancang hidup kita. Begitu besar kasih Tuhan di dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, yang perlu kita ingat adalah kita dipilih bukan karena kita layak, tetapi karena kasih Allah yang besar. Untuk itu, di dalam kehidupan kita seharusnya kita tidak perlu hidup dengan rasa takut ditolak oleh Tuhan. Kita tidak perlu membuktikan diri supaya kita diterima oleh Tuhan. Tetapi kita yang berdosa ini, yang tidak layak, di dalam Kristus, kita sudah diterima.Bukan hanya itu, Paulus juga menegaskan bahwa Allah mengangkat anak-anakNya. Ini menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Allah itu sangat dekat, kita itu anakNya dan Allah itu Bapa kita. Di ayat 7 Paulus juga menegaskan bahwa di dalam Kristus kita juga menerima penebusan melalui darah-Nya, yaitu pengampunan dosa. Kalau kita melihat di dalam kehidupan, masih banyak orang susah untuk melangkah maju karena masih memikirkan atau dibebani masa lalu. Ketika di dalam kehidupan kita banyak kesalahan, kegagalan, atau dosa lama itu sering membuat kita merasa tidak layak datang kepada Tuhan. Tetapi Firman Tuhan berkata bahwa di dalam Kristus kita telah diampuni. Dan Tuhan juga memberikan Roh Kudus sebagai jaminan keselamatan. Kehadiran Roh Kudus di dalam kehidupan kita menolong setiap kita ketika lemah, menguatkan ketika takut, dan memimpin kita menjalani hidup sesuai kehendak Tuhan. Melalui Efesus pasal 1 kita belajar bahwa identitas orang percaya bukan berasal dari dunia, tetapi dari Allah. Kita dipilih, dikasih, diampuni, dan dipelihara oleh Tuhan. Ketika kita memahami identitas kita, maka seharusnya hidup kita tidak lagi dikuasai rasa rendah diri, tidak berharga atau ketakutan. Untuk itu, Tuhan mengingatkan kita bahwa kita itu berharga Dimata Tuhan. Mari kita menjalani hidup dengan penuh syukur, hidup sebagai anak-anak Allah yang tahu bahwa dirinya dikasihi dan tidak pernah ditinggalkan Tuhan.
JANGAN LELAH UNTUK MENABUR, AKAN ADA WAKTU MENUAI
Kamis, 28 Mei Galatia 6:9-10 6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. 6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman. Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Dalam kehidupan ini, sering kali kita merasa lelah berbuat baik. Kita sudah berusaha menolong orang lain, hidup benar, melayani Tuhan, tetapi seolah-olah tidak ada hasil. Bahkan terkadang, kebaikan kita dibalas dengan ketidakpedulian atau bahkan kejahatan. Firman Tuhan dalam Galatia 6:9-10 mengingatkan kita: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Ayat ini adalah dorongan yang sangat kuat bagi orang percaya untuk tetap setia, sekalipun hasilnya belum terlihat. Kelelahan dalam berbuat baik adalah nyata “Janganlah kita jemu-jemu…” Rasul Paulus tidak menutup mata bahwa kelelahan itu nyata. Kita bisa lelah secara: emosi seperti tidak dihargai, rohani yang terkadang merasa kering dan membuat fisik kita menjadi lemah bahkan tidak adanya rasa untuk berbuat baik. Contoh nyata: Seorang yang terus membantu keluarganya, tetapi tidak pernah mendapat ucapan terima kasih. Tuhan mengerti kelelahan kita. Tetapi Ia memanggil kita untuk tidak menyerah. Tuhan menjanjikan waktu menuai “karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai.”. Ini adalah janji Tuhan, bukan kemungkinan. Prinsip rohani, setiap yang ditabur pasti akan dituai tetapi pasti tidak instan, tidak selalu terlihat langsung, tidak selalu dalam bentuk yang kita harapkan. Seperti seorang petani menanam benih. Setelah menanam, ia tidak menggali tanah setiap hari untuk melihat apakah benihnya tumbuh. Ia menyiram, menunggu dan percaya misalya kalau ia berhenti merawat karena tidak melihat hasil, maka ia tidak akan pernah panen. Marilah kita berbuat baik kepada semua orang, ini bukan pilihan, ini perintah untuk melakukan firman yaitu berbuat baik kepada semua orang teruama kepada kawan-kawan seiman. Artinya, kasih kita harus luas (kepada semua) tapi juga dalam (kepada sesama jemaat) menolong orang tanpa pilih kasih, menguatkan sesama jemaat dan peduli kepada yang lemah. Saudara-saudara, Firman Tuhan hari ini sederhana tapi dalam jangan lelah berbuat baik akan ada waktu menuai asal kita tidak menyerah ingat ini baik-baik, tidak ada kebaikan yang sia-sia di hadapan Tuhan. Mari kita ambil komitmen hari ini “Tuhan, saya mau tetap berbuat baik, walau lelah, walau tidak dihargai, karena saya percaya Engkau melihat dan menyediakan waktu menuai.” Amin.
KEMERDEKAAN SEJATI
Rabu, 27 Mei Galatia 5:13 Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Bapak/Ibu yang dikasihi Tuhan, Semua orang suka kata “merdeka”. Kita senang mendengar kata tersebut karena, bebas untuk memilih, bebas bertindak, bebas menjalani hidup sesuai keinginan. Tetapi sering kali, banyak manusia salah memahami arti kemerdekaan. Banyak orang berpikir merdeka berarti bebas melakukan apa saja, merdeka berarti, tidak ada batasan, merdeka berarti hidup untuk diri sendiri dan lain-lain. Kemerdekaan jika disalah artikan bisa berbahaya, kekebasan tanpa aturan dapat menjadi bencana, bahkan dapat menghancurkan kehidupan kita. Namun firman Tuhan justru memberikan pengertian yang berbeda. Rasul Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, mengingatkan bahwa kemerdekaan dalam Kristus bukanlah kebebasan untuk berbuat dosa, tetapi kebebasan untuk mengasihi dan melayani. Dalam Galatia 5:13 mengatakan bahwa “Kamu telah di panggil untuk merdeka” kemerdekaan yang dimaksud di sini adalah merdeka dari hukum Taurat yang membelenggu, dosa yang memperbudak, usaha manusia untuk menyelamatkan diri sendiri. Melalui karya keselamatan dalam Yesus Kristus, kita tidak lagi hidup dalam perhambaan dosa, tetapi menjadi anak-anak Allah. Artinya bahwa manusia tidak dapat diselamatkan karena perbuatan sendiri. Bahwa kita hidup oleh kasih karunia Allah. Ini adalah kemerdekaan rohani yang sejati. Sehingga kita tidak boleh mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kembali kepada kehidupan dalam dosa”. Paulus menyadari bahwa kemerdekaan bisa disalahgunakan. Kata “kesempatan” di sini berarti celah atau peluang untuk memuaskan keinginan daging Artinya: Jangan jadikan kasih karunia sebagai alasan untuk hidup sembarangan jangan berpikir: “Karena Tuhan mengampuni, saya bebas berbuat apa saja” Ini adalah peringatan keras: Kemerdekaan tanpa tanggung jawab akan berubah menjadi kehancuran. Rasul Paulus memberikan pesan lewat Galatia 5:13 bahwa: Jadi kemerdekaan yang kita terima bukan kesempatan untuk kita kembali ke dalam dosa, tetapi justru kita dapat pergunakan untuk melayani Tuhan dan sesama dengan kasih yang sudah kita terima dari Tuhan. Kiranya kita dapat menghidupi Firman ini dan menjadi berkat. Amin.
HIDUPLAH MENURUT ROH, BUKAN DAGING
Selasa, 26 Mei Galatia 5:19-21 5:19 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, 5:20 penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 5:21 kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu–seperti yang telah kubuat dahulu–bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. – Firman Tuhan hari ini tidak hanya mengajak kita membedakan keduanya, tetapi mengenali dengan jelas apa yang berasal dari daging dan apa yang berasal dari Roh. Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Galatia karena mereka mulai tersesat bukan hanya dalam ajaran, tetapi juga dalam kehidupan. Mereka mulai kembali kepada cara hidup lama, yaitu hidup menurut keinginan daging. Karena itu, dalam Galatia 5:19–21, Paulus dengan tegas menyebutkan daftar perbuatan daging. Ini bukan untuk menghakimi, tetapi untuk membuka mata kita agar kita sadar dan bertobat. Paulus menyebut “perbuatan daging” sebagai sesuatu yang nyata (jelas). Artinya, dosa itu tidak samar ia bisa dikenali. Daftar tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian; Dosa Moral percabulan, kecemaran dan hawa nafsu, ini berkaitan dengan ketidakmurnian hidup, khususnya dalam hal seksual dan pikiran. Dunia hari ini sering menganggap ini hal biasa, tetapi Tuhan tetap menyebutnya dosa. Selain itu dosa juga di gambarkan rusaknya hubungan manusia dengan Allah seperti penyembahan berhala. Ini menunjukkan hati yang tidak lagi mengandalkan Tuhan, tetapi mencari kuasa lain. Paulus memberikan peringatan keras menutup dengan kalimat yang sangat serius: “Barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Ini bukan sekadar peringatan ringan—ini adalah peringatan kekal. Perbuatan Daging itu nyata dan mengikat, kita tidak dapat mengatakan dosa tidak selalu terlihat “besar”. Kadang dosa dimulai dari hal kecil: iri hati, tersinggung, marah yang dipelihara. Namun jika dibiarkan, itu akan menguasai hidup kita. Perbuatan daging itu seperti rantai—awalnya longgar, tetapi lama-lama mengikat dan memperbudak.Perbuatan daging merusak relasi antara hubungan manusia dengan Tuhan merusak hubungan dengan sesama (perselisihan, iri hati) dan bahkan merusak diri sendiri (hawa nafsu, kemabukan. Dosa tidak pernah berdiri sendiri—ia selalu membawa kerusakan. Lalu bagaimana cara kita menyangkal semua perbuatan dosa tersebut dan hidup kudus.? Tuhan memberikan perintah dalam Galatia 5:19-21. Rasul Paulus mengatakan dalam suratnya “Hiduplah menurut Roh bukan menurut daging”. Kita harus belajar untuk hidup dipimpin oleh Roh Kudus ini adalah kunci agar kita dapat menang dari keinginan daging. Melalui usaha Tuhan bukan usaha kita sendiri, melalui hidup dekat dengan Tuhan, berdoa membaca firman dan merenungkan Firman Tuhan dan peka terhadap suara Roh Kudus, karena hanya Roh Kudus yang mampu mengalahkan keinginan daging. Bangun Kehidupan yang Kudus kekudusan bukan pilihan tetapi ini adalah ciri-ciri orang yang hidup dalam Kristus. Mulailah dari hal sederhana seperti menjaga pikiran, menjaga perkataan, dan menjaga sikap. Saudara-saudari, Galatia 5:19–21 adalah cermin rohani bagi kita. Firman Tuhan hari ini mengingatkan, perbuatan daging itu nyata, perbuatan daging itu merusak perbuatan daging itu berbahaya bagi keselamatan karena itu, mari kita meninggalkan hidup lama dan bertobat dengan sungguh-sungguh sehingga kehidupan dipimpin oleh Roh Kudus sehingga hidup kita tidak lagi dikuasai daging, tetapi menjadi hidup yang berkenan kepada Tuhan. Mari kita bertanya dalam hati: Apakah saya masih hidup dalam daging, atau sudah hidup dalam Roh? jika masih ada dosa, jangan tunda, datanglah kepada Tuhan hari ini. Karena Tuhan tidak hanya menunjukkan dosa tetapi juga memberi kuasa untuk menang atas dosa. Amin.
Ujian Iman dan Pemulihan dalam Kristus
Senin, 25 Mei 2 Korintus 13:1-10 13:1 Ini adalah untuk ketiga kalinya aku datang kepada kamu: Baru dengan keterangan dua atau tiga orang saksi suatu perkara sah. 13:2 Kepada mereka, yang di masa yang lampau berbuat dosa, dan kepada semua orang lain, telah kukatakan terlebih dahulu dan aku akan mengatakannya sekali lagi–sekarang pada waktu aku berjauhan dengan kamu tepat seperti pada waktu kedatanganku kedua kalinya–bahwa aku tidak akan menyayangkan mereka pada waktu aku datang lagi. 13:3 Karena kamu ingin suatu bukti, bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan aku, dan Ia tidak lemah terhadap kamu, melainkan berkuasa di tengah-tengah kamu. 13:4 Karena sekalipun Ia telah disalibkan oleh karena kelemahan, namun Ia hidup karena kuasa Allah. Memang kami adalah lemah di dalam Dia, tetapi kami akan hidup bersama-sama dengan Dia untuk kamu karena kuasa Allah. 13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji. 13:6 Tetapi aku harap, bahwa kamu tahu, bahwa bukan kami yang tidak tahan uji. 13:7 Kami berdoa kepada Allah, agar kamu jangan berbuat jahat bukan supaya kami ternyata tahan uji, melainkan supaya kamu ini boleh berbuat apa yang baik, sekalipun kami sendiri tampaknya tidak tahan uji. 13:8 Karena kami tidak dapat berbuat apa-apa melawan kebenaran; yang dapat kami perbuat ialah untuk kebenaran. 13:9 Sebab kami bersukacita, apabila kami lemah dan kamu kuat. Dan inilah yang kami doakan, yaitu supaya kamu menjadi sempurna. 13:10 Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu, supaya bila aku berada di tengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa bertindak keras menurut kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan. Ujian hidup? Hampir setiap orang tidak menyukai ujian. Ujian sering dianggap sebagai sesuatu yang menekan, menakutkan, bahkan mengancam. Apalagi ketika ujian itu berbentuk teguran atau koreksi dari orang lain, kita cenderung defensif, merasa diserang, atau berusaha membenarkan diri. Dalam kehidupan iman, hal ini juga sering terjadi. Kita aktif dalam kegiatan rohani, tetapi jarang berhenti untuk benar-benar memeriksa apakah iman kita masih hidup dan bertumbuh atau justru hanya menjadi rutinitas tanpa makna. Melalui 2 Korintus 13:1-10, Paulus membawa jemaat Korintus kepada sebuah kesadaran penting: iman harus diuji. Paulus tidak berbicara dalam konteks yang ringan, tetapi dalam situasi yang serius, di mana ada dosa yang belum dibereskan dan ada keraguan terhadap otoritasnya sebagai rasul. Ia bahkan menegaskan bahwa kedatangannya yang ketiga nanti bisa membawa tindakan tegas jika jemaat tidak berubah. Namun di balik ketegasan itu, tersimpan hati seorang gembala yang rindu akan adanya pemulihan, bukan penghukuman. Paulus mengutip prinsip “dua atau tiga saksi,” yang menunjukkan bahwa segala sesuatu harus ditangani dengan adil dan benar, bukan berdasarkan emosi atau prasangka. Ini menegaskan bahwa kehidupan iman tidak boleh dijalani secara sembarangan. Ada standar kebenaran yang harus dijaga. Namun, Paulus tidak hanya menunjuk kesalahan jemaat, melainkan mengarahkan mereka untuk melihat ke dalam diri sendiri: “Ujilah dirimu sendiri.” Ini adalah panggilan refleksi yang sangat dalam dan personal. Mengapa menguji diri itu penting? Karena sering kali kita merasa diri baik-baik saja, padahal sebenarnya kita sedang menjauh dari Tuhan. Kita bisa aktif melayani, rajin beribadah, tetapi hati kita tidak lagi terhubung dengan Kristus. Paulus bahkan memberikan ukuran yang sangat jelas: apakah Kristus ada di dalam kita? Ini bukan pertanyaan yang dangkal, tetapi menyentuh inti iman Kristen. Jika Kristus sungguh hidup dalam diri kita, maka hidup kita seharusnya mencerminkan karakter-Nya. Paulus kemudian membawa kita pada pemahaman tentang paradoks iman Kristen: kelemahan dan kuasa. Ia mengatakan bahwa Kristus disalibkan dalam kelemahan, tetapi hidup oleh kuasa Allah. Demikian juga dengan kita dalam kelemahan kita, kuasa Tuhan justru dinyatakan. Ini berarti bahwa kelemahan bukanlah alasan untuk putus asa, melainkan ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Banyak orang gagal dalam ujian iman bukan karena mereka lemah, tetapi karena mereka tidak mau membawa kelemahan itu kepada Tuhan. amin
Sukacita dalam Memberi
Minggu, 24 Mei 2 Korintus 9:6-15 9:6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. 9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. 9:9 Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” 9:10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; 9:11 kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. 9:12 Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. 9:13 Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus dan karena kemurahan hatimu dalam membagikan segala sesuatu dengan mereka dan dengan semua orang, 9:14 sedangkan di dalam doa mereka, mereka juga merindukan kamu oleh karena kasih karunia Allah yang melimpah di atas kamu. 9:15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu! Memberi? Bagi sebagian orang, memberi adalah hal yang mudah, tetapi bagi sebagian yang lain, memberi bisa terasa berat. Terlebih ketika kita merasa apa yang kita miliki masih kurang, atau ketika memberi terasa seperti kewajiban yang memaksa. Tidak jarang, memberi dilakukan dengan hati yang setengah-setengah sekadar memenuhi tuntutan, bukan sebagai ungkapan kasih. Bahkan, ada juga yang merasa takut kehilangan jika terlalu banyak memberi. Firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:6-15 mengajak kita untuk melihat memberi dari sudut pandang yang berbeda. Paulus menggunakan gambaran menabur dan menuai. Siapa yang menabur sedikit, akan menuai sedikit, dan siapa yang menabur banyak, akan menuai banyak. Ini bukan sekadar berbicara tentang jumlah, tetapi tentang sikap hati. Memberi bukanlah soal seberapa besar yang kita keluarkan, tetapi bagaimana hati kita melakukannya. Paulus menekankan bahwa setiap orang harus memberi dengan kerelaan hati, bukan karena terpaksa atau dengan sedih hati. Mengapa? Karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Di sini kita melihat bahwa yang terutama bukanlah pemberiannya, tetapi sikap hati di balik pemberian itu. Tuhan tidak membutuhkan apa yang kita miliki, tetapi Tuhan rindu melihat hati yang penuh kasih dan sukacita dalam memberi. Kita juga diperlihatkan dua realita penting. Pertama, manusia sering merasa kekurangan dan takut memberi. Kedua, Allah adalah sumber segala kecukupan yang tidak pernah kekurangan. Paulus menegaskan bahwa Allah sanggup melimpahkan kasih karunia-Nya, sehingga kita tidak hanya cukup, tetapi bahkan berkelebihan untuk melakukan berbagai kebajikan. Artinya, memberi bukan membuat kita kekurangan, justru membuka jalan bagi Allah untuk bekerja lebih besar dalam hidup kita. Hari ini kita belajar bahwa memberi adalah bagian dari kehidupan iman. Apa artinya memberi dengan benar? Memberi berarti mempercayakan apa yang kita miliki kepada Tuhan dan menggunakannya untuk menjadi berkat bagi orang lain. Ketika kita memberi, kita sedang mengambil bagian dalam pekerjaan Allah. Bahkan lebih dari itu, pemberian kita dapat menghasilkan ucapan syukur kepada Allah dari banyak orang. Memberi bukan hanya tindakan sosial, tetapi tindakan rohani. Dalam memberi, kita belajar percaya bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu. Kita juga belajar bahwa hidup kita bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk menjadi saluran berkat. Hari ini, mari kita mengintropeksi diri kita: apakah kita memberi dengan sukacita atau dengan keterpaksaan? Jangan biarkan rasa takut menguasai kita, tetapi belajarlah mempercayai Tuhan. Sebab Tuhan yang memberi kita apa yang kita miliki, juga sanggup mencukupi dan melimpahkan kembali dalam hidup kita. Akhirnya, Paulus menutup dengan ucapan syukur kepada Allah atas karunia-Nya yang tak terkatakan. Ini mengingatkan kita bahwa dasar dari segala pemberian kita adalah pemberian terbesar dari Allah sendiri. Ketika kita menyadari kasih-Nya, memberi bukan lagi beban, melainkan sukacita. Mari belajar menjadi pribadi yang murah hati, bukan karena kita mampu, tetapi karena Tuhan terlebih dahulu memberi kepada kita. Sebab di dalam memberi dengan sukacita, kita sedang mencerminkan hati Allah sendiri. Amin.
Pemulihan Melalui Pengampunan
Sabtu, 23 Mei 2 Korintus 2:5-11 2:5 Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan, maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya–supaya jangan aku melebih-lebihkan–,hati beberapa orang di antara kamu. 2:6 Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu, 2:7 sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat. 2:8 Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia. 2:9 Sebab justru itulah maksudnya aku menulis surat kepada kamu, yaitu untuk menguji kamu, apakah kamu taat dalam segala sesuatu. 2:10 Sebab barangsiapa yang kamu ampuni kesalahannya, aku mengampuninya juga. Sebab jika aku mengampuni, –seandainya ada yang harus kuampuni–,maka hal itu kubuat oleh karena kamu di hadapan Kristus, 2:11 supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya. Sakit hati? Disakiti oleh orang lain adalah pengalaman yang hampir semua orang pernah mengalaminya. Ketika seseorang berbuat salah kepada kita, apalagi dalam komunitas atau persekutuan, sering kali yang muncul adalah rasa kecewa, marah, bahkan keinginan untuk menjauh atau menghukum. Tidak jarang, luka itu terus disimpan dan menjadi beban yang melukai hati. Kita mungkin berpikir bahwa dengan tidak mengampuni, kita sedang menegakkan keadilan. Padahal tanpa sadar, kita justru sedang terjebak dalam kepahitan yang semakin dalam. Firman Tuhan dalam 2 Korintus 2:5-11 membawa kita kepada pemahaman yang berbeda. Paulus sedang berbicara tentang seseorang yang telah berbuat salah dalam jemaat. Orang itu sudah menerima hukuman atau teguran dari jemaat. Namun Paulus menegaskan bahwa hukuman saja tidak cukup harus ada langkah berikutnya, yaitu pengampunan dan penghiburan. Mengapa? Karena jika tidak, orang tersebut bisa “tenggelam dalam dukacita yang terlalu berat.” Di sini kita melihat bahwa tujuan dari disiplin bukanlah menghancurkan, melainkan memulihkan. Paulus memberikan kita dua realita penting. Pertama, kesalahan itu nyata dan perlu ditanggapi dengan serius. Kedua, kasih harus menjadi tujuan akhir. Jemaat diminta untuk tidak berhenti pada penghukuman, tetapi melangkah menuju pengampunan. Ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan orang Kristen, keadilan dan kasih harus berjalan bersama. Tanpa kasih, keadilan menjadi kejam. Tanpa keadilan, kasih menjadi dangkal. Hari ini kita belajar bahwa pengampunan adalah jalan menuju pemulihan. Apa artinya mengampuni? Mengampuni bukan berarti melupakan atau menganggap kesalahan itu tidak penting, melainkan memilih untuk tidak lagi menahan kesalahan itu sebagai beban yang mengikat. Pengampunan adalah tindakan aktif untuk melepaskan, sama seperti Kristus telah mengampuni kita. Paulus bahkan berkata bahwa ia juga mengampuni “di hadapan Kristus,” artinya pengampunan itu berakar pada relasi dengan Tuhan, bukan sekadar perasaan manusia. Menariknya, Paulus juga mengingatkan bahwa jika kita tidak mengampuni, kita memberi kesempatan kepada Iblis untuk bekerja. Artinya, ketidakmauan mengampuni bukan hanya masalah relasi antar manusia, tetapi juga membuka celah bagi kehancuran rohani. Kepahitan, dendam, dan luka yang tidak diselesaikan bisa menjadi alat yang merusak persekutuan dan iman kita. Amin.
MENSYUKURI HAL-HAL KECIL
Jumat, 22 Mei 1 Korintus 10:31 10:31 Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 10:32 Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. 10:33 Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat. Saudara-saudari yang diberkati Tuhan, Paulus tidak hanya berbicara tentang hal-hal besar yang sudah dilakukan, seperti pelayanan atau ibadah, justru dia berbicara tentang hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari, seperti makan dan minum. Paulus menegaskan bahwa campur tangan Allah dalam hal-hal kecil sama besarnya dengan campur tangan Allah pada hal-hal besar. Melakukan hal-hal kecil bukan berarti kita menjadi orang berdosa, bukan juga menunjukkan bahwa kita mempunyai pemahaman yang dangkal tentang hidup ini, sebab lautan yang dalam pun memiliki bagian yang dangkal. Bahkan hal-hal kecil dalam kehidupan, seperti makan dan minum, pakaian, jalan-jalan, atau obrolan sehari-hari, Allah ikut berperan juga di dalamnya. Karena Ia juga pernah melakukan hal-hal tersebut. Kita harus menyadari bahwa hidup yang kita jalani saat ini bukan hanya tantang hal-hal besar. Bukan hanya tentang seberapa banyak pelayanan yang sudah kita lakukan, atau berapa banyak kegiatan rohani yang sudah kita ikuti. Tetapi justru tentang hal-hal kecil yang dianggap sepele. Saat kita hendak makan, kita menundukkan kepala sejenak. Ini bukan sekadar kebiasaan, ini merupakan kesadaran bahwa makanan di hadapan kita bukan hanya sebagai pengisi perut, tetapi menyadari bahwa itu adalah berkat. Dan ketika kita mengucapkan syukur, kita sedang memuliakan Tuhan. Kita selalu dikelilingi oleh hal-hal kecil dalam hidup ini. Kita hidup dalam dunia yang nyata, berpikir dan bertindak menggunakan akal sehat. Karena itu sekecil apapun yang harus kita lakukan, lakukanlah itu bukan untuk mencari pujian manusia, tetapi lakukanlah untuk menyenangkan hati Tuhan dan memuliakan Dia sebagai sang pemberi segala sesuatu. Kerjakanlah hal-hal kecil dengan sungguh-sungguh, dengan jujur, dan dengan hati yang benar. bukan karena kita diawasi oleh manusia, tetapi karena kita menyadari segala sesuatu yang kita kerjakan, Tuhan selalu melihatnya. Sehingga dalam kesungguhan itulah, Tuhan dimuliakan. Memuliakan Tuhan bukan tentang melakukan hal yang besar, tetapi tentang melakukan apa yang dianggap kecil/sepele dengan hati yang benar setiap hari. Amin
KERJAKAN PANGGILANMU
Kamis, 21 Mei 1 Koritus 9:16 9:16 Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. 9:17 Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. 9:18 Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. Saudara-saudari yang diberkati Tuhan, Ketika kita dipanggil untuk melayani Tuhan, apa yang terlintas di dalam benak kita? Sukacita atau penderitaan? Hal ini jugalah yang dirasakan oleh Paulus. Baginya, panggilan untuk memberitakan Injil bukan sekadar panggilan yang biasa saja. Paulus menunjuk pada rasa sedih yang dalam, yang timbul dalam dirinya oleh kekuatan yang mendesak dari panggilan untuk memberitakan injil. “..celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”. Paulus menyadari bahwa hidupnya bukan lagi milik dirinya sendiri, hidupnya milik Allah. Ada amanat yang harus disampaikan, ada kabar baik yang tidak boleh disimpan sendiri. Karena itu, satu-satunya alasan dalam kehidupan Paulus adalah memberitakan Injil. Dia menyambut kepedihan, kekecewaan, dan penderitaan untuk satu alasan, yaitu pengapdiannya kepada Injil Yesus Kristus. Panggilan untuk memberitakan Injil, haruslah dilakukan dengan penyerahan diri secara total kepada Tuhan. Setiap kita yang dipanggil untuk memberitakan Injil, harus menanggalkan ambisi, keegoisan, kecongkakan, dan hasrat duniawi kita. Panggilan memberitakan Injil berarti siap merendahkan diri dan mengalami penderitaan. Hal inilah yang seringkali membuat kita merasa takut menjalani “panggilan Tuhan” untuk memberitakan Injil. Kita takut ditolak, takut dianggap aneh, takut salah, bahkan takut mati. Karena itulah, Paulus mengingatkan kita, bahwa orang yang dipanggil untuk memberitakan Injil harus memiliki komitmen untuk hidup dengan tujuan menjadi terang dan taat pada panggilan Tuhan. Sama seperti Paulus yang tetap taat menjalani panggilannya, sekalipun banyak tantangan, penolakan, bahkan penderitaan yang dialami. Namun, semua itu tidak menghentikan niatnya untuk memberitakan Injil. Injil yang diberitakan tidak harus berdiri di mimbar dengan kata-kata yang indah, tetapi dengan tindakan nyata yang mencerminkan kasih Kristus. Orang mungkin tidak selalu mendengar apa yang kita katakan, tetapi mereka bisa melihat bagaimana cara hidup kita. Hidup yang mencerminkan kasih, hidup yang menjadi pembawa damai, hidup yang menunjukkan pengampunan. Waspadalah terhadap penolakan untuk mendengar panggilan Allah. Setiap kita yang sudah diselamatkan dipanggil untuk bersaksi bukan hanya melalui kata, tetapi melalui perbuatan. Itulah panggilan kita sebagai orang percaya. Amin!
