Sabtu, 9 Mei Lukas 23:44–46 23:44 Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, 23:45 sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir Bait Suci terbelah dua. 23:46 Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring: “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Dan sesudah berkata demikian Ia menyerahkan nyawa-Nya. 23:47 Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia memuliakan Allah, katanya: “Sungguh, orang ini adalah orang benar!” 23:48 Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk tontonan itu, melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri. 23:49 Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, melalui Lukas 23:44–46 kita diajak masuk ke dalam sebuah peristiwa yang sangat kelam sekaligus penuh makna. Pada saat itu kira-kira pukul dua belas siang, waktu di mana seharusnya terang menyinari bumi. Namun yang terjadi justru sebaliknya: kegelapan menyelimuti seluruh daerah itu hingga pukul tiga. Di tengah suasana yang mencekam itu, Yesus Kristus tergantung di kayu salib, menanggung penderitaan yang begitu dalam, baik secara fisik maupun batin. Saudara-saudari, yang membuat momen ini semakin berat adalah seolah-olah tidak ada respon dari surga. Tidak ada suara, tidak ada pertolongan, tidak ada intervensi. Tuhan tampak diam. Bagi manusia, ini membingungkan. Bukankah Yesus adalah Anak Allah? Mengapa Bapa tidak bertindak? Mengapa Ia seakan membiarkan semua ini terjadi? Justru di tengah apa yang tampak sebagai “keheningan” itu, karya terbesar sedang berlangsung. Tabir Bait Suci terbelah dua, menandakan bahwa penghalang antara manusia dengan Allah kini telah disingkirkan. Jalan keselamatan dibukakan. Apa yang terlihat seperti kekalahan, ternyata adalah kemenangan. Apa yang tampak sebagai diamnya Tuhan, justru adalah bagian dari rencana-Nya yang sempurna. Di saat-saat terakhir-Nya, Yesus berseru, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Ini bukan seruan keputusasaan, melainkan sebuah penyerahan total. Dalam situasi yang gelap dan sunyi, Yesus tetap percaya kepada Bapa. Ia tidak kehilangan iman, sekalipun keadaan di sekeliling-Nya tampak tanpa harapan. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih, sering kali dalam kehidupan kita pun mengalami hal yang serupa. Kita berdoa, tetapi seolah tidak ada jawaban. Kita menanti, tetapi tidak ada perubahan. Kita berharap, tetapi Tuhan terasa jauh, bahkan diam. Namun melalui firman Tuhan ini, kita diingatkan bahwa diamnya Tuhan bukan berarti Ia tidak hadir. Keheningan-Nya bukan berarti Ia berhenti bekerja. Justru di saat-saat seperti itu, Tuhan sering sedang mengerjakan sesuatu yang lebih besar dari apa yang kita pahami. Ia sedang membentuk iman kita, memperdalam kepercayaan kita, dan menggenapi rencana-Nya dengan cara yang sering kali melampaui pengertian kita. Tuhan tidak hanya mencari iman ketika segala sesuatu jelas, tetapi iman yang tetap bertahan ketika segala sesuatu terasa gelap. Terkadang, ketika Tuhan terasa diam, jangan cepat menyerah begitu saja. Tetaplah percaya. Sebab di balik keheningan itu, Tuhan tetap bekerja. Ia tidak pernah meninggalkan, Ia tidak pernah lalai, dan Ia tidak pernah berhenti menggenapi rencanaNya dalam hidup kita.
Kegagalan yang Menguatkan
Jumat, 8 Mei Lukas 22:31–32 22:31 Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, 22:32 tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, Lukas 22:31–32 kita mendapati sebuah momen yang sangat menyentuh. Di saat-saat terakhir sebelum penderitaanNya, Yesus berbicara kepada Simon Petrus bukan dengan janji kenikmatan duniawi melainkan dengan sebuah peringatan. Ia menyatakan bahwa Petrus akan mengalami kegoncangan iman, bahkan akan jatuh. Ini bukan hal yang mudah kita terima, apalagi bagi seorang murid yang begitu dekat dengan Yesus. Namun di tengah peringatan itu, terselip sebuah kalimat yang penuh pengharapan. Yesus berkata, “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur.” Artinya, kegagalan memang akan terjadi, tetapi iman Petrus tidak akan hancur. Ada jaminan bahwa di balik kejatuhan itu, Tuhan tetap memegang hidupnya. Bahkan Yesus menambahkan, “Dan jika engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Ini menunjukkan bahwa kegagalan Petrus bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses yang akan dipakai Tuhan. Saudara-saudari, dari sini kita belajar bahwa kegagalan dalam hidup bukan sekadar jatuh, tetapi bisa menjadi titik balik yang membentuk. Petrus memang gagal bahkan ia menyangkal Yesus. Namun ia tidak berhenti di sana. Ia bertobat, dipulihkan, dan kemudian dipakai Tuhan secara luar biasa untuk menguatkan banyak orang. Apa yang dulu menjadi kelemahannya, justru diubah Tuhan menjadi kekuatan dalam pelayanannya. Sering kali kita memandang kegagalan sebagai sesuatu yang memalukan, sesuatu yang harus disembunyikan. Kita merasa bahwa ketika kita gagal, berarti kita tidak layak, tidak cukup baik, bahkan tidak berguna. Tetapi melalui kisah Petrus, firman Tuhan mengoreksi cara pandang kita. Tuhan tidak menolak orang yang gagal. Sebaliknya, Ia membentuk dan memulihkan mereka. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih, kegagalan yang kita alami hari ini tidak harus menjadi akhir dari perjalanan iman kita. Justru di tangan Tuhan, kegagalan dapat menjadi sarana pembentukan. Melalui kegagalan, Tuhan merendahkan hati kita, mengajar kita untuk bergantung kepada-Nya, dan mempersiapkan kita menjadi berkat bagi orang lain. Jangan berhenti hanya karena pernah jatuh. Datanglah kembali kepada Tuhan. Sebab kegagalan yang diserahkan kepada-Nya tidak akan menghancurkan iman, tetapi justru memurnikannya dan membawa kita kepada kehidupan yang lebih kuat di dalam Dia.
Iman yang Berdampak Besar
Kamis, 7 Mei Bacaan: Lukas 17:11–19 17:11 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. 17:12 Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh 17:13 dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” 17:14 Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. 17:15 Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, 17:16 lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. 17:17 Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? 17:18 Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” 17:19 Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih di dalam Tuhan, melalui Injil Lukas 17:11–19 kita melihat sebuah kisah yang sederhana namun sangat dalam maknanya. Diceritakan bahwa ada sepuluh orang kusta yang berdiri dari jauh ketika melihat Yesus. Mereka tidak berani mendekat, karena pada masa itu penyakit kusta bukan hanya persoalan fisik, tetapi juga membuat seseorang dianggap najis, dijauhi, bahkan terasing dari kehidupan sosial dan keagamaan. Namun di tengah keterasingan itu, mereka masih memiliki satu hal yang tidak hilang, yaitu harapan. Dengan penuh kerendahan hati mereka berseru, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Saudara-saudari, menarik untuk kita perhatikan bahwa Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka saat itu juga. Ia justru memberi perintah, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Perintah ini bukan hal yang mudah, sebab saat itu kondisi mereka masih sakit. Artinya, mereka diminta untuk melangkah dalam iman, bukan berdasarkan apa yang mereka lihat atau rasakan. Dan di sinilah letak kuncinya: mereka taat. Mereka berjalan, dan justru dalam perjalanan itulah mereka menjadi tahir—dipulihkan sepenuhnya, baik secara fisik, diterima kembali secara sosial, bahkan iman mereka disentuh oleh kuasa Tuhan. Kesembuhan terjadi bukan saat mereka diam, tetapi saat mereka melangkah dalam ketaatan. Namun dari sepuluh orang itu, hanya satu yang kembali. Ia datang dengan hati yang penuh syukur, memuliakan Allah, dan tersungkur di hadapan Yesus. Yang mengejutkan, orang ini adalah seorang Samaria, seseorang yang biasanya dipandang rendah oleh orang Yahudi. Tetapi justru dialah yang menunjukkan respons iman yang sejati. Kepadanya Yesus berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Ini menunjukkan bahwa ada perbedaan antara sekadar menerima kesembuhan dan mengalami keselamatan yang sebenarnya. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang terkasih, melalui peristiwa ini kita belajar bahwa iman, sekalipun sederhana, memiliki kuasa yang besar. Sepuluh orang mengalami kesembuhan, tetapi hanya satu yang mengalami relasi yang dipulihkan dengan Tuhan. Iman yang sejati bukan hanya tentang percaya untuk menerima pertolongan, tetapi juga tentang ketaatan untuk melangkah dan kerendahan hati untuk kembali bersyukur. Sering kali dalam kehidupan kita pun demikian. Kita datang kepada Tuhan ketika membutuhkan sesuatu. Kita berdoa, kita berharap, dan Tuhan menjawab. Tetapi setelah menerima jawaban itu, kita sering kali melanjutkan hidup tanpa kembali kepada-Nya. Kita menikmati berkat, tetapi melupakan Sang Pemberi berkat. Kita fokus pada apa yang kita terima, tetapi kehilangan keintiman dengan Tuhan. Melalui firman Tuhan hari ini, kita diingatkan bahwa iman bukan hanya tentang menerima, tetapi juga tentang kembali. Kembali untuk mengucap syukur, kembali untuk memuliakan Tuhan, dan kembali untuk hidup dalam relasi yang dekat dengan-Nya. Sebab pada akhirnya, yang Tuhan kehendaki bukan hanya kita mengalami pertolongan-Nya, tetapi kita hidup bersama-Nya.
Besar Dalam Cara Tuhan
Rabu, 6 Mei Markus 9:33-37 9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” 9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. 9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” 9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: 9:37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” Memiliki pengikut dalam media sosial, kepemilikan harta, dan kepemilikan barang mewah, memiliki jabatan tertentu menjadi tolok ukur seseorang dianggap “besar” pada masa modern. Yang menjadikan, orang-orang saat ini mencoba berbagai hal untuk mencapai apa yang dianggap dunia penting. Dalam kehidupan saat-saat ini, ada berbagai contoh nyata di dalam kehidupan; seperti membeli pengikut untuk memiliki jumlah yang besar, korupsi yang masih merajalela, dan suap menyuap untuk mencapai jabatan tertentu. Demikian pula, dalam kehidupan iman sebagai orang percaya. Seringkali secara tidak sadar masuk ke dalam kehidupan pelayanan, masih ada pelayan yang mungkin yang hanya ingin “tampil”, ingin dilihat banyak orang, serta untuk mencapai posisi tertentu. Dalam bacaan Markus 9:33-37, menceritakan bagaimana para murid, terjebak kepada mencari siapa yang terbesar di dalam komunitas murid Kristus. Bahkan, menjadi sebuah pertengkaran dalam para murid sepanjang perjalanan menuju Kapernaum. Tetapi, Yesus membuat pembalikan pola pikir para murid, Yesus berkata: Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya. Tidak hanya sampai pada dalam perkataan saja, tetapi dengan Yesus melanjutkan kepada simbol anak yang dimunculkan. Bahwa, anak yang dianggap tidak penting pada masa itu, menjadi penting dengan menjelaskan bahwa hal yang kekal bukan berdasarkan status, kepemilikan, dan pengikut. Tetapi, berasaskan kepada kerendahanhati dan melayani. Dari bacaan ini, kita bertanya dalam hati kita secara jujur merenungkan apakah dalam perjalanan iman, apakah pelayanan yang kita lakukan untuk Tuhan, atau untuk dilihat oleh orang? Oleh sebab itu, mari kita bersama belajar menjadi besar menurut cara Tuhan. Dengan melayani dengan kerendahanhati. Serta, menghidupi gaya hidup yang ugahari, yang mengusung gaya hidup yang sederhana, tidak berlebihan, bukan berarti kita tidak boleh memiliki harta, atau memiliki jabatan tertentu. Tetapi, menjalani hal itu dengan bertanggung jawab dalam setiap hal yang dipercayakan dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan pelayanan dengan kerendahan hati dan nilai keugaharian, kita hidup dalam nilai kerajaan Allah.
Kekuatan dari Keheningan
Selasa, 5 Mei Markus 1:35 1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. 1:36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia; 1:37 waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” 1:38 Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” 1:39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan. Di zaman modern kita mengenal sebuah gaya hidup Hustle Culture. Secara, garis besar Hustle Culture adalah budaya gaya hidup yang “gila”kerja yang memprioritaskan produktivitas ekstream. Di mana seseorang merasa harus bekerja keras tanpa henti untuk mencapai kesuksesan. Memang budaya ini bukanlah hal baru di zaman ini, karena Hustle Culture, memiliki akar dari era Revolusi Industri dengan istilah Workaholic. Budaya ini, menjadi momok bagi orang-orang percaya saat ini. Bukan berarti, sebagai orang percaya tidak perlu memerhatikan pekerjaan, memerhatikan tanggung jawab sebagai manusia. Namun, ada satu kebutuhan dasar sebagai orang percaya yang sering terabaikan, yakni waktu untuk berdiam diri bersama Tuhan. Dalam Markus 1:35 mencatat bahwa di pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap. Yesus bangun dan pergi ke tempat yang hening untuk berdoa. Meskipun, pelayanan di dunia sangat padat, Ia tetap memprioritaskan relasi Pribadi-Nya dengan Bapa. Ia tidak menunggu waktu luang, tetapi dengan sengaja menyediakan waktu khusus untuk bersekutu dengan Bapa. Dengan hal ini, Yesus menjadi teladan dalam kemanusiaan-Nya. Ia memahami, dan mengerti maksud dan tujuan Allah dalam kehidupan-Nya di dunia. Akan tetapi, dari relasi Pribadi-Nya dengan Bapa, Ia mendapatkan kekuatan, arah, dan keteguhan dalam ia menjalani panggilan-Nya di dunia. Dari bacaan saat ini, kita diundang untuk menata prioritas hidup kita. Di tengah budaya Hustle Culture di dunia saat-saat ini, tidak membuat kita tidak memiliki Relasi intim dengan Allah. Tetapi, seperti Yesus yang sudah memberikan teladan bagi umat-Nya, terus menyiapkan waktu agar tetap dikuatkan, memiliki arah, dan keteguhan dalam mejalani hidup dan kehidupan. Mari, sebagai orang percaya, mulai dengan langkah sederhana, bangun lebih pagi dan menyiapkan wakttu untuk berdoa dan merenunkan Firman Tuhan. Karena, dalam keheningan bersama Allah, kita mendapatkan kekuatan baru untuk menjalani kehidupan sebagai orang percaya, terlebih mendapatkan kebijaksanaan dalam menghadapi setiap pergumulan hidup sesehari.
Melihat Dengan Jelas
Senin, 4 Mei Markus 8:22-26 8:22 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. 8:23 Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: “Sudahkah kaulihat sesuatu?” 8:24 Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: “Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.” 8:25 Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. 8:26 Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: “Jangan masuk ke kampung!” Dalam Perjalanan Kehidupan manusia, sering kali kita bertemu dengan kata proses. Kata proses menurut KBBI adalah runutan peristiwa dalam perkembangan sesuatu. Dengan kata lain, proses ini menjadi sebuah peristiwa yang tidak bisa dipangkas dan tidak bisa terjadi dengan singkat. Apabila, mengambil contoh nyata dalam kehidupan manusia, sejak lahir sampai dengan mati. Ada banyak rangkaian kehidupan yang harus dilalui dan tidak bisa dihindari. Yang pada akhirnya membentuk kualitas dari pribadi tersebut. Demikian pula dari bacaan saat ini, dalam Markus 8:22-26. Menceritakan tentang seorang buta yang disembuhkan oleh Yesus. Menariknya, peristiwa penyembuhan ini tidak langsung atau secara instan, melainkan ada prosesnya. Proses di sini bukan, proses yang berhari-hari atau berbulan-bulan. Tetapi, Yesus menyentuh orang buta tersebut, sebanyak dua kali. Pada awal Yesus menyentuh, orang buta itu berkata, bahwa ia melihat orang-orang seperti pohon yang berjalan. Tetapi, setelah Yesus menyentuhnya kembali, ia baru melihat segala sesuatu dengan jelas. Dengan demikian, ada hal yang ingin kita refleksikan bersama, seringkali Allah bekerja melalui setiap proses dalam kehidupan orang percaya. Proses yang di alami tidaklah selalu mulus dan mudah. Juga, ada tantangan dan kesulitan, yang mungkin orang percaya hadapi. Dalam hal ini, yang dapat kita pelajari dari seorang buta dalam bacaan adalah sikap percaya penuh kepada Kristus. Karena, Yesus tidak hanya berhenti pada sentuhan yang pertama, tetapi dilanjutkan pada sentuhan yang kedua. Begitu juga, dengan kehidupan sebagai orang percaya, mungkin masih ada kekhawatiran, kesamaran dalam kehidupan iman percaya. Tetapi, melalui bacaan saat ini, sebagai orang percaya diingatkan bahwa Allah akan menuntun setiap proses kehidupan orang percaya, sampai kepada iman dan pikiran kita dapat melihat dengan jelas tentang maksud dan tujuan Allah dalam kehidupan sebagai orang percaya. Mari, sebagai umat percaya sudah seyogyanya menyerahkan seluruh proses kehidupan kita, agar dapat melihat dengan jelas apa yang ingin Allah kerjakan melalui kehidupan kita.
Melayani, Bukan Dilayani
Minggu, 3 Mei ( Matius 20:20-28 ) 20:20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 20:21 Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” 20:22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Kata mereka kepada-Nya: “Kami dapat.” 20:23 Yesus berkata kepada mereka: “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.” 20:24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 20:25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 20:26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, 20:27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 20:28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Renungan hari ini membawa kita pada sebuah peristiwa yang sangat manusiawi, di mana ibu dari Yakobus dan Yohanes datang kepada Yesus untuk meminta kedudukan istimewa bagi anak-anaknya. Ia berharap agar kedua putranya bisa duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus saat Ia memerintah nanti. Permintaan ini mencerminkan ambisi yang sering kita miliki: keinginan untuk menjadi yang terhebat, dihormati, dan memiliki kuasa atas orang lain. Namun, Yesus justru memberikan jawaban yang membalikkan pemikiran dunia. Ia menjelaskan bahwa di dalam Kerajaan Allah, kehormatan tidak diukur dari jabatan, melainkan dari kesediaan untuk berkorban. Ketika murid-murid yang lain mendengar permintaan itu, mereka menjadi marah. Kemarahan mereka menunjukkan bahwa sebenarnya mereka pun memiliki keinginan yang sama untuk menjadi yang utama. Di sinilah Yesus memberikan pengajaran yang sangat mendalam bagi kita semua. Ia mengatakan bahwa jika di dunia ini para penguasa memerintah dengan tangan besi dan senang pamer kuasa, maka di antara pengikut-Nya hal itu tidak boleh terjadi. Bagi Yesus, siapa yang ingin menjadi besar, ia harus menjadi pelayan, dan siapa yang ingin menjadi yang pertama, ia harus menjadi hamba bagi sesamanya. Pesan ini sangat relevan bagi kehidupan kita sehari-hari, baik di dalam keluarga, tempat kerja, maupun lingkungan sosial. Sering kali kita merasa gengsi untuk melayani atau merasa rendah jika harus mengalah. Kita sering mengejar pengakuan dan ingin dilayani oleh orang lain. Namun, Yesus mengingatkan bahwa kebesaran hidup yang sejati ditemukan saat kita mau merendahkan hati untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Menjadi pelayan berarti peduli pada kebutuhan orang di sekitar kita dan tidak hanya memikirkan keuntungan diri sendiri. Sebagai teladan utama, Yesus menutup percakapan itu dengan mengingatkan tujuan kedatangan-Nya ke dunia. Ia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Jika Sang Guru saja mau merendahkan diri sedemikian rupa, maka kita pun diajak untuk melakukan hal yang sama. Mari kita belajar untuk tidak lagi berebut tempat terdepan demi pujian, melainkan berebut kesempatan untuk menjadi berkat bagi sesama. Sebab pada akhirnya, yang paling berharga di mata Tuhan bukanlah seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa besar kasih yang kita berikan melalui pelayanan yang tulus. Amin.
Mengampuni Tanpa Batas
Sabtu, 2 Mei ( Matius 18:21-35 ) – Renungan hari ini mengajak kita menyelami samudera pengampunan melalui percakapan antara Petrus dan Yesus. Petrus, yang mungkin merasa sudah sangat murah hati, bertanya apakah mengampuni tujuh kali sudah cukup. Namun, jawaban Yesus meruntuhkan batasan angka tersebut dengan menyebut “tujuh puluh kali tujuh kali,” yang secara simbolis berarti pengampunan tanpa batas. Melalui perumpamaan tentang hamba yang berutang sepuluh ribu talenta, Yesus memperlihatkan kontras yang tajam antara kasih karunia Allah yang tak terukur dengan kekerdilan hati manusia. Bayangkan seorang hamba yang utangnya setara dengan ribuan tahun upah kerja, sebuah jumlah yang mustahil untuk dilunasi seumur hidup. Ketika raja dalam perumpamaan itu menghapuskan seluruh utang tersebut hanya karena belas kasihan, hamba itu menerima kemerdekaan yang luar biasa. Namun, ironisnya, hamba yang sama justru mencekik sesamanya hanya karena utang yang sangat kecil. Ia lupa bahwa dirinya baru saja diselamatkan dari kehancuran total oleh kemurahan hati tuannya. Ketidakmampuannya untuk menyalurkan pengampunan yang telah ia terima menjadi bukti bahwa ia belum benar-benar menghargai besarnya anugerah yang diberikan kepadanya. Kisah ini menjadi cermin bagi kehidupan kita sehari-hari. Sering kali kita merasa sulit melepaskan pengampunan karena kita terlalu fokus pada luka yang ditimbulkan orang lain kepada kita, namun lupa pada “utang dosa” kita sendiri yang telah ditebus sepenuhnya oleh Kristus di kayu salib. Pengampunan sejati bukan sekadar tindakan moral, melainkan respons alami dari hati yang menyadari betapa besarnya ampunan yang telah Tuhan berikan bagi kita. Jika kita menutup pintu maaf bagi sesama, kita sebenarnya sedang membangun tembok bagi diri kita sendiri dan menolak prinsip kasih yang menjadi fondasi hubungan kita dengan Bapa. Oleh karena itu kita diingatkan bahwa mengampuni dengan segenap hati adalah perintah yang tidak bisa ditawar. Tuhan tidak meminta kita menghitung berapa kali seseorang menyakiti kita, melainkan meminta kita mengingat berapa kali Ia telah memulihkan kita. Ketika kita melepaskan pengampunan, kita tidak sedang membenarkan kesalahan orang lain, melainkan sedang membebaskan hati kita agar tetap selaras dengan kasih Allah yang tak terbatas. Marilah kita belajar untuk tidak menjadi hamba yang tidak tahu berterima kasih, melainkan menjadi saluran berkat yang membagikan kasih karunia yang telah kita terima secara cuma-cuma. Amin
Intropeksi Diri
Jumat, 1 Mei ( Matius 7:1-5 ) – Salah satu keunikan yang dimiliki oleh manusia adalah mudah menilai sesuatu berdasarkan apa yang kelihatan di depan mata, tanpa mau melihat jauh ke belakang tentang apa dan mengapa. Kemungkinan besar profesi sebagai hakim terhadap sesamanya itu dimiliki oleh setiap kita. Contoh sederhana : Ketika kita mendapati orang lain melakukan sebuah kesalahan, dengan cepat mulut kita mencibir dan menyalahkan, sikap kita menjauh dan mengucilkan. Hanya sedikit yang mencoba mendekat dan merangkul. Firman Tuhan pagi hari ini mengajak kita untuk ‘jangan menghakimi’. Larangan menghakimi bukan berarti tidak boleh menilai sama sekali. Tuhan Yesus tidak sedang melarang kita membedakan yang benar dan salah. Tetapi Yesus melarang sikap menghakimi yang arogan, menghukum dan merendahkan orang lain. Seakan-akan kita yang paling benar. Karena ukuran yang kita pakai untuk menghakimi, itu akan kembali kepada kita – seperti hukum tabur tuai: Jika kita mudah menghakimi orang lain, hal itu juga yang akan kita terima. Dan sebaliknya, jika kita penuh kasih dan mudah mengampuni maka hal itu juga yang akan kita terima. Tuhan Yesus menggunakan selumbar [kayu kecil] dan balok [kayu besar] sebagai ilustrasi: bahwa sering kali kita sibuk melihat kesalahan kecil orang lain, padahal kesalahan kita sendiri jauh lebih besar. Di ayat 5 Tuhan mengajak kita untuk intropeksi diri: Sebelum kita menilai [menegur atau menasehati] orang lain, alangkah baiknya kita bercermin terlebih dahulu, memeriksa diri sendiri, bertobat kemudian memperbaiki hidup kita. Supaya kita dapat menolong orang lain dengan hati yang benar. Sebab penghakiman adalah Haknya Tuhan, tugas kita adalah mengasihi sesama kita dengan tidak menjadi hakim atas mereka.Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk melakukan firman Tuhan. Amin
MISUNGSUNG ING KAHANAN WINATES
30 April 2026Waosan : 2 Korinta 8:2 Kaserat Ing Prajanjian Lami, satunggaling randha ingkang manggen ing kitha Sarfat. Randha punika gesang kacingkrangan. Ing kahanan pailan, piyambakipun namung gadhah glepung gandum sagenggem lan lisah wonten ing botol alit. Nabi Elia awit dhawuhipun Gusti Allah, kapurih ndugeni randha Sarfat punika. Ingkang dados pangeram-eram, randha punika awit imanipun dhumateng Gusti Allah, saged dados lantaran berkah tumrap Nabi Elia. Kasebat nilih randha Sarfat punika atur pangrimat dhateng Nabi Elia ngantos mangsa pailan punika rampung. Sinaosa kahanan ingkang winates, ananging mboten dados pambeng tumrap randha punika mbiyantu kasekengan tiyang sanes. (1 Raja 17:10-16) Kawontenan pasamuwan ing Korinta nandhang kasekengan. Bab punika kalampahan saged ugi tiyang-tiyang Kristen ingkang nembe sakedhik cacahipun dipun singkiri dening tiyang-tiyang ingkang dereng pitados. Pramila wonten pambeng ing babagan usaha, ekonomi lan sanes-sanesipun. Ananging sinaosa makaten, kasebat: “… Senajan miskin, nanging sarèhné rumangsa olèh kabegjan sing gedhé, pasamuwan-pasamuwan mau enggoné dedana ora sethithik.” (Terjemahan alkitab basa Jawi padintenan). Ing alkitab basa Inggris wonten ingkang paring terjemahan: “…but their joy was so great that they were extremely generous in their giving, even though they are very poor.” (Terjemahan alkitab basa Inggris Masa Kini). Cobi dipun gatosaken: they were extremely generous in their giving! Tiyang-tiyang punika anggenipun atur dana pisungsung kanthi patrap ekstrim! Saged ugi ing kahanan samangke, dampak perang Amerika-Israel lumawan Iran, ndadosaken gesang kita kados-kados sekeng lan kathah kirangipun. Ananging punika mboten saged dados pambeng anggen kita caos pisungsung dhumateng Gusti. Randha Sarfat, pasamuwan Korinta sampun dados tuladha supados kita mboten kapambeng dening kakirangan lan kasekengan kita. (Pdt. Em. Suyito Basuki)
